“Ayah kok belum bangun ya?” gumam Akila saat dia melihat ke arah kamar sang ayah terlelap, pintunya masih tertutup dan Akila tidak mendapati sang Ayah di lantai utama. Dia hanya mendapati sang pelayan yang sedang menyiapkan sarapan untuk merka. Aromanya yang harum menarik perhatian Akila, dia mendekat ke sana. “Masa kapa, Bi?” “Ya Tuhan, Nyonya Akila. Senang sekali anda Kembali, Tuan terlihat frustasi sebelumnya.” “Akila juga seneng bisa ke sini lagi ketemu Bibi. Sekarang Bibi sama yang lainnya netep ya di sini? Gak ke rumah utama pulang?” “Enggak, Nyonya, di sana juga ada beberapa pelayan yang tersisa. Di sana tidak ada yang menempati, jadi kami yang khusus memasak dipindahkan ke sini. Nyonya camilan apa sebelum sarapan?” Akila tersenyum dan membuka kulkas, dia lebih suka melayani dir

