Gita melirik jam tangannya. Ia juga melirik Caliana. Belum waktunya mereka check out dari penginapan namun sahabatnya itu dengan segera membereskan pakaiannya setelah selesai mandi. Wajahnya yang tampak cemberut membuat Gita tak banyak bertanya dan memilih mengikuti apa saja yang dilakukan sahabatnya. Ia tidak mau ditinggalkan Caliana di kota yang tidak ia kenal.
Caliana benar-benar pergi, bahkan ia tidak berpamitan atau mengkhawatirkan keponakannya. Gita mengekorinya saja tanpa ingin bertanya karena takut.
Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore ketika Caliana menepikan mobilnya di jalan sebelum lingkar Nagreg, tempat yang beberapa waktu ini menjadi trending di media sosial karena dijadikan tempat berfoto. Gita bertanya-tanya sendiri apakah sahabatnya itu hendak melakukan hal narsis dengan ikut berfoto di sana? Tapi waktu sebentar lagi gelap, apa yang ingin ditunjukkan gadis itu di fotonya?
Namun ternyata Gita salah. Karena Caliana menepi bukan untuk berselfie ria, melainkan mencari tempat beristirahat untuk melakukan kewajibannya.
Mereka duduk di salah satu kedai yang menyediakan kelapa muda dan juga jagung bakar sementara itu Gita sendiri menyeduh untuk menyeduh mie kuah yang menjadi salah satu menu andalan di warungan itu
“Kenapa sih loe? Sejak kemarin bawaannya bete mulu?” Setelah melihat wajah sahabatnya yang sudah jauh lebih tenang, akhirnya Gita memberanikan diri untuk bertanya.
“Menurut loe?” Caliana balik bertanya.
“Kalo gue tau, masa iya gue nanya. Ngabisin kosakata aja.” Gumamnya dengan mimik kesal. Caliana terkekeh. “Apa ini ada hubungannya sama trio Turkish itu?” tanyanya meskipun tak yakin.
“Gue baik-baik aja sama yang dua. Tapi sama yang satu.” Caliana menggelengkan kepala.
“Yang mana?”
“Tebak”
“Adskhan kah?” Gita lagi-lagi menduga. Caliana hanya terdiam. “Emangnya kenapa sama dia?”
“Menurut loe, hubungan dia sama Anastasia kayak gimana?” Caliana balik bertanya. Gadis itu bahkan tidak menolehkan kepala kearah Gita. Bersikap seolah pertanyaan itu tak penting. Namun Gita menganggapnya berbeda.
“Kenapa? Loe cemburu sama dia?” pertanyaan itu membuat Caliana menoleh dan memandang Gita sinis. Gita balik nyengir dan mengedikkan bahu. “Gak salah kan kalo gue nanya kayak gitu. Loe bukan orang yang suka kepo sama hubungan orang lain. Tapi kok tiba-tiba nanyain hubungan Big Boss sama cewek itu. Kalo bukan cemburu, gue mesti nyebutnya apa?”
“Jawab aja. Menurut loe hubungan keduanya gimana?”
“Mesra.” Hanya itu komentar Gita. Dan Caliana terkekeh.
“Trus kalo tiba-tiba dia bilang dia suka sama loe?” Caliana kembali bertanya.
Gita terbelalak. Ia menatap Caliana tak percaya. “Maksud loe? Big Boss bilang suka sama loe?” tanyanya dengan nada tinggi. Caliana menganggukkan kepalanya. “Wah, kurang asem banget tuh duren. Maunya dia apa? Ini sama aja kayak pelecehan seksual Na.” gerutu Gita dengan wajah yang jelas tampak kesal.
“Kenapa loe kesel?” tanya Caliana pada sahabatnya.
“Ya gimana gak kesel. Jelas-jelas belum lama ini dia gandeng cewek trus sekarang loe bilang kalo dia bilang suka sama loe? Emang dia pikir kita ini cewek apaan? Cewek murahan? Iya dia emang kaya, gue akuin dia juga tampan dan punya body macho yang kayaknya enak buat diraba-raba. Tapi gak kayak gitu juga kali.” Ucapnya dengan berapi-api. “Seplayboy-playboy nya cowok, seenggaknya mereka ngasih waktu buat jeda. Minimal ngehargain mantan. Masa iya putus langsung gaet lagi cewek yang baru. Itu artinya cowok itu kalo gak punya perasaan berarti dia udah selingkuh duluan sebelum putus.” Lanjutnya lagi.
Caliana hanya mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada sebuah senyum kecut di wajahnya, namun sepertinya Gita tidak memperhatikannya. “Trus, kalo gue tolak, gak apa-apa kan?” tanya Caliana dengan nada datar.
Gita kini memberikan perhatian penuh pada Caliana. “Loe suka sama dia?” Gita balik bertanya.
“Gue yang nanya sama loe, jangan balik nanya.” Ketusnya.
“Kalo gue sih, loe nolak dia itu udah bener.” Komentarnya lagi. Caliana melihatnya dan tersenyum.
“Alasannya?”
“Ya karena emang masuk akal kayak gitu.” Jawabnya. Mereka kembali duduk dengan bertopangkan kedua tangan di belakang punggung. “Kita memang gak bisa menyalahi kodrat Illahi. Kalo emang udah jodoh pasti gak akan kemana. Bahkan meskipun kita lari ke ujung dunia buat menghindar, Allah akan selalu memberikan jalan. Tapi…” Gita memberikan jeda. “Kita bisa memilih untuk menghindar jika memang kita punya kesempatan.” Jawabnya.
Caliana melirik Gita. Gadis itu tampak tengah menerawang jauh. “Kalo ada setitik rasa dalam hati loe buat dia. Gue gak nyaranin buat dihilangin. Semisal emang dia bener-bener suka sama loe, kasih aja dia waktu buat berusaha dan perjuangin loe. Biarin dia nunjukkin seberapa kesungguhannya sama loe.
Gue bukannya nutup mata, Na. Sejak awal memang semuanya terkesan aneh. Keberadaannya dia di cabang kita yang bisa dibilang gak begitu besar. Meskipun gue gak tahu alasan di baliknya, tapi pasti ada alasan kenapa dia yang selama ini tinggal di pusat dan gak pernah nunjukkin batang hidungnya tiba-tiba tertarik untuk pindah ke kota kita.”
“Loe juga asalnya dari Jakarta, keles.” Sanggah Caliana. Gita terkekeh.
“Iya. Nah loe tahu. Loe bahkan tahu alasan kenapa dulu gue pilih kerja di Bandung.” Gita mengingatkan. Caliana ingat bahwa kepindahan gadis itu ke Bandung demi mengejar cintanya, namun sayangnya cinta mereka kandas karena Gita diduga berselingkuh dari pacarnya. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu. “Pasti ada alasan juga buat pria itu pindah kesini, bukan begitu?”
Caliana mengangguk. “Mungkin dia mau lebih dekat sama anaknya.” Jawabnya. Ia sendiri sebenarnya tidak yakin.
“Harus seperti itu? masih banyak cara lain kalau dia memang mau deket sama anaknya. Dia bisa aja mindahin anaknya ke Jakarta, atau gak dia datang kesini seminggu sekali. Hellow, Jakarta-Bandung gak mesti naik pesawat kali.” Decihnya. “Tapi dia mendadak rela gantiin Sir Lucas, karena apa? Karena ada iler di atas bantal.” Selorohnya. Caliana terkekeh.
“Itu mah loe, tidurnya pake ngiler.” Komentar Caliana.
“Ya kali gue bisa ngekonsep tidur gue kayak Sleeping Beauty atau Snow White. Yang meskipun tidur tetep aja kelihatan cantik.” Gumamnya. Caliana lagi-lagi terkekeh.
“Jadi menurut loe, dia emang kesini karena dia punya maksud tertentu. Dan maksud nya itu gue?” caliana kembali pada pokok pembicaraannya.
Gita memandang Caliana. Gadis itu tiba-tiba duduk dengan tegak dan bersila. Tubuhnya menghadap Caliana sepenuhnya. “Bayangin aja. Dia ada di kantor kita—padahal dulu ia gak pernah ngelakuin. Dan dia bawa Carina sama anaknya kesini—padahal lagi-lagi, itu bukan hal yang pernah dia lakuin. Apa loe pernah denger selama ini dia datang ke pernikahan karyawan? Atau melayat karyawan kita yang kemusibahan? Setahu gue, selama ini dia selalu minta seseorang buat wakilin. Kalo enggak, Sir Lucas yang selalu nya datang buat ngelakuin itu semua. Gue salah?” Caliana menggelengkan kepala. Apa yang dikatakan Gita memang benar. Sangat benar.
“Yang bikin curiganya adalah, dia bawa-bawa keponakan loe. Oke kalo dia mau deket sama anaknya. Tapi apa mesti dia bawa keponakan loe? Gue tahu, semua itu Cuma buat pancingan doang. Dia jadiin si Carina jembatan supaya bisa deket sama loe. Apa gue salah?”
Caliana lagi-lagi menggeleng. Gita tidak tahu bahwa selama ini Adskhan mencoba mendekatinya dengan menggadaikan nama Syaquilla.
“Lagian An, semisal loe suka sama dia. Dia suka sama loe. Menurut loe gimana tanggepan nyokap loe?” tanya Gita dengan mimik serius. Caliana kini ikut alur pikirannya. Tiba-tiba saja dia membayangkan reaksi ibunya, sesuatu yang bahkan selama ini tidak pernah ia pusingkan.
Ibunya jelas mengenal nenek Syaquilla, ibu dari Adskhan. Meskipun pertemuan pertama mereka ketika wanita paruh baya itu menitipkan Syaquilla, tapi Caliana bisa melihat bahwa respon ibunya pada keluarga itu baik-baik saja. Tapi apakah sikap ibunya itu akan sama juga pada Adskhan.
Caliana tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ibunya itu sedikit banyak sangat memperhatikan apa yang orang lain katakan. “Gue gak tahu.” Jawab Caliana pada akhirnya.
“Gue gak yakin kalo nyokap loe bakal nerima Sir Adskhan dengan mudah.” Komentar Gita. Ia kembali pada posisi duduk awalnya. Berselonjor dengan bertopang pada kedua tangan yang diletakkan di belakang punggungnya. “Loe anak gadis. Satu-satunya. Yang pasti, nyokap loe maunya loe nikah sama bujang. Plus nya kalo bujang itu kaya.” Lanjutnya lagi. Caliana melirik ke arahnya dengan lirikan sinis. Gita hanya terkekeh. “Kalo loe gak percaya. Coba aja. Bilang sama nyokap loe kalo ada duda anak satu yang naksir sama loe. Gue yakin dia bakal nimpukin loe sama spatula.”
“Kalo gitu, gue mestinya bawa Lucas atau Erhan aja, gitu?” Caliana balik bertanya dengan nada mengejek pada Gita.
“Sir Lucas aja deh. Dia ada di middle. Ganteng, penuh perhatian, humble. Suamiable deh kayaknya.” Komentar Gita lagi.
“Jadi, menurut loe Sir Adskhan bukan tipe suamiable?” tanya Caliana.
Hal itu membuat Gita kembali mengerutkan dahi. “Ada dua hal yang harusnya menjadi pertanyaan kalo kita mau punya hubungan sama duda.” Jawabnya dengan serius.
“Apa?” tanya Caliana penasaran.
“Apa yang menjadi alasan mereka berpisah. Dan siapa yang bersalah.” Gita kembali menatap Caliana serius. “Bukankah selalu ada alasan kenapa mereka yang bercerai tidak bisa mempertahankan rumah tangga? Entah itu karena kesalahan si A atau si B. tentu ada alasan yang mendasari perpisahan mereka. Dan jika kita memang mau memulai sesuatu dengan mereka yang pernah gagal. Itu berarti kita harus tahu apa yang menjadi alasan kegagalan mereka. Karena tentunya mereka melangkah maju bukan untuk mengulangi kesalahan yang sama. Dan kita yang hendak melangkah maju dengan mereka, tentunya tidak ingin melakukan kesalahan yang serupa. Jadi demi menghindari kegagalan yang kedua. Kita harus tahu semua yang menjadi masalah mereka di masa lalunya. Apa gue salah?”
Caliana menggelengkan kepalanya.
“Terlalu banyak resiko bagi kita yang belum berumah tangga untuk menikah sama duda, An.”
“Gue gak pernah mikirin nikah, kali.”
Gita mendecih. “Kalo gak mikirin nikah, buat apa pacaran? Ya udah single aja seterusnya.” Komentarnya lagi.
“Itu sih elo yang ngebet pengen kawin.” Sanggah Caliana. “Mentang-mentang ditinggal merit sama si Ican, loe jadi baper kayak gini.” Selorohnya. Gita yang kesal memukul lengan Caliana sehingga menimbulkan suara yang nyaring. Caliana terbahak karenanya.
“Gue serius, Ana!” betak Gita kesal.
Caliana mengusap lengannya seraya mengangguk. “Iya-iya, Bu Gita. Silahkan dilanjut. Jadi resiko kalo nikah sama duda itu apa?”
Gita mendelik pada Caliana, namun ia menjawab. “Satu. Kendalanya mantan istri. Apa loe yakin mantan istrinya gak akan balik dan ngerecokin hubungan loe suatu saat nanti. Kalo dia gak ngerecokin hubungan loe sama laki loe secara langsung, dia akan cari jalur alternative lewat si anak.”
Caliana mengerutkan dahi. Dimana ibu Syaquilla. Apa iya wanita itu akan kembali ke kehidupan mereka suatu saat kelak. Caliana kemudian menggelengkan kepala. Lagipula kenapa ia harus memikirkannya, ia juga tidak akan menikah dengan Adskhan.
“Kedua. Entah itu pernikahan sukarela karena cinta atau karena terpaksa. Mau gak mau, suatu saat loe bakal jadi bahan perbandingan laki loe sama mantannya dulu. Entah itu dari segi penampilan, sikap, masakan. Dan lain hal.”
Caliana kembali mengerutkan dahi. Gita lagi-lagi benar akan hal itu. apakah nantinya ia akan rela dibanding-bandingkan dengan sosok yang sebenarnya tidak ia kenal? Ia menggelengkan kepala dengan keras. Kenapa ia harus repot memikirkannya. Dia kan tidak punya niat untuk menjadi istri pria itu.
“Ketiga.” Pikiran Caliana kembali terarah pada Gita. “Anak. Apa anak itu akan sepenuhnya suka sama kita atau enggak.” Lanjutnya. Gita melihat Caliana. Memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah dan kembali ke atas. “Tapi buat jawaban itu sih, gue rasa dia suka. Cuma ya, itu gak menjamin dia gak akan goyah kalo suatu saat ibu kandungnya balik.” Gita lagi-lagi mengedikkan bahu. “Dan keempat.” Lanjut gadis itu.
“Keempat?” Caliana mengerutkan dahi. Sebenarnya ada berapa poin sih yang akan disebutkan gadis itu?
“Keempat sama seterusnya, gue pikirin dulu.” Jawabnya jenaka. Caliana mencebik dan menoyor bahu sahabatnya itu. “Apapun itu yang terjadi kelak. Loe mesti yakinin dulu kalo loe siap sama segala kemungkinan yang ada. Dan utamakan, loe cinta sama percaya dulu sama dia.” Lanjutnya.
Caliana tidak menjawab. Dia memilih turut mengikuti arah pandang gadis itu. mendongak ke arah langit yang gelap yang menunjukkan bulan sabit yang indah.
~~~~~~~~
Maap telat update