Menyebutkan Imbalan yang Kau Maksud?

1156 Kata
Hera menatap api yang melahap kayu pembakar, suara yang berasal dari dalam perapian menjadi temannya dikala sunyi. Gadis itu baru saja menyelesaikan makan malam, rebusan lobak dan wartel dengan garam sebagai perasa. Untuk menghangatkan tubuh, Hera bergelung dalam sprei lusuh yang dijadikannya selimut, tanpa sadar airmatanya kembali mengalir, dia rindu pada almarhum hibinya. Hera tidak pernah merindukan almarhum ibunya, lebih tepatnya tidak berani merindukan karena berpikir dialah penyebab wanita hebat itu meninggal. Meski bibinya berulang kali mengatakan kematian ibunya tidak ada sangkut paut dengannya tetap saja Hera yakin dengan pikirannya. Selain semua orang mengatakan begitu, buktinya juga memang seperti itu. Saat dia lahir ibunya meninggal. Sekarang dia benar-benar sebatang kara, tidak ada satupun yang mengakui kebenarannya. Harusnya hari itu dialah yang mati, dengan begitu bisa memutus rantai kesialan dalam kehidupan orang lain. Hal yang paling dibencinya dari sang bibi adalah terlalu menjaganya sepenuh hati. Memperlakukannya dengan sangat baik sampai tidak memikirkan diri sendiri. Hera sangat ingat hari dimana bibinya jatuh dari kuda yang seharusnya dia tunggangi. Andai dia bisa lebih keras dan tegas pada bibinya maka kesedihan ini tidak akan terjadi. Camelia adalah gadis yang sangat penyayang dengan sifatnya yang periang, siapapun akan langsung jatuh hati pada gadi cantik baik itu, termasuk seorang Andrian Edmund. Sedari kecil Camelia sudah bertekad menjaga Hera dengan sepenuh hati, karena mendiang kakak iparnya selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Dirinya tidak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun, kebahagiaan selalu menyertainya. Maka dari itu saat kakak iparnya meninggal, dia bertekad menjaga Hera sebaik mungkin. Padahal saat itu dirinya baru berusia lima tahun lebih sedikit. Hera ingat bagaimana bibinya selalu memarahi pelayan jika kedapatan menghina atau menyakitinya. Selalu pasang badan jika bibi-bibi yang lain menghardik, termasuk pada ayahnya juga. Bibinya yang satu itu tidak pernah takut pada siapapun, tentu karena dia tahu semua orang menyayanginya dengan sepenuh hati. Bahkan pria yang berstatus ayahnya begitu memanjakan bibinya itu. Apapun yang diinginkan bibinya selalu didapat dengan mudah, tidak pernah berkata tidak. Beda hal dengan dirinya, meski tidak pernah meminta sekalipun, ayahnya langsung menolak tegas begitu bibi meminta sesuatu atas namanya. Sejak itu bibi selalu meminta untuk dirinya sendiri meski barang itu akan diberikan padanya. Dan Hera merasa hidupnya sangat beruntung dan baik-baik saja disaat Camelia masih hidup. "Bi, andai kau tahu hidupku tidak baik-baik saja tanpamu. Masihkah kau mengorbankan diri? Kenapa kau begitu bodoh hari itu? Kau tahu? Bahkan aku tidak diizinkan melihatmu untuk yang terakhir kali disaat kau sadar dan setelah itu pergi, padahal aku tahu kau sangat ingin bertemu aku, bukan? Kau tahu tidak? Aku juga dilarang menangis. Untungnya bibi Mete memelukku, dalam pelukkannya aku menangis untukmu. Dan sampai detik ini, aku tidak tahu dimana makammu." Airmata Hera mengalir dengan derasnya, kedua tangan menutup mulut agar isakkannya tidak terdengar, kebiasaan yang dilakukan sejak kecil. Apa yang Hera katakan benar, gadis itu sama sekali tidak tahu dimana makam bibinya. Yang dia tahu dari bibi Mete, bibinya dimakamkan ditanah milik pria itu. Hera tidak berani menyebut namanya, selain tidak pantas takut kalau menyebut kesialan akan menimpa pria itu. Jangan sampai, tidak boleh ada korban lagi setelah bibinya. Dia akan memikirkan cara untuk mengakhiri semua kesialan ini, tentu tanpa ada yang tahu. *** Tidak terasa sudah tiga bulan Hera tinggal di gubuk itu, dan selama itu tidak pernah ada yang datang mihatnya. Bahan pokok yang dikirimkan untuknya juga selalu diletakkan dibawah pohon atas bukit. Seperti biasa dia akan mengambilnya ketika hari mulai senja, diaman semua pekerja sudah kembali kepondok masing-masing. Hera benar-benar diperlakukan seperti hama yang terpaksa di pelihara. Tapi hati Hera tidak begitu tenang, setiap hari berpikir apa yang akan terjadi padanya besok. Karena tidak mungkin dirinya dibiarkan seperti ini terus. Bukan penyiksaan seperti ini yang ada dalam bayangannya. Pria itu tidak mungkin diam dan menunggunya mati temakan usia. Hera harap jika hari kematiannya tiba, pria itu langsung membunuhnya tanpa penyiksaan lebih dulu. Hera sedang membersihkan tanaman yang ada dibelakang gubuknya saat mendengar suara orang minta tolong yang berasal dari sungai yang berada tepat dibelakan gubunknya. Ya, Hera menanam biji labu, tomat dan cabai yang hampir busuk, untungnya biji-bijian itu bisa ditanam. Tanpa berpikir panjang Hera langsung berlari menuju sungai tersebut padahal jelas Polo telah memperingatinya saat pertama kali akan pindah kemari. Sebelum ini Hera tidak pernah kesungai sekalipun meski suara alirannya yang tenang menggugah selera. Tapi hari ini mana mungkin dia abai setelah mendengar suara orang minta tolong. Hera menghentikan langkah tepat di pinggir sungai sambil mengedarkan pandangan untuk menemukan objek tapi tidak menemukannya. Sungai ini tidak begitu luas tapi alirannya cukup deras dengan batu-batu besar. Suara itu semakin lama semakin sayup dan Hera semakin panik dibuatnya. "TOLONG!!!" Kembali suara itu terdengar. Hera langsung melihat kearah sebelah kanan dan memusatkan penglihatannya. Gadis itu lalu mengikat tambutnya menjadi sanggul besar lalu melepas celemek agar tidak memberatkan setelah itu berjalan menuju sumber suara. Tanpa berpikir panjang, Hera langsung lompat kedalam air untuk menolong orang yang hampir tenggelam, arus ditempat itu tenang tapi sangat dalam. Tanpa meminta izin, Hera langsung menarik rambut orang tersebut dan membawanya ketepi. Sesuai dugaan Hera, pemilik suara itu seorang perempuan. Hera membantu gadis itu dengan memompa dadanya, hal ini pernah dia liat saat ayahnya menolong bibi kedua yang jatuh kedalam danau akibat tergelincir. Saat itu usianya sekitar sebelas tahun, tentu masih teringat jelas dalam benaknya bagaimana ayahnya memberikan pertolongan pertama pada bibinya. Hera hampir putus asa karena tidak ada tanda-tanda perubahan pada gadis yang sudah pingsan ini. Dan saat pompaan terakhirnya, barulah gadis itu menyemburkan air dari dalam mulutnya. Hera semakin bersemangat memberikan pertolongan hingga gadis itu bangkit dan terbatuk-batuk. Gadis itu berpenampilan seperti seorang pria. "s**t!" Umpat gadis itu lemah. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Hera hati-hati. Gadis itu baru menyadari keberadaan orang yang menolongnya. Dia mengangkat wajah lalu bertemu tatap dengan Hera. Gadis itu mengakui kecantikan Hera sangat luar biasa, belum pernah dia bertemu perempuan secantik Hera. "Hem," jawabnya ketus sambil berdiri. Hera mencoba membantu tapi gadis itu langsung menepis tangan Hera dan menjauh. Hera sudah biasa di perlakukan seperti ini. "Aku tidak suka berhutang budi, apa yang kau inginkan sebagai imbalan telah menolongku?" Gadis berpenampilan sebagai pria itu membenahi dirinya, mengikat kembali rambutnya menjadi sanggul. "Kau bukan pekerja disini?" "Apa aku terlihat seperti pekerja?" Tanyanya ketus dengan napas yang masih terengah-engah. "Tunggu disini, aku akan kembali." Hera berlari menuju gubuknya. Napasnya tidak kuat lagi sebenarnya, tapi naluri ingin menolong besar. Hera merasa bangga karena dirinya bisa menolong orang. Saat kembali dia menyerahkan sesuatu ketangan gadis yang ternyata masih menunggunya, tentu dia terharu. "Kau butuh tenaga," ucap Hera. Dia memberi ubi bakar pada gadis itu. "Hanya itu yang aku punya." Jelas Hera karena gadis itu mengernyit jijik menatap ubi bakar ditangannya. "Apa aku bisa menyebutkan imbalan yang kau maksud?" Gadis itu mengangguk remeh. Sudah dapat di pastikan tidak ada manusia yang bersikap tulus. "Jangan kembali kemari lagi, banyak hewan buas disini. Takutnya aku tidak bisa membantu seperti hari ini. Karena sesungguhnya aku pembawa sial. Jaga dirimu." Hera membungkuk sekilas lalu berbalik pergi. Gadis itu masih terpaku ditempatnya setelah mendengar ucapan Hera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN