Penolong
Tetes air mata masih mengalir di pipi Kirana, menghapus sisa-sisa riasan wajahnya. Setelah menutup telepon, dia memeluk erat handphonenya seakan itu adalah satu-satunya pegangan di dunianya yang runtuh. "Andai saja kehidupan nyata seperti di novel-novel atau drama," bisiknya lirih, suaranya parau oleh tangis. "Aku mungkin bisa bertemu pria kaya, dan demi melunasi hutang itu... aku rela tidur dengannya." Desahan keputusasaan menyertai gumamannya, seolah dunia telah menutup semua pintu harapannya.
Matanya yang sembab memandang kosong ke langit Jakarta yang kelabu, tidak menyadari bahwa ada seorang lelaki yang telah menyaksikan semua kelemahannya. Bramasta tiba di rooftop untuk mencari angin segar, namun justru menjadi saksi bisu dari kepiluan perempuan itu. Dilema menyergapnya, antara menghormati privasi atau menawarkan bantuan.
"Maaf," ucapnya pelan, suara baritonya bergetar penuh kharisma. "Aku tidak sengaja mendengar dan melihat semuanya."
Kirana terkejut, tubuhnya berputar cepat. Di hadapannya berdiri seorang lelaki berpenampilan necis dengan aura wibawa yang kuat. Rasa malu dan panik membara di pipinya yang masih basah.
"Maafkan saya, Pak! Saya tidak tahu ada orang di sini," katanya berusaha mengusap air matanya dengan punggung tangan yang tak lagi mampu menyembunyikan kegelisahannya.
Bramasta merasa dadanya sesak melihatnya. Dengan gerakan halus, ia mengulurkan sapu tangan linen bermereknya. "Pakai ini," ujarnya, suaranya lebih lembut dari yang ia bayangkan.
Dengan ragu, Kirana menerimanya. Sapu tangan itu terhalus yang pernah ia sentuh, harumnya seperti hutan pinus setelah hujan.
"Namamu siapa?" tanya Bram, matanya menatap tajam.
"Saya Kirana Cayane, bekerja di perusahaan Wira Baja. Kalau Bapak?"
Bram tersenyum tipis. Dari caranya bertanya, jelas Kirana tidak mengenalinya. "Saya Aji," ujarnya, setengah jujur, karena nama lengkapnya Bramasta Aji Sanya. "Kamu boleh panggil saya Pak Aji. Saya juga bekerja di sini. Kok belum pernah lihat kamu? Di bagian apa?"
"Saya hanya admin," jawab Kirana, menunduk malu.
"Kamu sudah makan?" tanya Bram, matanya menyoroti tubuhnya yang ramping.
Kirana menggeleng, "Saya tidak enak makan," dustanya. Padahal, dompetnya hampir kosong hingga harus menghemat setiap receh.
"Tidak makan bisa sakit," tegurnya. "Bagaimana kalau saya traktir?"
"Terima kasih tawarannya, Pak, tapi saya tidak lapar," tolaknya lemah.
Bram tahu itu bohong. Ada getar keputusasaan dalam suaranya. "Bagaimana kalau kita makan siang sambil membicarakan solusi untuk masalahmu?" tawarnya lagi, lebih persuasif.
"Masalah saya? Memang Bapak tahu?"
"Hutang. Saya bisa kasih tahu kamu solusi..."
"Bapak rentenir? Mau menawari saya hutang?" tanya Kirana polos.
Bram nyaris tersedak. "Apa saya mirip rentenir?" tanyanya sambil menahan senyum.
Kirana memandangnya dari ujung kepala hingga kaki. "Nggak sih," akunya. "Tapi—"
Bram berbalik menuju pintu tangga darurat. "Saya tunggu kamu di parkiran, 15 menit lagi. Ijin saja ke atasanmu."
"Tapi Pak... saya—"
"Ikuti kata saya," pintanya, suaranya lembut namun penuh wibawa. "Bilang saja kamu mau ke klinik, sakit perut."
Kirana menarik napas dalam. Di ujung keputusasaan, mungkin ini jalan yang ditawarkan takdir. "Baik, Pak," jawabnya lirih, akhirnya mengangguk patuh.
Bramasta berjalan pergi, meninggalkannya sendirian di rooftop. Kirana memandangi sapu tangan di tangannya, masih harum oleh wanginya. Untuk pertama kalinya hari ini, ada secercah harapan yang menyelinap di antara air matanya.
Bramasta sudah menunggu di dalam mobil mewahnya. Ketika melihat bayangan Kirana terlihat ragu-ragu di pinggir parkiran, dia melambai pelan. Kirana bergegas mendekat, sedikit berlari.
