1
Tyas menutup tubuh polosnya dengan sehelai selimut tipis yang tersampir di ranjang hotel berbintang lima. Tubuhnya berkeringat setelah semalaman, ia bermesraan dengan pria paruh baya yang selama ini telah membersamainya selama tiga tahun.
Pria paruh baya itu duduk di kasur sambil bersandar di sandaran ranjang lalu tersenyum nakal pada Tyas.
"Makin hari, tubuhmu itu semakin membuatku candu, Yas," ucap Laksana sambil merentangkan kedua tangannya untuk meraih kekasihnya.
Tyas pun dengan manja duduk di tepi ranjang sambil meraih tubuh Laksana yang masih setengah duduk. Laksana kembali mengecupi pundak Tyas lalu naik ke bagian leher membuat Tyas mulai kegelian kembali.
"Ahhh ... Mas Laksa ..." desah Tyas semakin mendusel Laksana. Selimut tipis yang baru saja menutup tubuh polosnya sudah terlepas lagi lilitannya. Tentu saja, Laksana yang memang niat ingin kembali memadu kasih di atas ranjang.
Laksana hanya bisa menemui Tyas sebulan sekali. Kalau memang ada waktu, Tyas bakal menjadi tawanannya selama Laksa berada di Kota itu sampai ia pulang.
Pagi itu, pergelutan mereka di atas kasur pun kembali terjadi kembali sampai siang hari. Entah sudah berapa kali Tyas mendesah dan dibuat tidak berdaya oleh Laksana. Tubuh Tyas benar-benar lemas dan hanya bisa terjatuh disamping Laksana setelah ia bergerak seperti ulet bulu di atas tubuh Laksana.
Laksana tersenyum puas setelah ia merasakan beberapa kali tongkat ajaibnya terkena semburan hangat. Di ujung pergulatan, Laksana pun ikut memberikan semburan terkahir yang sangat dahsyat. Laksana memeluk Tyas dengan erat sambil berbisik, "Kamu semakin hebat saja, Yas."
Tyas tersenyum dan menenggelamkan wajahnya di dad4 Laksana sampai benar-benar napasnya kembali teratur. Laksana mengusap kepala Tyas yang menyender di tubuhnya.
"Mas ..." panggil Tyas dengan suara manjanya.
"Hmmm ..." jawab Laksana hanya berdehem. Laksana sudah memejamkan kedua matanya karena terlalu lelah.
Tyas mendongak ke atas dan menatap Laksana yang mulai tertidur pulas, "Mas ..."
"Hmmm ... Apa sayang ..." jawab Laksana masih sadar.
"Kirain udah tidur," ucap Tyas semakin manja.
"Kenapa?" tanya Laksana membuka kedua matanya dan menatap kekasihnya dengan gemas sekali.
"Aku mau belanja Mas. Di dekat sini ada mall baru," cicit Tyas sambil mengecup pipi Laksana.
Laksana semakin menarik tubuh Tyas dan mengeratkannya hingga dua boba yang polos itu menyentuh kulit dad4nya.
"Mas ngantuk. Kamu belanja sendiri aja ya? Nanti malam, Mas harus pulang Sayang," ucap Laksana sambil mengecup bibir Tyas yang mengerucut.
"Jadi aku gak ditemenin belanja nih? Banyak barang baru yang aku pengen, Mas ..." cicit Tyas semakin manja.
"Mas kasih uang aja. Kamu belanja sendiri, apapun yang kamu mau. Pulang dari belanja, layani Mas lagi. Mas gak bisa kalau gak menikmati kamu, Sayang ... Apalagi Mas mau pulang, kita masih sebulan lagi bertemu," jelas Laksana pada Tyas.
"Soal itu beres Mas ... Ya udah, mana uangnya? Tyas mau mandi terus nge -mall sendiri," ucap Tyas lagi.
Laksana langsung mengambil dompet dan ponselnya, ia mengirimkan uang dalam jumlah besar ke rekening Tyas dan memberikan satu kartu kredit unlimited untuk dipakai Tyas.
"Sudah Mas kirim uang jajan kamu untuk bulan ini. Semua tagihan kamu, juga sudah Mas bayar. Dan ini, kartu kredit buat kamu. Mas harap kamu bisa paham dengan kesibukan Mas," ucap Laksana sambil memberikan kartu kredit berlogo emas itu kepada Tyas.
Tyas melebarkan senyum bahagianya. Dengan senang hati, ia mengambil kartu kredit itu dan menatap penuh semangat. Tiga tahun ini, hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bisa hidup dengan layak dan bahkan diatas rata-rata orang mampu. Ia hidup di Apartemen mewah di Pusat ibukota dengan bergelimang harta. Apa yang Tyas tidak punya sejak kecil, ia kini memilikinya dengan mudah. Tempat tinggal, kendaraan roda empat dan roda dua yang terparkir di garasi Apartemen, uang berlimpah dan bisa membeli apapun yang ia inginkan.
***
Dimas masih berdiri di depan pintu kamarnya sambil sesekali menoleh ke lorong tengah. Ia masih memantau pintu yang paling besra tepat di tengah lorong itu. Dimas sempat melewati kamar apartemen itu dan sama sekali tidak ada suara. Dimas sengaja mengikuti Laksana pergi ke luar kota. Ia memang ingin mencari bukti tentang perselingkuhan sang papa. Dimas kesal sekali karena di saat yang genting ini, sang Papa tidak peka. Sang istri pejabat itu sedang terbaring lemah di Rumah sakit dan sangat membutuhkan perhatian khusus.
Niatnya bukan cuma itu saja, kedatangan Dimas ke ibukota karena rasa penasaran ingin bertemu dengan sang pujaan hati yang dikenalnya selama tiga bulan terakhir ini secara online. Tapi, Dimas dongkol juga, baik sang Papa dan kekasih onlinenya itu sama-sama tidak bisa dihubungi.