Bab 1. Mabuk
Dentuman bass menghentak keras memenuhi seluruh club malam. Lampu strobo berputar cepat, menari mengikuti ketukan musik. Raina berada di tengah kerumunan, tubuhnya bergerak liar dengan pakaian seksi dan minim yang ia kenakan. Bau alkohol, keringat, dan asap rokok bercampur menjadi satu, tetapi bagi Raina, itulah kebebasan yang memang sengaja ia cari setiap malam.
"Dika! Dika! Dika!"
Di atas panggung kecil, Dika berdiri di balik meja DJ sambil mengangkat sebelah tangannya. Musiknya mengguncang, membuat semua orang meneriakkan namanya. Ketika melihat Raina mendekat, ia tersenyum puas. Raina memeluknya dari samping, tubuh kecilnya masih terus bergoyang meski posisinya sempit. Sesekali mereka tertawa dan berciuman di tengah sorotan lampu.
“Sayang, lagu ini buat kamu,” kata Dika sambil mengganti beat.
Raina tertawa keras, bau alkohol memenuhi napasnya. Kepalanya terasa ringan dengan mata yang berkunang-kunang. Ia bahkan tidak sadar siapa saja yang memperhatikannya dari bawah. Yang ia tahu ia sangat mabuk, dan Dika adalah satu-satunya pegangan malam itu.
Saat jarum jam melewati tengah malam, kondisi Raina semakin buruk. Tubuhnya limbung dan langkah kakinya mulai melayang tak terarah. Dika yang melihat hal itu langsung menarik tangan Raina saat hendak kembali mengambil satu sloki whisky.
“Udah, Raina. Pulang aja, yuk. Kamu udah teler banget,” katanya sambil memeluk tubuh Raina.
"Hmm," sahut Raina setengah sadar.
Setelah itu, Dika segera mengajak Raina keluar dari kerumunan. Dia tahu, jika Raina berada di sana lebih lama lagi, mungkin kesadarannya akan segera menghilang.
"Raina, tegakkan kepalamu dulu."
Dika memasangkan helm setengah pada kepala Raina yang terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Setelah helm akhirnya terpasang, mereka melaju dengan motor besar Dika, meninggalkan gemuruh club malam menuju jalanan gelap yang sepi. Angin malam menusuk kulit, membuat Raina memeluk pinggang Dika erat-erat. Tangannya yang lemah merosot, menempel di paha Dika. Sentuhan itu membuat d**a Dika mengeras, pikirannya mulai dipenuhi dorongan tak sehat yang menguasai akalnya.
"Ah, Raina. Kamu yang mulai, ya," gumamnya tanpa bisa didengar oleh Raina dari belakang.
Jalanan semakin sepi ketika mereka memasuki area perkebunan dan sawah yang luas. Kegelapan di kiri-kanan terasa pekat hingga nyaris menelan mereka. Dika yang awalnya berniat mengantar pulang, berubah pikiran saat hasrat di dalam dirinya semakin kuat. Ia melambatkan motornya, lalu berhenti di sisi jalan yang gelap dan tertutup rimbunan semak.
“Dik … kita di mana?” tanya Raina dengan suara yang parau.
“Tenang aja, cuma sebentar,” jawab Dika penuh gelora yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
Ia menarik lengan Raina dan membawanya ke area semak-semak. Raina tidak meronta, tubuhnya terlalu lemah untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ia hanya terduduk, dengan mata setengah tertutup. Dika menatapnya cukup lama, matanya gelap oleh dorongan yang semakin menguat.
“Raina, kamu tuh susah banget disentuh. Padahal kita udah lama bareng,” gumamnya kesal, “Sekarang kamu nggak bisa kabur lagi dari aku.”
Raina mengerjap lambat, tetapi tentu saja dianhanya bisa pasrah. Dika mulai melepaskan jaketnya sendiri. Tangannya bergetar oleh emosi yang ia pikir sebagai gairah, padahal itu adalah hilangnya akal. Ia mencondongkan tubuhnya di atas Raina dan dengan gerakan secepat kilat menyingkap rok gadis itu.
