“Regan, lo denger nggak?” panggil Letta. Suaranya menipis oleh gelisah yang tak sempat ia sembunyikan. Ada jeda singkat sebelum suara Regantara menyusup dari seberang sambungan, tenang tapi waspada. [Lo yakin pelakunya tahu soal penyekapan itu? Atau cuma feeling lo?] Letta menghela napas, lalu mengusap pangkal hidungnya perlahan. Kebiasaan kecil setiap kali pikirannya terlalu penuh. Matanya terpejam sesaat, seolah mencoba menata potongan ingatan yang berloncatan liar. “Nggak ada salahnya curiga, kan? Bisa aja pelakunya lebih dari satu. Bisa aja… dia terlibat sama Aris.” Nada di seberang berubah sedikit lebih berat. [Oke. Gue bakal cari semua keluarga korban penyekapan waktu itu.] Regantara berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada setengah mengomel, [Tapi lo yakin nggak apa-ap

