Ketukan di Pintu.

1140 Words

​ ​“Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, Zumena,” bisik Jafran, mencium dahi Zumena. “Kamu berhasil melarikan diri untuk beberapa jam.” ​Zumena membuka matanya, dan di sana, Jafran melihat bukan rasa syukur, melainkan ketakutan yang tulus. ​“Aku harus pergi, Jafran,” Zumena berkata, suaranya terputus-putus. Ia mulai bergerak untuk bangkit. ​Jafran menahannya. “Kenapa buru-buru? Aku sudah menenangkan Ayahmu dengan pesan bisnis palsu.” ​“Bukan Ayahku. Nicholas,” Zumena berbisik, air mata mulai menggenang. “Aku takut dia curiga. Dia tidak pernah membiarkanku pergi semudah ini. Dia mungkin sudah tahu.” ​Jafran memeluknya lebih erat. “Dia tidak tahu. Dan jika dia tahu, dia akan menghadapiku, bukan lari. Dia CEO Otomotif, Zumena, bukan bodyguard.” ​“Kamu tidak mengerti dia,” Zumena me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD