Ryan menarik kursinya dengan gerakan pelan, roda-roda berdecit halus di atas lantai. Matanya terpaku pada layar laptop yang memancarkan cahaya redup di wajah Regantara. Ada kerutan samar di dahinya, tanda konsentrasi yang mendalam. “Lo apa gue yang lacak?” tanyanya, suara rendah dan sedikit bergetar. Regantara tidak mengalihkan pandangannya dari layar. Jemarinya bergerak cepat, menari di atas keyboard dengan keahlian yang memukau. Setiap ketukan menghasilkan deretan angka dan huruf yang memenuhi layar, sebuah labirin digital yang hanya bisa ia pahami. “Gue aja,” sahut Regantara, tanpa menoleh. Nada suaranya datar, namun ada sesuatu yang dalam di baliknya, sebuah tekad yang tak tergoyahkan. Ryan mengamati profil wajah Regantara yang diterangi cahaya laptop. Garis rahangnya tegas,

