Hera segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu, tubuhnya luruh kelantai. Dalam hati dia berdo'a semoga gadis itu tidak mendapat kesialan setelah bertemu dirinya.
'Aku hanya niat membantu, jangan mencelakainya. Kalau memang harus mengalami kesialan, pindahkan saja padaku' batin Hera dengan sungguh-sungguh.
Cukup lama dia menyandarkan tubuh didaun pintu, hingga tertidur tanpa sadar. Tubuh Hera sangat jarang beristirahat, gadis itu selalu melakukan apapun agar tetap bergerak, hanya karena dengan itu bisa mengalihkan dunia yang sama sekali tidak adil padanya.
Sementara didalam hutan gadis yang ditolong Hera tadi tengah berjalan masuk lebih dalam untuk menemukan jalan keluar. Hutan ini termasuk milik Edmund tapi siapa saja bebas keluar masuk, khusunya pemburu.
Hutan ini terkenal akan hewan buasnya tapi tidak sedikit juga yang mengetahui bahwa hutan ini memiliki hewan yang cukup indah, love bird salah satunya.
Tersiar kabar hutan ini ingin di jadikan kebun binatang untuk di persembahkan pada calon istri sang pemilik estat tapi tidak jadi karena wanita yang akan di nikasi sang pemilik telah meninggal.
Kabar meninggalnya calon istri Edmund tentus sudah tersiar keseluruh penjuru, banyak bangsawan yang mengirim karangan bunga dan memberi ucapan bela sungkawa, beberapa minggu keadaan estat sangat hening dan gelap, semua karena si pemilik dalam keadaan berduka.
Tapi tidak ada yang tahu tentang pernikahan Edmund dan Hera, gadis pembawa sial keculai kedua belah pihak keluarga. Edmund tidak akan membiarkan dunia tahu tentang pernikahan itu begitupun dengan keluarga Dowson.
*
Saat terbangun Hera merasa sekujur tubuhnya pegal dan sakit, suhunya juga tinggi, matanya sembab dan panas. Seperti biasa gadis itu menyadari kalau dirinya saat ini sedang demam.
Tanpa mengeluh sedikitpun dia bangkit lalu menuju dapur untuk membuat rebusan jahe. Dia hanya meminum air jahe karena tidak memiliki teh ataupun gula.
Diantara semua bahan dapur yang ada, Hera hanya diberi garam. Garam yang diberi juga garam kristal yang teksturnya kasar, biasanya di gunakan untuk menggarami ikan yang akan di fermentasi.
Tidak masalah, garam seperti ini lebih awet, dan Hera bersyukur masih diberi perasa. Setelah minuam rebusan jahe, Hera memutuskan untuk tidur meski perutnya lapar. Tubuhnya tidak kuat kalau harus memasak lagi.
Dalam tidurnya yang meringkuk seperti bayi, Hera bergumam tidak jelas karena suhu badannya semakin naik. Tapi sayang tidak ada satupun yang tahunkalau gadis cantik itu sedang berjuang antara hidup dan mati.
Ditambah lagi lantai rumah sangat dingin menusuk, dan Hera tidak sempat membuat bara api yang biasa dia gunakan untuk menghangatkan kamar.
Sementara itu dikamar mewah kastil utama, pria bernama Andrian Edmund tengah bersenang-senang dengan seorang jalang yang ditemuinya dibar.
Sudah lama Edmund tidak bermain perempuan, tepatnya setelah bertemu Camelia. Dan penyakit itu kembali lagi setelah Camelia meninggal.
Dia menghujam seorang wanita dengan posisi menungging, tidak memberi izin si wanita untuk menoleh kearahnya. Desahan dan erangan si wanita tidak membuatnya puas, yang membara dalam dirinya saat ini marah dan dendam.
Marah dan dendam pada Hera yang telah merenggut hidupnya. Ya, baginya Camelia adalah hidupnya, napas dan alasannya bertahan sampai disini tapi sekarang semuanya musnah.
Setelah wanita itu mendapat pelepasannya, Edmund menarik diri. Belum selesai wanita itu menikmati pelepasannya, sudah di usir. Dengan tubuh gemetar wanita itu memakai pakaiannya yang berserak dilantai.
Tanpa melihatnya Edmund melemparkan sekantung uang untuk sijalang. Meski seorang jalang, wanita itu merasa sangat terhina dengan perbuatan Edmund.
