Bab 1 — Anniversary yang Hancur
Malam itu seharusnya menjadi malam paling membahagiakan dalam hidup Asha. Mobil online yang ditumpanginya berhenti tepat di depan sebuah restoran mewah di puncak gedung pencakar langit. Lampu-lampu kota yang berkilauan terlihat seperti lautan bintang dari bawah sana. Orang-orang yang turun di tempat itu tampak elegan, percaya diri, dan berkelas. Sebagian besar perempuan mengenakan gaun mahal dan sepatu hak tinggi yang bunyinya beradu rapi dengan lantai marmer.
Asha menatap pantulan dirinya di pintu kaca restoran. Ia tidak memakai gaun semewah mereka. Hanya blouse putih lengan panjang dengan potongan sederhana, rok panjang warna krem, tas kecil, dan sepatu hak rendah. Rambutnya dibiarkan tergerai setengah diikat. Tidak mencolok. Tidak glamor. Sederhana. Terlalu sederhana, kata Feli pernah mengejek.
Namun Bimo tidak pernah mempermasalahkannya. Setidaknya, begitulah yang selama ini Asha percaya. Jemarinya menyentuh kotak kecil di dalam tas. Senyum tipis muncul di bibirnya. Di dalam kotak itu ada jam tangan yang dibelinya untuk Bimo. Ia sudah menabung diam-diam selama dua bulan demi hadiah itu. Tidak terlalu mahal, tapi cukup elegan untuk dikenakan lelaki yang selama lima tahun terakhir selalu ia sebut rumah.
Malam ini anniversary mereka yang kelima. Lima tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan. Asha bahkan sempat berpikir, mungkin malam ini Bimo akan membicarakan langkah yang lebih serius. Mungkin pertunangan. Mungkin pernikahan. Mungkin masa depan yang selama ini ia tunggu dengan sabar.
Ponselnya bergetar. Asha cepat-cepat membukanya, berharap nama Bimo muncul di sana. Namun yang muncul justru pesan dari Ceril...
Ceril:
Udah sampai, Sha?
Asha tersenyum kecil. Sejak tadi sore Ceril memang terlihat aneh di kantor. Wajahnya pucat dan bicara seperlunya. Saat Asha bercerita dengan antusias kalau malam ini Bimo mengajaknya makan malam anniversary di tempat mewah, Ceril hanya tersenyum tipis lalu bilang dirinya kurang enak badan. Asha langsung mengetik balasan.
Asha:
Baru sampai. Kamu udah mendingan?
Centang satu. Belum terkirim sempurna. Asha mengernyit, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Mungkin sinyalnya buruk. Ia melangkah masuk ke lobi, lalu menuju lift khusus menuju rooftop. Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, suara musik piano yang lembut menyambut telinganya. Aroma bunga segar dan makanan mahal bercampur di udara. Beberapa meja telah terisi pasangan-pasangan yang tersenyum sambil saling menatap.
Semua terlihat indah, semua terlihat seperti malam yang pantas dikenang. Asha mengedarkan pandangan, mencari sosok Bimo. Tidak ada … Ia mengeluarkan ponsel lagi dan mengirim pesan.
Aku sudah sampai. Kamu di mana?
Pesan itu terkirim. Tak lama kemudian centang dua. Tapi tidak dibaca. Asha menahan senyum. Mungkin Bimo sedang menyiapkan kejutan. Pria itu memang kadang seperti itu. Terlambat sedikit demi membuat sesuatu terasa lebih spesial. Dan untuk malam kelima tahun hubungan mereka, Asha rela menunggu.
Ia berjalan perlahan melewati deretan meja, memandangi dekorasi lampu gantung yang menggantung anggun di atas ruangan. Sampai langkahnya melambat sendiri.
Di ujung area restoran, agak tertutup oleh partisi tanaman tinggi, ia melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya. Tubuh tegap. Kemeja gelap. Potongan rambut yang selalu rapi.
Bimo.
Mata Asha langsung berbinar. Namun kebahagiaan itu hanya bertahan tidak sampai tiga detik. Karena Bimo tidak sedang sendirian. Di hadapannya berdiri seorang perempuan dengan gaun ketat warna marun, rambut bergelombang, dan tubuh yang terlalu familiar untuk disalahartikan.
Asha berhenti total. Jantungnya berdegup keras, lalu semakin keras saat perempuan itu sedikit memiringkan wajahnya ke arah lampu.
Ceril.
Udara di sekeliling Asha mendadak terasa tipis. Untuk beberapa saat, ia masih mencoba berpikir jernih. Mungkin mereka bertemu secara kebetulan. Mungkin Ceril datang dengan orang lain. Mungkin Bimo hanya sedang—
“Bimo, aku capek disuruh nunggu terus.” Suara Ceril menembus telinganya dengan jelas.
