Keheningan menggantung, tebal dan menyesakkan, setelah pengakuan mengejutkan Nyonya Ma. Ucapan itu bagai petir di siang bolong, memporak-porandakan nalar dan logika. Saudara kembar? Kinar dan Riki? Sebuah ironi pahit mencabik hati Nesya. Padahal ia mulai tertarik dengan sosok Riki. Pantas saja, ada benang merah yang tak kasatmata menghubungkan Riki dan peristiwa yang terjadi. Pantas saja, Riki rela mengkhianati nuraninya. Semua demi saudara kembarnya. Rasa terkejut belum sepenuhnya sirna, Nyonya Ma kembali menyentak dengan nada sinis yang menusuk. “Kenapa pada bengong? Kalian nggak mau pulang?” Nesya menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan gejolak emosi yang berkecamuk. Sorot matanya menajam, menantang wanita di hadapannya. “Kenapa Tante bebasin kami? Tante pasti puny

