1. Dokter Tampan

1295 Kata
Satu tahun sebelumnya …  “Alya Wening Nareswari!” Panggilan itu pelan, tetapi terasa nyaring di saat bersamaan. Pasalnya, suara itu menggema di antara kosongnya ruang kelas yang lebar. “Aku dengar dari anak angkatan sebelah, bentar lagi kelas ini mau dipakai. Udahan tidurnya, Al.” Aku menegakkan badan, lalu menenggak air mineral di depanku. “Oke. Habis ini aku keluar. Makasih udah bangunin.” Naura mendekat. Dia duduk tepat di sebelahku. “Kok malah duduk sini?” “Bentar. Aku mau nanya kamu dulu.” “Nanya apa?” “Kamu ada kelas lagi atau enggak? Aku udah beres, soalnya.” “Beres juga. Tapi aku enggak pengen pulang.” “Ke Perpus lagi?” “Entah, penting enggak pulang aja.” “Aku paham banget kalau kamu selalu enggak pengen pulang.” Naura manggut-manggut. “Tapi aku enggak mau nerima ajakan jajan, Ra. Aku lagi enggak punya uang.” “Siapa juga yang mau ngajak kamu jajan?” “Tapi dilihat dari ekspresimu saat ini, kamu kelihatan excited mau ngajak aku ke suatu tempat.” “Memang.” Naura tersenyum lebar. “Excited banget, malah!” “Nah, kan!” “Tapi bukan jajan, ya!” “Terus?” “Aku mau ngajak kamu ke rumah sakit. Kamu perlu berobat.” “Berobat?” mataku langsung memicing. “Yang bener aja, Ra. Uang buat jajan aja enggak ada, apalagi ke rumah sakit? Enggak mau!” “Udah berapa puluh kali kamu nunda soal ini, Al? Aku yang bayarin—” “Tetap enggak mau!” “Alyaaa!” aku berjengit kaget karena suara Naura tiba-tiba melengking. “Kalau kamu masih anggap aku teman baikmu, kamu enggak boleh nolak. Kamu harus periksa ke Dokter Spesialis Obgyn. Kalau memang ada masalah, bisa lekas ditangani. Kalau enggak, ya bagus. Kamu bisa tenang. Aku enggak tega lihat kamu tiap haid kesakitannya enggak wajar.” “Paling karena stress sama gangguan hormon aja—” “Jangan sok tahu. Ayo, ke obgyn!” “Ra, bentar.” Aku menahan tangan Naura. “Oke. Anggap aja aku terima bantuanmu buat periksa hari ini. Lalu misal emang ada yang enggak beres dan aku harus kontrol rutin, uang buat kontrol pakai apa? Aku enggak mungkin nyusahin kamu terus!” Naura yang sempat berdiri, kini duduk lagi. “Kita berteman udah sejak kapan, aku tanya?” “Kelas satu SMA.” Aku menunduk. “Udah berapa tahun?” “Lima tahun lebih.” “Apa gunanya aku diberi kelebihan harta kalau sekadar bantu temen yang kesusahan aja enggak bisa?” Naura terdiam sesaat. “Aku paham banget kalau kamu enggak mau nyusahin orang di sekitarmu. Enggak mau dikira memanfaatkan. Tapi kali ini aku yang sukarela menolongmu. Kamu nyaris nolak semua pemberianku. Kamu masih anggap aku temen atau enggak, sih, Al?” “Ra … bukan gitu—” “Mau, ya? Kali ini periksa dulu. Aku yang bayar. Pokoknya aku maksa!” Naura langsung mengulurkan tisu ketika air mataku keluar. Dia tersenyum prihatin. “Sayangi dirimu, Al. Jangan nolak rezeki. Mumpung kamu lagi enggak haid, kita periksa. Kamu keluhkan semua masalahmu itu ke ahlinya. Biar ditangani dengan tepat.” Aku mengangguk. “Ya udah, oke. Makasih, Ra.” “Makasihnya nanti aja kalau udah beres.” Akhirnya, aku dan Naura keluar fakultas. Naura bawa mobil, jadi kali ini pasti naik mobilnya. “Kita ke RS Hamemayu, ya? RS langganan keluargaku karena di sana selalu memuaskan.” “Terserah. Aku ikut.” “Oke— eh, iya! By the way, Al, Dokter Obgyn biasanya cowok. Tapi nanti aku cariin yang cewek, deh!” “Cariin? Kamu kaya kenal nakes Hamemayu aja.” “Jangan salah, ya. Sepupu jauhku kerja di Hamemayu. Perawat, sih. Tapi siapa tahu bisa bantu.” “Oke.” “Tapi misal dapatnya tetap cowok, terima aja, ya, Al? Kan Dokter udah disumpah. Mereka profesional, bukan sembarang orang awam.” “Pengennya tetap cewek, Ra. Aku takut kalau disuruh usg transvaginal.” Naura meringis. “Iya juga, ya? Malu banget, pasti. Tapi