“Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, Zumena,” bisik Jafran, mencium dahi Zumena. “Kamu berhasil melarikan diri untuk beberapa jam.” Zumena membuka matanya, dan di sana, Jafran melihat bukan rasa syukur, melainkan ketakutan yang tulus. “Aku harus pergi, Jafran,” Zumena berkata, suaranya terputus-putus. Ia mulai bergerak untuk bangkit. Jafran menahannya. “Kenapa buru-buru? Aku sudah menenangkan Ayahmu dengan pesan bisnis palsu.” “Bukan Ayahku. Nicholas,” Zumena berbisik, air mata mulai menggenang. “Aku takut dia curiga. Dia tidak pernah membiarkanku pergi semudah ini. Dia mungkin sudah tahu.” Jafran memeluknya lebih erat. “Dia tidak tahu. Dan jika dia tahu, dia akan menghadapiku, bukan lari. Dia CEO Otomotif, Zumena, bukan bodyguard.” “Kamu tidak mengerti dia,” Zumena me