Tubuh Asha membeku. Ia refleks mundur selangkah, lalu bersembunyi di balik pilar besar dekat partisi tanaman. Napasnya mendadak menjadi pendek. Dingin menjalar dari tengkuk ke ujung jari.
“Aku sudah bilang, jangan mulai lagi,” suara Bimo terdengar rendah, seolah sedang menenangkan kekasih yang ngambek.
Kekasih. Kata itu tiba-tiba muncul sendiri di kepala Asha, membuat dadanya seperti diremas brutal.
Ceril tertawa pendek, sinis. “Jangan mulai lagi? Kamu bilang bulan lalu mau putusin Asha. Sekarang malah rayain anniversary lima tahun?”
Asha memejamkan mata kuat-kuat. Tidak… tidak mungkin… Ia pasti salah dengar. Namun suara Bimo berikutnya mematahkan semuanya.
“Asha itu gampang diatur kalau aku mau.”
Mata Asha langsung terbuka. Dunia seperti berhenti di tempat.
Ceril mendengus. “Tetap aja, aku capek, Bimo. Kamu terus bilang sabar, sabar, sabar. Memangnya sampai kapan?”
“Jangan keras kepala.” Suara Bimo terdengar santai. Terlalu santai. “Aku cuma lagi nyusun langkah.”
“Langkah apa? Memanfaatkan dia lebih lama?”
Tangan Asha bergetar. Ia ingin lari. Ia ingin menutup telinganya. Ia ingin bangun dari mimpi buruk ini. Namun kakinya tak bergerak. Ia justru berdiri semakin kaku saat mendengar Bimo berkata dengan nada yang tak pernah Asha kenali sebelumnya.
“Kamu pikir kenapa aku tahan sama cewek kayak Asha?”
Mata Asha terasa panas.
“Dia kaku, nggak seru, susah disentuh. Tiap kali aku mau lebih dekat, selalu saja pakai alasan belum menikah. Gayanya juga begitu-begitu saja. Nggak modis. Nggak asyik. Kalau bukan karena nama keluarganya, aku juga malas.”
Asha menutup mulutnya dengan telapak tangan sendiri. Air matanya langsung jatuh. Satu kalimat demi satu kalimat menghantamnya jauh lebih kejam daripada tamparan. Bimo. Lelaki yang selama ini ia jaga. Lelaki yang ia percaya. Lelaki yang ia pikir mengenal dan menerima dirinya apa adanya. Ternyata justru sedang menertawakan seluruh dirinya di depan perempuan lain.
Ceril terkekeh pelan. “Aku tahu dari awal dia memang bukan tipe kamu.”
“Tentu bukan,” jawab Bimo tanpa ragu. “Tapi nama keluarga yang dia pakai itu berguna. Orang masih lihat dia bagian dari keluarga besar itu. Padahal aslinya? Dia cuma anak sepupu yang diasuh pamannya.” Kalimat itu menghantam titik terdalam yang selama ini paling rapuh dalam hidup Asha.
Statusnya di keluarga. Rahasia yang tak pernah benar-benar ingin ia bahas dengan siapa pun. Bahkan dengan Bimo sekalipun. Ternyata lelaki itu tahu. Dan justru menjadikannya senjata.
Tubuh Asha gemetar hebat. Dengan sisa kesadaran yang entah datang dari mana, ia merogoh ponsel dari dalam tas, lalu menyalakan perekam suara. Tangannya terlalu gemetar sampai hampir menjatuhkan benda itu. Namun ia tetap merekam. Setidaknya kalau malam ini hatinya hancur, ia tak akan membiarkannya hancur tanpa bukti.
Ceril kembali bicara, nada suaranya terdengar tak sabar. “Jadi aku harus nunggu kamu kapan? Sampai kamu sukses? Sampai kamu puas pakai nama keluarganya?”
Bimo mengembuskan napas, lalu terdengar suara gelas diletakkan di atas meja.
“Aku cuma butuh waktu. Begitu posisiku stabil, aku akan putusin dia pelan-pelan.”
“Dan sekarang kamu masih mau pura-pura jadi pacar manis?”
“Tentu.” Bimo tertawa kecil. “Perempuan kayak Asha gampang ditenangkan. Candle light dinner, bunga, hadiah sedikit, dia pasti luluh lagi. Dia terlalu percaya sama aku.”
Candle light dinner. Bunga. Hadiah. Semua yang sejak tadi membuat Asha tersenyum bahagia mendadak berubah jadi lelucon memalukan. Ceril tampaknya masih tak puas. “Kalau begitu kenapa nggak kamu putus sekarang saja?”
Karena penasaran, karena sakit, karena sebagian kecil dirinya masih berharap ada jawaban yang tidak terlalu buruk, Asha menahan napas. Lalu Bimo menjawab dengan nada pelan namun jelas.
“Karena dia masih berguna.” Asha merasa lututnya hampir lepas.
Dari celah daun tanaman, ia bisa melihat Bimo melangkah mendekat ke Ceril. Tangan pria itu menyentuh pinggang perempuan tersebut dengan begitu akrab. Begitu ringan. Begitu terbiasa. Pemandangan itu menancap seperti pisau.
“Yang aku mau itu kamu,” suara Bimo terdengar rendah. “Tapi aku nggak mau rugi.”
Ceril akhirnya terdiam. Sedangkan Asha merasa seluruh isi perutnya teraduk-aduk. Ternyata itulah dirinya bagi Bimo. Bukan perempuan yang dicintai. Bukan calon masa depan. Bukan pasangan. Hanya alat… Hanya tangga…. Hanya sesuatu yang masih berguna. Tiba-tiba langkah kaki terdengar...
“Aku ke toilet dulu,” kata Ceril.
Asha panik. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya, lalu menjauh dari pilar dengan langkah goyah. Ia berjalan cepat ke arah lorong lift, nyaris tak bisa melihat jelas karena air mata yang terus turun. Begitu sampai di dekat lorong sepi, ia menempelkan punggung ke dinding. Napasnya kacau. Dadanya sesak sampai sakit. Tangan yang menggenggam ponsel masih bergetar tak terkendali.
Pikiran Asha kacau balau, tapi potongan-potongan kecil mulai menyambung sendiri. Wajah pucat Ceril siang tadi. Cara Bimo terlalu mudah bicara tentang relasi keluarga. Pertanyaan-pertanyaan Bimo tentang paman dan acara keluarga selama ini. Semua yang dulu ia anggap perhatian, ternyata hanya perhitungan.
Ponselnya bergetar mendadak. Nama Bimo muncul di layar. Asha menatapnya lama. Sangat lama. Panggilan itu berhenti. Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
“Sayang, aku sudah di sini. Kamu di mana?”
"Lalu satu lagi. Aku kangen. Malam ini spesial buat kita".
Asha menatap dua baris pesan itu sampai matanya terasa kering. Kangen? Spesial? Untuk kita?
Tawa kecil nyaris lolos dari bibirnya. Bukan tawa bahagia. Bukan juga tawa waras. Hanya semacam bunyi patah dari seseorang yang baru tahu bahwa lima tahun hidupnya dibangun di atas dusta.
Air mata kembali jatuh. Namun di sela rasa sakit itu, sesuatu perlahan tumbuh. Bukan kesedihan. Bukan lagi... Melainkan marah. Panas. Tajam. Lambat-lambat mengeras di dadanya. Kalau Bimo bisa berdiri di sana, memeluk perempuan lain, lalu beberapa detik kemudian mengetik kata sayang tanpa rasa bersalah—maka Asha tak ingin lagi menjadi perempuan bodoh yang hanya bisa menangis dan lari.
Ia menghapus air matanya kasar-kasar. Lalu menatap pantulan dirinya sendiri di kaca dekoratif lorong. Matanya merah. Wajahnya pucat. Bibirnya gemetar. Ia tampak seperti perempuan yang baru saja kehilangan segalanya. Mungkin memang begitu. Tapi ia belum selesai. Belum malam ini.
Belum sebelum lelaki itu duduk di depannya dan tersenyum dengan kebohongan yang sama seperti biasa Jari Asha bergerak membuka layar ponsel. Ia mengetik balasan dengan lambat, sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku sudah sampai. Tunggu aku di meja. Setelah pesan itu terkirim, Asha menarik napas panjang. Ia merapikan rambutnya. Membenarkan posisi tas di bahu. Menegakkan tubuh yang tadi nyaris runtuh. Di dalam tasnya, rekaman pengkhianatan itu tersimpan rapi.
Di dalam dadanya, cinta lima tahun itu baru saja mati. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, Asha ingin melihat bagaimana wajah Bimo saat duduk berhadapan dengan perempuan yang sudah mendengar segalanya. Ia mulai melangkah kembali ke area restoran. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Setiap langkah terasa berat, tapi juga membuat sesuatu dalam dirinya berubah. Malam anniversary mereka belum selesai. Justru baru dimulai. Dan Bimo belum tahu bahwa perempuan yang akan duduk di hadapannya nanti bukan lagi Asha yang sama...