36

1329 Words

Arjuna berdiri di tengah apartemen yang kosong itu dengan tatapan kosong. Suara detak jam dinding yang monoton terdengar begitu menusuk di telinganya. Ia melangkah perlahan, menyusuri setiap sudut ruangan yang dulu penuh dengan kehangatan bersama Bianca. Sofa masih ada di tempatnya, tapi ditutupi debu. Gelas kopi yang dulu sering dipakai Bianca sudah tidak ada. Meja rias di kamar juga kosong, tanpa sebotol pun parfum atau kosmetik yang biasanya berserakan. "Bianca …" suara Arjuna bergetar, ia memanggil dengan penuh harap. "Sayang … aku pulang." Tapi tak ada jawaban. Tak ada tawa lembut yang biasa menyambutnya, tak ada pelukan hangat yang selalu membuatnya merasa hidup. Yang ada hanya sunyi, keheningan yang menyiksa. Arjuna masuk ke kamar tidur. Tirai masih tergantung, tapi berdebu. Kasu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD