Laura sontak memejamkan mata. Dunia seakan runtuh menjadi satu titik gelap yang berputar, dipenuhi dentuman jantungnya sendiri. Darahnya berdesir makin deras, merayap hingga ujung jemari. Dalam hati ia mengumpat sang papi tanpa suara. Dari dulu ia takut ketinggian. Dan rencana gila sang papi, yang katanya paling aman. Justru terasa seperti siksaan yang tak berperikemanusiaan. Di depannya, Regantara mengerang pelan. Suara itu pendek, tertahan, seolah tak ingin diakui sebagai keluhan. Hanya satu tangannya yang berpegangan di tali, lengan itu bergetar hebat menahan beban. Tubuhnya condong, kesulitan menyeimbangkan diri karena Laura memeluknya dari belakang. Angin menghantam mereka, dingin dan tajam, menggerus keberanian sedikit demi sedikit. Laura merapatkan pelukan. Napasnya terc