“Jangan lari-lari, nanti terjatuh,” ucap Bram dengan nada yang tidak biasa, penuh perhatian. Sebuah sentuhan kepedulian yang sudah lama tidak Kirana rasakan.
Kirana hanya mengangguk, napasnya sedikit tersengal. Dia membuka pintu mobil dan masuk dengan hati-hati, merasa sedikit tidak percaya diri dengan suasana mewah yang menyelimutinya.
“Aku akan ajak kamu makan. Chinese food atau Japanese food?” tawar Bram sambil menyetir dengan lancar.
“Saya… apa saja boleh, Pak,” jawab Kirana, berusaha tidak merepotkan.
“Tidak boleh seperti itu,” sahut Bram lembut namun tegas. “Kamu harus belajar membuat keputusan untuk dirimu sendiri.”
“Chinese food saja, kalau begitu,” ucap Kirana setelah berpikir sejenak.
Bram membawanya ke sebuah restoran China eksklusif yang tak jauh dari sana. Suasana interiornya hangat dengan lampu-lampu temaram dan ornamen-ornamen klasik.
“Aku memesan area yang lebih privat. Gapapa, kan? Aku ingin pembicaraan kita tidak terganggu,” jelas Bram. “Tapi, kita makan dulu dengan tenang.” Kirana mengangguk patuh. Di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah harap kecil menyala, berdoa agar pria ini adalah jawaban dari semua doanya.
Mereka menyantap hidangan lezat yang membuat Kirana nyaris lupa betapa lama dia tidak menikmati makanan seperti ini. Sejak suaminya bangkrut, setiap suapan nasi terasa seperti privilege.
Setelah makan, Bramasta memasuki topik inti. Suasana pun berubah lebih serius.
“Berapa banyak hutang yang harus kamu tanggung?” tanyanya, menatap lurus ke mata Kirana.
“Dua setengah miliar, Pak,” jawab Kirana, suaranya bergetar penuh harap dan cemas.
"Banyak juga, ya.." gumam Bram.
“Itu hutang suami saya. Pabrik garmennya kebanjiran tahun lalu… semuanya habis.”
Bram mengangguk, menunjukkan dia mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Jadi… bagaimana Bapak bisa membantu saya? Apakah Bapak bisa memberikan pekerjaan untuk suami saya?” tanya Kirana penuh harap.
“Pengalaman suamimu mengelola perusahaan pasti cukup baik, ya?” tanya Bram lagi.
Kirana mengangguk antusias. “Suami saya sangat telaten dan jujur, Pak. Usahanya dulu dimulai hanya dengan lima penjahit saja.” Kebanggaan masih tersisa di suaranya, mengingat masa lalu yang lebih cerah.
“Kirana,” sapa Bram, nadanya berubah lebih dalam. “Kalau suamimu bekerja, bagaimana dengan anakmu? Kamu punya anak, kan?”
Kirana mengangguk. “Satu, perempuan. Usianya lima tahun.”
“Kebetulan, saya ada lowongan untuk mengelola sebuah cabang. Tidak harus ahli baja, tapi harus paham manajemen perusahaan. Posisinya di Surabaya. Jadi, salah satu dari kalian harus rela berkorban.”
“Hutang sebanyak itu… kami berdua akan kerja, Pak! Tidak masalah. Anak kami akan kami titipkan ke orang tua saya di kampung, adik saya bisa membantu menjaganya.”
“Oke,” kata Bram. “Suamimu boleh bawa lamarannya besok ke kantor pusat Wira Baja.”
“Bapak sebenarnya bagian apa, sampai bisa membantu seperti ini?” tanya Kirana penasaran.
Bram tersenyum tipis. “Saya Bramasta Aji Sanjaya. Kamu kenal?”
Wajah Kirana pun pucat. “Ya ampun… Big Boss?”
“Hm,” sahutnya singkat.
“Tapi, Kirana,” lanjutnya, suaranya tiba-tiba datar dan berjarak. “Bantuan ini tidak gratis. Sebagai imbalan karena saya mau mempekerjakan suamimu, saya minta sesuatu darimu.”
“Apa itu, Pak?” tanya Kirana, hatinya mulai berdebar tidak karuan.
“Jadilah simpanan saya.” Kalimat itu meluncur tajam, tanpa emosi, menusuk langsung ke jantung Kirana. “Saya tidak butuh perhatian atau kasih sayang. Saya hanya butuh teman di ranjang.”
Mata Kirana membulat. Pikirannya kosong, dunia seakan berhenti berputar. Dia mendengar suara itu, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya.