[Anu, Tuan. Sa—saya ... Itu.] Suara Toni keluar pelan dari ujung telepon, gemetar seolah uap panas sedang mengganggu getaran sinyal. “Sejak kapan kamu jadi gagap begini? Bicara yang jelas!” sentak Tuan Pras dengan tidak sabaran. “Siapa yang kamu bakar?” [Menantu Tuan.] Kata itu jatuh seolah batu berat menusuk permukaan air yang tenang. Hening menyelimuti kedua belah pihak. Di ujung lain, hanya terdengar napas Toni yang terengah-engah. Tuan Pras menurunkan dagunya sejenak. Mengusap dahinya dengan telapak tangan yang sudah mulai berkeringat. Tuan Pras menajamkan telinganya. Merapatkan bibirnya yang tipis. Ia menutup mata sebentar untuk memusatkan pikiran, melupakan rasa kesalnya yang hampir membuatnya kehilangan kendali. Ketika matanya terbuka kembali, ekspresinya sudah lebih

