Laura menyipitkan mata. Ia beranjak perlahan dari ranjang. Langkahnya cepat, hingga ia berdiri tepat di depan sang mami. “Bukan vibrator kan, Mi?” tebaknya asal, namun tatapannya yang tajam menyiratkan rasa ingin tahu yang mendalam. “Apa kamu pikir Mamimu ini gila?” omel Nyonya Wina, tidak terima. Suaranya naik sedikit, ditutupi oleh ekspresi wajah yang menunjukkan kekhawatiran dan rasa cinta yang mendalam. “Kamu itu masih hamil muda. Trimester pertama itu sangat rawan. Kalau bisa jangan berhubungan dulu. Takutnya kena smebur di dalam. Eh....” Nyonya Wina urung melanjutkan. Matanya mendadak melesat ke arah lain, di mana Regantara berdiri dengan sikap yang canggung namun tetap menjaga jarak yang sopan. Ia baru sadar jika ada Regantara di situ. Dan warna kemerahan perlahan meram