“Hei! Ngapain, lo?”
Suara keras itunmembuat Dika menoleh cepat. Ia benar-benar kaget hingga kedua matanya melebar sempurna.
"Ck! Sial!" decaknya.
Dari kegelapan, seorang pria muncul dengan langkah cepat dan wajah tegang. Davin, pemuda yang bekerja di bengkel motor yang ada di dekat sana, baru saja pulang setelah memperbaiki motor pelanggan yang mogok. Lampu sepeda motornya menyala hingga mengenai pemandangan di depannya. Cukup dengam melihatnya sekilas saja, ia langsung tahu jika ada yang tidak beres.
“Apa yang lo lakuin?!” bentaknya lagi.
Dika berdiri tergesa karena tersentak oleh kedatangan tak terduga itu. “Ini urusan gue! Cewek gue sendiri!”
Davin menatap Raina yang terkulai lemah di tanah dengan tubuh yang nyaris tak bisa bergerak.
“Mata lo buta! Dia nggak sadar! Dasar b******n!” seru Davin.
Tanpa menunggu jawaban, Davin menarik Dika menjauh dari Raina. Dika melawan, memukul kepala Davin dengan keras menggunakan helm. Satu hantaman itu cukup membuat pelipis Davin terluka, dan darah pun tampak mengalir dari sana.
Davin terhuyung, tetapi ia tidak berhenti. Dengan penuh amarah, ia menerjang Dika kembali. Mereka bergulat di tanah, saling pukul, dan saling dorong. Dika yang lebih besar mengayunkan pukulan bertubi-tubi, tetapi Davin menahan setiap serangan itu sebisanya.
Ketika Dika mulai goyah, Davin mendorong Dika keras-keras hingga tubuhnya terjatuh tepat di antara rumput liar. Napas mereka saling memburu. Davin bangkit, darah dari pelipis mengalir di wajahnya, tetapi sorot matanya menatap Dika dengan tajam.
“Gue bakal teriak dan laporin lo sekarang juga!” ancam Davin.
"b******n!" teriak Dika yang langsung berlari ke motornya dan segera menyalakannya dengan cepat, dan dalam hitungan detik, ia menghilang di sepanjang jalan gelap tanpa menoleh lagi.
"Aw!"
Davin berdiri terengah-engah sembari mengusap pelipisnya yang basah oleh darah. Tubuhnya gemetar oleh sisa pertarungan. Ia menatap Raina yang masih terbaring di antara semak-semak, wajahnya pucat dan tak berdaya.
Dengan napas berat, ia mendekat.
“Hei, bangun ... kamu bisa dengar aku?” tanyanya, tapi Raina tetap saja terdiam.
Dengan tubuh yang terluka dan napas yang tersengal, Davin mengangkat dan menggendong Raina erat, memastikan kepala gadis itu tidak terantuk bahunya. Setiap langkah membuat nyeri di pelipisnya semakin terasa. Darah hangat masih mengalir di sisi wajahnya, tetapi ia tidak mungkin berhenti. Malam terlalu dingin, dan Raina benar-benar tidak sadarkan diri. Davin tidak bisa membiarkannya tergeletak di jalan begitu saja.
“Aku ... harus membawamu ke mana?” gumam Davin bingung.
Di tengah kebingungan, hanya satu tempat yang terpikir olehnya, kosannya yang berada tidak jauh dari kebun itu. Sebuah hunian kecil, sederhana, dan mungkin tidak layak disebut aman. Namun setidaknya, akan lebih baik daripada membiarkan seorang gadis terbaring di jalan gelap sendirian.
Begitu sampai di tempat kos, Davin menendang pintu kosannya yang terbilang sempit. Ia masuk sambil tetap menggendong Raina. Tanpa pikir panjang, ia berlutut dan membaringkan Raina di atas kasur tipis yang menjadi satu-satunya tempat tidur di ruangan itu.
Davin meraih selimut lusuh di ujung kaki kasur, lalu menariknya ke atas tubuh Raina. Ia memastikan gadis itu nyaman, membetulkan posisi kepalanya, lalu mengusap lembut dahinya yang berkeringat.
“Syukurlah kamu nggak kenapa-kenapa. Andai saja aku datang terlambat sedikit saja,” bisiknya pelan.
Davin memegang pelipisnya, darah sudah mulai mengering di sana. Rasa sakit di kepalanya semakin menusuk. Namun perlahan, rasa nyeri itu menghilang saat Davin melihat Raina baik-baik saja, meskipun bahunya sendiri terasa remuk.
Davin duduk di lantai tepat di samping kasur, punggungnya bersandar pada ranjang rendah itu. Ia menatap Raina sejenak.
“Aku harus mengabari keluargamu,” Davin berbisik, suaranya nyaris tenggelam oleh kantuk yang mulai menyeret kesadarannya.
Ia tidak berniat tertidur. Ia ingin berjaga dan memastikan Raina tidak kenapa-kenapa, tetapi tubuhnya berkata lain. Nyeri, lelah, dan amarah yang masih tersisa membuat matanya perlahan menutup. Dalam hitungan menit, Davin tumbang. Ia tertidur di lantai dingin, tanpa bantal dan selimut.
--
Duk! Duk! Duk!
“Davin! Buka pintunya!” seseorang berteriak dari luar.
Davin tersentak bangun dengan kepala yang berdenyut, pandangannya pun buram. Ia memijat pelipisnya sambil mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Di kasur, Raina masih terbaring. Mendengar gedoran yang keras di depan, Raina juga terbangun dalam keadaan bingung.
Gedoran kembali terdengar, lebih keras. "Davin! Buka!"
“Apaan sih! Pagi-pagi berisik banget,” Davin berseru dengan suara serak.
Dengan langkah limbung, ia menuju pintu dan membukanya. Seketika napasnya tercekat. Puluhan warga sudah berkumpul di depan pintu, sebagian membawa ponsel, sebagian lain menatap dirinya dengan ekspresi tajam.
“Akhirnya dibuka juga!” umpat seorang pria.
Tanpa memberi ruang, dua lelaki langsung menarik Davin ke luar kamar.
“Lo tadi malam ngapain di dalam, hah?! Bawa cewek segala, 'kan!” tanya salah satu dari mereka.
"Apa?" Davin terkejut. Kepalanya sedikit menoleh ke arah dalam kamar, di mana Raina masih ada di dalamnya.
"Alah, nggak usah ngelak, lo!"
“Bentar! Saya bisa jelasin—”
Davin mencoba menjelaskan, tetapi tidak ada yang mau mendengarkan. Teriakan warga lain justru memicu amarah yang menuduhnya telah melakukan perbuatan tidak senonoh.
Sementara itu, beberapa orang menerobos masuk ke kamar kos. Raina, yang baru setengah sadar, mengangkat tubuhnya perlahan.
“Kalian siapa?” tanyanya saat melihat beberapa orang mengerumininya.
“Keluar kamu!” bentak seorang ibu sambil menarik lengan Raina. "Murahan sekali kamu!"
Raina pun dipaksa keluar dengan langkah kaki yang terseret-seret. Begitu di luar, kilatan kamera ponsel langsung mengarah padanya.
“Astaga … apa-apaan, sih?” gumam Raina bingung.
Sorakan warga semakin keras.
“Bener 'kan saya bilang! Saya lihat sendiri mereka masuk ke dalam kamar semalam!”
“Pasti mereka ngelakuin zina!”
“Astagfirulloh! Bawa ke KUA aja langsung!”
Ucap orang-orang itu bersahut-sahutan.
Davin meronta dan wajahnya tegang. “Jangan asal nuduh, ya! Kalian itu salah paham!”
“Siapa lo? Kenapa gue ada di sini?” tanya Raina menatap Davin dengan alis berkerut.