“Saya dengar kamu tadi bilang, ‘andai ada yang mau menawarkan jalan keluar, kamu rela menyerahkan tubuhmu’,” ucap Bram dingin, mengingatkannya pada gumaman putus asanya di rooftop.
“I-iya, tapi…” bata Kirana, gemetar.
“Kamu jijik karena saya sudah tua?” tanyanya lagi, menantang.
Kirana menggelak kuat-kuat. Bramasta tidak tua. Usianya mungkin baru awal empat puluhan, terawat, tampan, dan berwibawa. Jangankan dia yang berusia 29 tahun, perempuan mana pun pasti akan tertarik.
“B-bukan! Tapi… ini…”
“Hutangmu akan saya bantu. Tidak langsung 2,5 M, tapi bulan ini saya akan beri 100 juta sebagai bukti keseriusan saya, dan bahwa kamu menyetujui perjanjian ini.” Suaranya seperti pedagang yang sedang menawarkan kontrak.
“Selain itu, suamimu dapat pekerjaan. Bukankah itu tawaran yang sangat baik?” imingnya, halus namun mematikan.
Yang terpikir oleh Kirana adalah bayangan rumah tangganya yang akan tenang kembali. Tidak ada lagi pertengkaran, teriakan, atau air mata karena dikejar-kejar debt collector. Kedamaian itu hampir terbayar dengan segalanya.
“Kalau… kalau saya setuju…”
“Kamu boleh tetap kerja, tapi sebenarnya tugas utamamu adalah melayani saya. Saya akan beri tahu HRD bahwa kamu jadi asisten pribadi saya. Kamu juga akan saya minta bantu urus anak saya yang masih sekolah.” Bram menarik nafas panjang seolah dia menahan sesuatu di dadanya ”Istri saya sedang di luar negeri. Tapi tidak setiap hari, hanya kadang-kadang,” jelas Bram, merinci ‘tugas’-nya.”
“Bagaimana kalau… ketahuan?” bisik Kirana, suaranya nyaris tak terdengar.
“Jangan sampai ketahuan!” tegas Bram, nadanya tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi.
Dan akhirnya, dalam hening yang menyiksa, Kirana mengangguk lemah. Sebuah keputusan yang menghancurkan dirinya sendiri dibuat tanpa kontrak tertulis.
Tapi sebuah kontak fisik terjadi. Bramasta, yang telah menahan hasratnya, kini melepaskannya di ruang privat itu. Kirana memejamkan mata, merasakan setiap sentuhannya seperti pisau yang mengukir luka baru di jiwa yang sudah compang-camping. Air mata yang tadi sempat kering, kini mengalir lagi, menyaksikan sebuah perjanjian yang mengubah hidupnya selamanya.
Dengan anggukan lemah Kirana, sekat privasi ruangan itu seakan mengunci dunia luar. Bramasta mendekatinya, gerakannya penuh keyakinan yang membuat Kirana merasa kecil dan rapuh. Jari-jarinya yang halus menyentuh pipinya, menyapu sisa air mata yang masih hangat.
"Kamu cantik saat menangis," bisiknya, napasnya hangat di dekat telinganya. Tapi kalimat itu terasa seperti belati, mengingatkannya bahwa keindahannya adalah mata uang dalam transaksi ini.
Kirana memejamkan mata rapat-rapat. Dalam gelap, bayangan suaminya, Huda, muncul. Wajahnya yang lelah namun selalu penuh kasih. Dia membayangkan senyum Huda saat menerima kabar lowongan kerja, harapan baru yang akan mereka bangun. Ini untukmu, Sayang, bisik hatinya, mencoba mematikan suara hati yang berteriak mengutuk pengkhianatan ini. Ini pengorbanan terakhir untuk menyelamatkan kita.
Namun, sentuhan Bramasta segera menghancurkan lamunannya. Tangannya yang besar dan terampil menjelajahi tubuh Kirana dengan penguasaan yang membuatnya gemetar. Berbeda dengan Huda yang selalu penuh hati-hati dan bertanya, sentuhan Bram tegas, langsung, dan penuh intensitas. Ia tahu persis apa yang ia inginkan dan bagaimana mendapatkannya.
Saat Bram menanggangi tubuhnya, Kirana menahan napas. Perbandingan itu datang dengan keras dan tak diundang. Huda... lembut dan akrab, seperti selimut nyaman yang meneduhkan. Bram... besar, perkasa, dan asing. Kehadirannya terasa mendominasi, memenuhi setiap ruang dan sudut persepsinya, membuatnya merasa begitu kecil sekaligus... terpenuhi secara fisik dengan cara yang belum pernah ia rasakan.
Rasa bersalah membakar dadanya, lebih panas dari sentuhan Bram. Setiap erangan yang terpaksa keluar dari bibirnya terasa seperti pengkhianatan. Setiap respons tubuhnya terhadap sentuhan pria ini adalah cambuk bagi jiwanya. Tapi tubuhnya, yang sudah lama lapar akan kelembutan dan kepuasan, mulai memberontak. Ia mencoba melawan, tapi Bram adalah seorang maestro yang tahu setiap nada untuk dimainkan.
Dia bertahan lama, dengan stamina yang membuat Kirana kelelahan namun semakin liar terbawa arus. Setiap kali Kirana hampir mencapai puncak, Bram memperlambatnya, memanjangkan siksaan sekaligus kenikmatan itu hingga Kirana merasa hampir gila. Dan ketika ia akhirnya membiarkan dirinya meledak untuk pertama kalinya, itu seperti gempa bumi—mengguncang, menghancurkan, dan meninggalkan kehancuran yang manis.
Tapi Bram belum selesai. Dia membawanya lagi, dan lagi. Setiap klimaks Kirana lebih dahsyat dari sebelumnya, memaksanya untuk menyerah sepenuhnya pada sensasi fisik yang membara. Dalam kelemahan setelah o*****e yang ketiga kalinya, air matanya mengalir deras. Ini bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata kehancuran diri—pengakuan tubuhnya bahwa ia telah merasakan sesuatu yang luar biasa dengan pria yang bukan suaminya.
Bramasta akhirnya mencapai puncaknya dengan erangan rendah, mengisi ruangan dengan konsekuensi dari perjanjian mereka. Dia bersandar, memandangi Kirana yang masih terguncang, tubuhnya lemas dan jiwa yang tercabik-cabik.
Dia membelai pipinya yang basi. "Kita akan sering melakukan ini. Kamu akan belajar untuk menikmatinya tanpa rasa bersalah."
Kirana tidak bisa menjawab. Dia terkapar, hancur antara kenikmatan tubuh yang belum pernah ia rasakan dan lubang menganga di hatinya tempat rasa bersalah dan pengkhianatan bersemayam. Dia telah menyelamatkan keluarganya, tapi dengan harga yang mungkin baru saja ia sadari—jiwanya sendiri.
Bramasta mengambil dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna hitam yang mengilap di bawah lampu temaram. Dia menyelipkannya ke tangan Kirana yang masih gemetar.
"Ini berisi uang. Tidak banyak, tapi cukup untuk kebutuhanmu sehari-hari," ujarnya, suaranya datar namun penuh otoritas. "Jangan lagi berangkat kerja naik ojek. Nanti, setelah pengangkatanmu sebagai asisten pribadi saya resmi, akan saya berikan mobil. Bilang saja itu fasilitas kantor karena mobilitasmu tinggi."
Kirana menerima kartu itu. Plastik dingin itu terasa membakar telapak tangannya. Rasa bersalah yang tadi menyergap, perlahan dikalahkan oleh desakan logika betapa uang itu sangat dibutuhkan. Bayangan tagihan yang menumpuk dan kebutuhan sehari-hari membuatnya menggenggam erat kartu tersebut.
"Suami saya... besok bisa langsung interview?" tanyanya, mencoba mengalihkan perhatian dari transaksi yang baru saja terjadi.
Bram mengangguk singkat. "Saya butuh segalanya berjalan cepat. Jika semua lancar, minggu depan dia sudah bisa berangkat ke Surabaya. Di sana sudah disediakan rumah dan kendaraan dinas." Janji itu terdengar seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan, meski dibayar dengan harga yang sangat mahal.
"Terima kasih, Pak," ucap Kirana, suaranya lirih, dipenuhi oleh campuran rasa syukur yang pahit dan rasa malu yang dalam.
Bram tersenyum tipis, tapi matanya masih menyimpan intensitas yang mengintimidasi. "Kirana..." ucapnya lagi, membuat perempuan itu menegang. "Iya, Pak?"
"Maaf tadi... saya menggagahimu di sini," katanya, namun permintaan maaf itu tidak terdengar bersalah. "Saya orangnya kadang tidak bisa menahan diri. Itu alasan saya membutuhkan kamu. Kadang, saya bisa menginginkanmu di mana saja, kapan saja, asal saya anggap tempat itu aman dan nyaman." Dia berhenti sejenak, memandangi reaksi Kirana. "Saya hyper."
Kata terakhir itu menggantung di udara. Perut Kirana bergejolak campur aduk. Rasa mual, malu, dan sebuah sensasi aneh yang tidak ingin ia akui. Dia meremas ujung dress kerjanya yang sudah kusut, kulitnya masih mengingat setiap sentuhan pria itu.
Dia mengangguk pelan, tidak mampu berkata-kata.
Tapi di dalam, sesuatu yang liar berdenyut. Sebuah bagian dari dirinya yang terpendam dan tidak dikenali justru terpancing oleh pengakuan Bram itu. Kata 'hyper' itu menggelitik sisi gelapnya, membangkitkan rasa penasaran dan, yang membuatnya semakin bersalah, sebuah antisipasi liar untuk pengalaman-pengalaman mendatang yang ia tahu tidak boleh ia dambakan.