Laura merinding disko dibuatnya. Suara bisikan Regantara seperti memiliki sengatan listrik. Membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Lebih dalam. Lebih liar. Getarannya tak sekadar singgah di telinga, melainkan merambat turun, mengendap di d**a, lalu berdenyut pelan. Seolah ada tombol rahasia yang disentuh tanpa permisi. Nafas Laura tertahan sepersekian detik. Jantungnya mengambil alih ritme, berdetak terlalu cepat untuk disebut kebetulan. Ia merasa ruang di sekelilingnya menyempit. Udara mendadak lebih hangat, dan jarak yang tersisa seolah larut oleh bisikan itu. “Momos udah siap belum?” bisik Regantara lagi. Nada itu kembali menyentuhnya, lebih rendah. Membuat bulu kuduknya tegak dan pikiran Laura berkelindan. Laura sendiri tidak tahu kenapa tubuhnya selalu bereaksi berlebihan