Pria itu memang digelar manusia tidak berhati, selalu bertindak sesuka hati. Tidak perduli orang bisa sakit hati, baginya tidak ada yang perlu di hormati di dunia ini kecuali Camelia.
Tanpa berkata apapun jalang itu pergi meninggalkan Edmund yang tengah berdiri di balkon dengan hanya memakai jubah tidur, d**a telanjangnya dia biarkan terekspose, tidak perduli angin malam menusuk hingga ketulang.
Tatapannya menghunus jauh kearah utara, tepat kesebuah gubuk yang terlihat sangat kecil dan samar, cahay lilin yang memantul keluar menandakan ada kehidupan digubun itu.
Entah sudah berapa lama sosok itu berada disana, Edmund tidak perduli. Dendam dan amarahnya masih enggan terlampiaskan saat ini, membiarkan targetnya tenang sementara waktu merupakan caranya untuk menyerang tanpa henti nanti.
Edmund kembali mengingat kekasih hatinya yang selalu mengutamakan si pembawa sial itu dalam segala hal, bodohnya dia membiarkannya saja.
Pernah satu hari dia membelikan kekasihnya sepasang pita rambut dari Italy, negara yang teramat jauh dari tempat tinggalnya. Berharap sepasang pita itu selalu bertengger dirambut indah kekasihnya tapi yang terjadi justru, kekasihnya membagi pasangan pita tersebut pada si pembawa sial.
Dan bodohnya dia tidak melarang sama sekali.
Saat bersama Camelia tidak pernah sekalipun dia berpihak pada kekasihnya jika menyangkut si pembawa sial. Yang dia lakukan hanya agar Camelia tidak marah ataupun kecewa padanya.
Selebihnya sungguh dia tidak pernah menganggap Hera, gadis yang selalu menunduk takut saat melihatnya. Dia bukan pria yang mempercayai mitos ataupun ramalan tapi tidak juga menghalangi orang lain jika ingin mempercayainya.
Maka saat mengetahui Hera memiliki julukkan pembawa sial, dia sama sekali tidak perduli. Bahkan saat Hera di permalukan keluarga kekasihnya, dia tidak berminat ikut campur.
Karena sesungguhnya dia tidak pernah menganggap orang lain kecuali Camelia, pujaan hatinya.
Tapi setelah semua yang terjadi, penyesalan tidak percaya pada mitos dan ramalan menguap. Benaknya selalu menyalahkan diri, andai dia percaya maka kekasihnya tidak akan berakhir seperti itu.
Andai dia membawa Camelia menjauh dari Hera lebih cepat maka hidupnya tidak akan semenderita sekarang. Oleh karena itu semua yang terjadi adalah salah Hera.
Dan orang yang bersalah harus di hukum sesuai tingkat kesalahannya. Tapi tidak sekarang, ada masanya Hera merasakan neraka yang sesungguhnya, sekarang biarkan semua berjalan seperti ini dulu.
***
Hera tersentak begitu mendengar pintu rumahnya diketuk keras. Dengan gontai gadis itu bangun dan berjalan keluar, ketika pintu sudah terbuka satu tamparan langsung melayang kepipinya hingga dia jatuh terjerembab kelantai.
"DASAR SIALAN! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, HAH? BUKANKAH POLO SUDAH MEMPERINGATIMU UNTUK TIDAK MASUK KEDALAM HUTAN?!"
Hera masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi, pandangannya buram dan bekunang. Tamparan yang didapatnya baru terasa sakit, pipinya merah dan bengkak.
"KARENA ULAHMU TUAN MENDAPAT KECAMAN DARI PEMILIK ESTAT LAIN! KAU MEMBUAT PUTRINYA HAMPIR MATI!"
Wanita bertubuh tambun itu menyeret Hera keluar seperti hewan peliharaan lalu menghempaskannya, "bawa dia menghadap tuan!" Suaranya sudah tidak sebesar tadi tapi tetap tegas dan dalam.
Sampai disini Hera masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi dia membiarkan tubuhnya diseret kasar oleh pelayan laki-laki yang biasanya mengantar bahan pangan untuknya.
**
"Papa, sudah kukatakan dia menolongku, bukan mencelakaiku!" Teriak seorang gadis cantik didepan seorang pria paruh baya dan juga Edmund.