“Kabur? Gimana bisa kabur? Kalian cuma pergi sebentar. Kenapa dia langsung kabur? Cari dia!” [Cari ke mana, Bos? Kami—] “Aku nggak mau tahu!” Suara Aris membentak, tajam, penuh bara. “Ke lubang semut pun aku nggak peduli! Kalian cari dia sampai ketemu!” Klik! Panggilan terputus. Aris mematung dengan wajah menegang, rahangnya mengeras. Tangan yang menggenggam ponsel melipat kuat, hingga terdengar suara plastik berderit seakan menjerit kesakitan. Laura menoleh perlahan, menahan napas. Ada harapan kecil—rapuh, tapi nyata—yang berdenyut di dadanya. 'Regan kabur? Serius? Ya Tuhan… makasih. Semoga dia nggak bodoh. Semoga dia nggak datang ke sini buat nyelametin aku…' Aris menggeram, nadanya rendah dan bergetar seperti hewan yang terpojok namun masih ingin menggigit. “Kamu jangan senen

