Prolog
“Sakiiit bangeeet …”
Aku menangis, terisak-isak dalam hening. Tubuhku gemetaran, merasakan betapa sakit fisik dan mentalku saat ini.
Badan luka, batin terlunta. Memang, tidak semua orang tua pantas disebut orang tua.
Ayah kumat lagi.
Beliau pulang dalam kondisi mabuk parah dan kalah judi. Emosi yang sejak awal sudah tak stabil, akhirnya membabi buta hanya karena pertanyaanku yang menyinggung.
“Kalah lagi, Yah?”
Hanya tiga kata, badanku harus menanggung pedihnya. Emosi Ayah tiba-tiba meledak begitu saja. Beliau mengambil sapu di sudut ruangan, lalu mulai memukulku. Memukul sembari memaki karena aku tak bisa membantu.
Beliau yang kalah, aku yang harus hancur dan patah.
Sakit, sungguh sakit!
Dan aku juga lapar. Aku belum makan sejak siang karena tidak ada makanan di rumah. Bahkan sebungkus roti pun tidak ada.
“Alya!” panggilan Ayah terdengar nyaring di luar. Aku buru-buru mengusap air mataku, lalu keluar kamar.
“I-iya, Yah? Kenapa?”
“Kok enggak ada makanan di meja? Kamu enggak masak?”
Ayah tampaknya masih dalam pengaruh alkohol. Tatapan beliau masih tak fokus. Hanya saja, beliau berusaha seperti orang yang sadar.
“A-aku enggak punya uang buat beli b-bahan makanan, Yah.”
“Yaning mana?”
Aku menggeleng pelan. “Enggak tahu, Yah.”
Yaning adalah Ibu tiriku. Perempuan yang Ayah nikahi setelah Ibu kandungku meninggal.
“Perempuan di rumah ini enggak ada yang becus!”
Aku tersenyum miris. Padahal, beliau lebih tidak becus lagi!
Sebagai kepala keluarga, beliau hanya tahu menyusahkan istri dan anak. Tidak pernah memberi nafkah karena uang yang beliau hasilkan habis untuk judi dan mabuk.
Sudah ditegur, tetapi berujung aku yang hancur. Jika lukaku dihitung, jumlah dan sakitnya sudah tak terukur.
“Kamu kenapa senyum kaya gitu, Al?”
“E-enggak, Yah.” Aku menggeleng. “Enggak papa.”
“Kamu menertawakan Ayah yang kalah lagi?”
“Enggak! Aku enggak bermaksud kaya gitu.”
“Kamu mau menyalahkan Ayah lagi? Ayah main juga demi kamu. Kalau Ayah menang, uangnya buat kamu. Ngerti?”
Demi aku?
Sekali lagi, DEMI AKU?
Kapan aku mendapat nafkah dari beliau? Selama ini aku berjuang sendiri untuk mengumpulkan pundi-pundi seadanya agar aku tetap bisa kuliah di saat kurangnya uang beasiswa.
Sejak aku masuk kuliah, satu peser pun Ayah tidak pernah memberiku uang saku. Lalu sekarang beliau bilang uang hasil judi untukku?
Jelas bullshit!
Memang, aku juga tak sudi makan uang yang jelas-jelas haram. Namun, pada prakteknya pun Ayah memang tidak pernah lagi menafkahiku.
Lalu apa maksud kalimat beliau barusan? ‘Demi aku’ dari mananya?
Beliau jelas pernah menang, tetapi hasilnya langsung dihabiskan untuk foya-foya atau nambah taruhan. Boro-boro memikirkanku, yang ada beliau sering memintaku uang tambahan untuk membeli rokok.
Kuakui, ayahku memang seketerlaluan itu.
“Kamu punya uang lima puluh, Al?”
Lihatlah! Baru juga kusinggung.
“Enggak, Yah. Aku lagi enggak pegang uang.”
“Bukannya kamu dapat uang saku dari beasiswa?”
“Belum turun. Kalaupun turun, aku butuh buat penelitian, Yah. Aku lagi ngejar skripsi—”
“Jadi enggak ada jatah buat Ayah? Cuma lima puluh ribu, Al! Masa enggak ada?”
Aku menggeleng. “E-enggak ada sama sekali.”
Jangankan lima puluh ribu. Uang lima ribu pun aku tak pegang.
“Jangan bohong sama Ayah!”
“Enggak, Yah. Aku beneran enggak megang uang.”
Aku tersentak ketika Ayah berdiri tegak dan berjalan cepat mengambil sapu. Aku langsung menyingkir, tetapi telat.
BUG!
Lagi-lagi, pukulan keras kudapat. Kalau tadi di punggung dan tangan, kini sasarannya adalah kakiku.
“Itu pantas buat anak yang pelit—”
“Yah! Aku beneran enggak ada uang— aaak!” aku menjerit keras saat Ayah memukulku lagi.
“Tiga puluh—”
“Enggak ada, Yah. Seribu pun aku enggak punya.”
“Dasar anak enggak berguna!”
“Aaak!”
Pukulan Ayah membabi buta. Aku berusaha lari, tetapi tanganku ditarik dan dibanting ke lantai.
“Ayah! Ayah kenapa mulai lagi? Aku salah apa?!”
“Salahmu karena jadi anak enggak berguna!”
“Aku ini sebenarnya anak Ayah atau bukan? Kenapa Ayah setega ini— aaak!”
Aku menjerit lagi saat pukulan itu mengenai jemariku. Kerasnya gagang sapu dan kerasnya tulang jari tentu beradu. Terasa sakit, perih, juga ngilu.
Saat Ayah menjeda, aku langsung berlari ke kamar dan menutup puntu. Aku juga buru-buru menguncinya.
“Alyaaa! Keluar, kamuuu! Ayah belum selesai bicara! Alyaaa!”
Dengan tangan gemetaran, aku mencabut ponsel yang tadi sedang di-charger. Aku menghidupkannya dengan tangan yang gemetaran.
Begitu ponsel nyala, aku langsung menghubungi seseorang. Seseorang yang sudah lama menawarkan bantuan, tetapi masih kutolak karena jenis bantuannya membutuhkan pertimbangan yang rumit.
Kini, aku menyerah sudah! Aku akan menerima tawaran itu.
“Hallo?”
Tangisku pecah dalam diam saat mendengar suara berat sekaligus lembut itu. Suara yang selalu sukses membuatku merasa lebih tenang.
“Hallo, Alya? Kenapa diam aja? Kamu luka lagi?”
Dengan air mata yang terus mengalir deras, juga napas yang agak putus-putus, aku berujar terbata. “S-saya mau, Dok. Saya m-mau jadi istri Dokter. Saya mau n-nikah sama Dokter. Tapi tolong s-segera bawa saya keluar dari rumah. Kalau perlu, m-malam ini juga. Bisa?”
***