Regantara menatap layar ponsel yang masih menyala di tangannya. [Kalian turun dengan tangga darurat. Nanti biar Hardi yang membantu kalian. Toni dan yang lain akan menyiapkan landasan di pulau terpencil. Kamu tenang saja, semua pasti aman.] Dada Regantara mengencang. Ada naluri yang berontak, perasaan tak nyaman yang menekan dari balik tulang rusuk. Rencana ini terlalu cepat, terlalu berisiko. Namun di kepalanya berputar satu kenyataan pahit, ia tak punya opsi lain yang lebih aman. [Regan, waktu kita tidak banyak. Kalian harus sampai di pulau itu sebelum matahari terbit. Toni sudah berangkat dengan pesawat lain sejam yang lalu.] Regantara memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang, menahan segala keberatan yang ingin tumpah, lalu melepaskannya perlahan. “Baik, Om.” Pangg

