Part 31

1272 Kata
Dobel update... kurang suwit apa coba Mimin ,, tapi cuma Caliana aja,, yang lain jangan minta dobel ?? ~~~~~~~~~~~ Caliana memilih untuk berenang demi menghilangkan kesalnya. Kalau bukan karena Carina dia tidak akan se-bad mood ini. Ia berenang sebanyak dua putaran sebelum menghentikan aksinya di salah satu sisi kolam renang. Menyandarkan punggungnya dan mendongakkan kepala untuk menerima pancaran sinar matahari yang sebenarnya ia tahu tidak baik untuk kulitnya. “Masih bad mood?” suara seseorang membuat Caliana membuka mata. Seketika Caliana bertatapan dengan mata coklat yang tertunduk ke arahnya. Tampak sama basahnya. Jelas sekali ia juga selesai berenang. Caliana mengabaikannya. Memilih untuk kembali menutup mata. Gelombang air memberitahu Caliana kalau pria itu juga sudah masuk ke dalam kolam. “Aku mewakili mereka untuk minta maaf.” Lanjut Adskhan ketika tak mendapat respon dari Caliana. “Maaf untuk apa?” tanyanya sinis, sedikitpun tak berniat membuka mata. “Untuk semuanya.” Ucap pria itu datar. “Kupikir kamu marah karena keberadaan Carina dan Syaquilla.” Jawabnya lagi. Caliana membuka mata dan terkejut ketika melihat Adskhan berada begitu dekat dengannya. “Saya tidak akan membantahnya.” Jawabnya singkat. Adskhan dengan sengaja mendekati Caliana. Berdiri di samping gadis itu, berusaha bersikap wajar meskipun bukan itu yang diinginkannya. “Aku yang meminta Carina untuk melakukan itu.” pengakuan pria itu membuat perhatian Caliana terfokus pada Adskhan. “Aku yang memintanya untuk memanggilmu dengan sebutan itu.” lanjut pria itu lagi. Caliana terkekeh dan menggelengkan kepala. “Tidak perlu berbohong, Sir.” Ejeknya. “Saya tahu bagaimana keponakan saya dan tindakan absurd nya. Jadi Anda tidak perlu membelanya.” Ucap Caliana lagi. Caliana berjalan menjauh dari Adskhan menuju ke arah tangga kolam dari besi yang terpasang secara vertikal.Ia berniat keluar dari kolam renang, namun sebelum kakinya menapaki anak tangga pertama, Adskhan mengurung tubuhnya. “Aku tidak suka kalau ada pria lain yang mendekatimu." Ucapnya di tengkuk Caliana. Caliana terbelalak seketika, terkejut saat sadar kalau pria itu berada begitu dekat dengannya. Bahkan napas pria itu menggelitik kulitnya. "Aku tidak mau ada orang yang mendekatimu." Lanjutnya masih dari belakang Caliana. Caliana menarik napas panjang, entah untuk menetralkan apa. Amarahnya, atau rasa lain menggelitik tubuhnya. Perlahan Caliana membalikkan tubuhnya. Sedikitpun Adskhan tidak berusaha untuk mundur dan memberi merek jarak. Pria itu bahkan tampak biasa saja, menatap Caliana dengan tatapan tajamnya. “Apa hak Anda mengatakan kalau Anda tidak suka hal itu?” Tanya Caliana dingin. “Karena hanya aku yang boleh mendekatimu." Jawabnya lagi. Kali ini Caliana terkekeh. “Memangnya siapa Anda?” tanyanya dengan nada tak suka. “Aku penggemarmu." Jawabnya yang kini diiringi dengan sebuah senyuman. "Nomor satu.” Lanjutnya dengan seringaian jahil. Caliana kini tertawa histeris. “Lantas kalau anda menjadi penggemar saya, saya tidak berhak untuk bergaul dengan orang lain? Anda bahkan tidak punya hak untuk melakukan sesuatu terhadap saya, apalagi membatasi saya.” Jawab Caliana dengan nada berapi-api. Ia tidak peduli jika orang lain mendengarkan ocehannya. Lagipula—Caliana memperhatikan kolam renang, dan seketika mengerutkan dahi—tidak ada siapapun di kolam ini selain mereka berdua. Ia kembali menatap Adskhan dengan tatapan penuh tanya. Pria itu kembali mengedikkan bahu. Caliana terkekeh. “Ini semua?” ia menunjuk sekitar area kolam. “Anda membuat tempat ini sepi?” tanyanya dengan nada tak yakin. Adskhan mengangguk. “Apa sekarang Anda sedang memamerkan kekayaan Anda pada saya?” tanyanya tak suka. Adskhan terdiam. “Saya gak suka sama pria sombong, arogan dan playboy macam Anda. Jadi cukup, mulai sekarang Anda tidak perlu bersikap berlebihan.” Caliana kembali hendak naik ke permukaan namun lagi-lagi Adskhan menahannya. “Apa maksudnya dengan playboy?” Jika sebelumnya Adskhan sudah berada dekat di depan Caliana, kini pria itu semakin menyudutkan tubuh Caliana. Memenjarakan Caliana dengan kedua tangannya sehingga tubuh Caliana terimpit antara tubuh Adskhan dan tangga besi di belakangnya. “Jangan berlagak bodoh, Sir." Caliana memandang Adskhan dengan berapi-api. "Anda berusaha mendekati saya dan disaat bersamaan Anda bersama dengan model itu. Kalau itu bukan playboy, lantas sebutan