setahuku usg transvaginal enggak direkomendasikan buat kita-kita yang masih virgin. Dan kalaupun kepepeeet bangeeeet harus iya, mereka Dokter Obgyn udah biasa. Udah lihat berbagai macam bentuk dan warna. Kita mikirnya tabu, malu, soalnya kita enggak lihat organ vital orang lain. Beda sama mereka. Pasti lihatnya sekadar objek medis.” “Iya, sih. Tapi maunya tetap cewek—” “Kalau misal adanya cowok?” “Ganti besok!” “Besok kita kuliah full, Al!” “Oh iya, ding.” “Intinya, nanti kita cari yang cewek dulu. Kalau adanya cowok, mau gimana lagi. Ingat, mereka ahli. Udah terlatih dan disumpah. Mereka enggak sama kaya kita.” Akhirnya, aku mengangguk. “Baiklah.” “Eh, iya! Kamu pakai masker, Al. Buat jaga-jaga kalau malu. Kan yang diperiksa bagian bawah, bukan wajah. Harusnya enggak jadi masalah.” “Kamu bawa, Ra?” “Bawa, dong.” “Kasih satu.” “Ambil aja di dashboard.” “Oke.” Kisaran lima belas menit kemudian, mobil Naura sudah parkir di parkiran Rumah Sakit Hamemayu. Rumah sakit swasta elit yang banyak didambakan. Tak terkecuali aku. Kalau bisa, aku juga ingin kerja di sini. Aku memang bukan anak kedokteran, keperawatan, ataupun kebidanan. Aku adalah anak Kesehatan Masyarakat. Aku tetap bisa kerja di rumah sakit, tetapi di bidang manajemen atau administrasi. Aku selalu merasa, lingkungan RS Hamemayu itu menenangkan. Entah kenapa, para tenaga kesehatannya juga terasa nyaman dipandang. Terlihat bersih, rapi, dan ramah. Pokoknya, vibes-nya sangat positif! “Aku bantu ambil antrean dulu, Al. Kamu nunggu aja,” ujar Naura begitu kami tiba di Poli Obgyn. “Oke.” Beruntungnya aku punya teman sebaik Naura. Di antara malangnya hidupku yang serba kurang dan punya orang tua yang kasar, dia adalah salah satu alasan aku harus tetap bersyukur. Tuhan masih menunjukkan kasih sayang-Nya lewat sahabatku itu. “Dapat nomor A17, Al. Nanti masuk ruangan yang A dan tunggu nomor dipanggil.” “Sekarang nomor berapa?” “A sampai 12, yang B udah sampai 14. And unfortunately, dua-duanya cowok. Aku udah nanya resepsionis.” “Yah, Ra—” “Mau dapat A atau B, sama aja. Aku nanya, yang cewek ada? Respesionis bilang ada, tapi masih sore nanti jam 4. Lama banget! Ini masih jam 11.” “Atau kita main dulu?” “Heh! Udah sampai sini, udah ambil antrean juga!” “Ya udah.” Aku mengangguk pasrah. “Mau gimana lagi.” Aku membaca plakat di ruangan A, ruangan yang nanti akan kumasuki. dr. Aditra Jaya Pradani, Sp.Og. Nama yang bagus. “Tenang, Al. Katanya ada satu perawat yang mendampingi. Jadi, enggak perlu malu-malu.” “Oke.” Lima belas menit berlalu, kini tiba juga giliranku. Begitu masuk, perawat langsung menyambutku. Karena ini pertama kalinya aku periksa, aku perlu registrasi. Aku juga ditanya-tanya keluhan dasar dan kujawab dengan sangat jujur. Aku sempat melirik tirai. Ada bayangan laki-laki duduk di sana. “Sebentar, Kak Alya. Saya lapor dulu.” “Baik, Sus.” Si suster meninggalkanku dan ngobrol dengan si dokter. Aku mendengarnya, tetapi tak jelas karena suara mereka pelan. “Kak Alya, silakan masuk sini.” “Oke, Sus.” “Harap nanti jujur saja, ya, sama keluhannya. Lebih detail kalau bisa. Biar penanganannya lebih tepat.” “Baik, Sus.” Saat aku masuk ke area di balik tirai, dokter yang bertugas sedang menulis di sebuah lembaran kecil. Dia menunduk dan mengenakan masker sepertiku. “Duduk dulu.” “Baik, Dok.” Aku segera duduk dan menunggu. Kira-kira setengah menit, si dokter menyudahi aktivitasnya. “Sebentar, saya minum dulu.” “Iya, Dok.” Si Dokter langsung melepas masker dan membuka tutup botol air mineral yang dia ambil di rak. Pada detik dia membuka maskernya, aku agak terhenyak. Bagaimana tidak? Dokternya tampan, tampan sekali! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN