Aku memejamkan kedua mataku ketika Lavina mengecup keningku dengan lembut, lalu ciuman nya turun pada kedua kelopak mataku secara bergantian. Dan juga menyusuri ujung hidung dan kedua pipiku, hingga berakhir di bibir ku. Bukan hanya sekedar kecupan, Lavina berinisiatif untuk melumat nya lebih dulu. Menyatukan bibir kami dan kemudian saling melumat dan menghisapnya dengan penuh cinta juga bercampur nafsu. Ini bukan pertama kali nya Lavina mau memulai lebih dulu, tapi dia memang jarang memulai hal panas lebih dulu. Sepertinya dia mengerti situasi, Lavina memang sangat peka padaku yang terkadang suka memendamnya sendiri, hanya agar tidak mengganggu fikiran nya dan membuatnya cemas. Dengan perlahan, deru napas ku dan dia berubah berat. Jemarinya membuka satu persatu kancing pakaian ku dan k