yang pantas apa?” “Aku sama sekali tidak memiiki hubungan apapun dengan Anastasia.” Tolak Adskhan. “Begitukah?" Tanya Caliana dengan sebelah alis terangkat. "Kalau begitu, apa sebutannya untuk laki-laki dan perempuan yang muncul ke area publik berdua, berangkulan, dan bersikap mesra?” Caliana mengingatkan Adskhan pada setiap momen yang ia lihat. Entah itu lift, kantor atau saat mereka kebetulan terlihat bersama di acara car free day beberapa waktu lalu. “Itu…” Adkshan tak bisa berkata-kata. “Dan Anda bahkan mengabaikan janji dengan putri Anda sendiri demi dia. Lantas Anda sebut itu apa?” Adskhan mengerutkan dahi. “Itu semua bukan apa-apa. Kau hanya salah paham. Antara aku dan Anastasia, semua itu murni urusan bisnis." Jawabnya dengan lirih. “Ah, bisnis.” Ujar Caliana dengan nada merendahkan. “Manis sekali hubungan Anda dengan rekan bisnis Anda. Apa itu berarti ada Anastasia lain selain Anastasia yang kami kenal?" tanya Caliana. Adskhan terdiam. Sampai kemudian sebuah senyum jahil muncul di wajahnya. “Apa kamu cemburu?” Caliana terbelalak, lalu kemudian mendengus. “Cemburu?" Ia balik bertanya. "Saya bahkan tidak berpikir jauh ke arah sana." Jawabnya dengan senyum miris di wajahnya. "Saya hanya tidak suka pada pria yang lebih mengutamakan orang lain dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Dan memangnya Anda anggap diri Anda itu siapa? Raja? Yang akan diperebutkan setiap wanita? Anda menganggap diri Anda piala bergilir? Atau Anda menduga saya itu sama dengan para wanita yang selama ini dekat dengan Anda? Anda menduga saya sama dengan rekan-rekan bisnis wanita Anda?Maaf, tapi saya tidak mau menjadi salah satu wanita buangan Anda.” Jawab Caliana, lagi-lagi dengan nada merendahkan. “Buangan?" Kini Adskhan yang merasa tak paham. "Apa maksudnya itu?” tanyanya bingung. “Jangan berpura-pura bodoh, Sir.” Tegur Caliana. “Sekarang Anda tertarik pada saya dan merasa bahwa saya menjadi tantangan untuk Anda hanya karena saya tidak bersikap lunak seperti wanita-wanita Anda sebelumnya. Anda menduga saat ini saya sedang jual mahal? Ya, Anda memang benar. Saya sedang jual mahal. Karena saya memang bukan w************n seperti wanita-wanita yang Anda dekati sebelumnya. Yang dengan sukarela Anda buang setelah Anda bosan dengannya. Maaf jika saya merusak ego Anda, Sir. Tapi saya tidak tertarik pada Anda. Dan saya tak pernah berniat menjadi salah satu diantara banyaknya dereran wanita 'bekas’ Anda. Sir.” Caliana mendorong Adskhan dan kali ini ia benar-benar keluar dari kolam. Adskhan memandang kepergian gadis itu masih dengan bingung. Pikirannya teralihkan karena ia tidak fokus akibat pemandangan yang ada di hadapannya. Sial. Melihat Caliana mengenakan pakaian biasa saja sudah membuat Adskhan tergoda. Dan sekarang ia lebih tergoda lagi ketika melihat gadis itu mengenakan pakaian renang yang begitu membungkus erat tubuh sintalnya. Ya Tuhan, tubuh Adskhan benar-benar berdenyut nyeri. Bukan hanya saat ini, tapi sejak tadi. Caliana masuk ke dalam kamarnya dengan bathrobe basah di tubuhnya. Kepala Gita berputar melihat wajah sahabatnya yang juga tidak kunjung membaik sejak tadi. “Kenapa lagi?” tanyanya ingin tahu. Caliana menatapnya dengan sinis. “Playboy itu. dia pikir dia siapa? Berani-beraninya dia nganggap gue cewek gampangan yang mau sama dia habis dia beres sama ceweknya. Sorry, diluaran sana pemuda yang masih lajang, muda dan tampan itu banyak.” Seru Caliana seraya masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Gita yang hanya melongo tak mengerti. Gita hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada ponsel yang sedang menayangkan berita gosip. Sementara itu, Adskhan pun kembali ke kamarnya dengan badan yang basah. Lucas dan Erhan menatap sepupunya. Tidak seperti Gita yang bertanya ada apa. Mereka lebih memilih mengabaikan Adskhan ketika melihat mimik wajah pria itu yang terkesan menyeramkan. “Sepertinya usaha sepupu kita tidak berhasil, Sepupu." bisik Erhan pada Lucas. Jelas bukan bisikan pelan karena Adskhan masih bisa mendengarnya. “Jelas. Kan udah dibilangin, Caliana itu gak mudah ditaklukan. Salahnya sendiri yang gak percaya.” Jawab Lucas. Adskhan menatap kedua sepupunya dengan sebuah delikan sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. ~~~~~~~~~~~~~~~~ #wajibjawab Disini reader cowok siapa aja? coba ngaku?? Mimin butuh krisannya ????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN