“Ya udah nanti gue perk*sa. Tapi lo yang di atas ya.” Regantara mencoba mengalah. Nada itu terdengar seperti jalan tengah, namun justru membuat jarak di antara mereka semakin terasa. Laura menangkapnya sebagai penawaran yang setengah hati. Padahal sebenarnya bukan karena kurang niat, melainkan karena batas yang tak ingin Regantara langgar. Ada sesuatu yang beradu di dadanya, antara ingin dimengerti dan merasa ditahan. “Nggak! Gue maunya kayak waktu pertama kali lo merk*sa gue.” Laura semakin kesal. “Kalau nggak bisa, mending nggak usah. Udah nggak pengen belut.” Kata-kata itu meluncur kasar, dilapisi emosi yang tak tersaring. Laura memalingkan wajah. Menahan getar kecewa yang berdesakan di tenggorokan. Ia tahu keinginannya terdengar egois, namun perasaannya terlalu penuh untuk dita

