Nesya memandang kakaknya dengan panik. “Terus gimana, Kak?” Regantara menarik napas panjang, mencoba menekan segala emosi yang hendak meledak. “Ki, gue pinjem motor lo. Kalian naik satu mobil, jangan nyebar. Ikutin dari belakang. Dan jangan ada yang bertindak sebelum gue suruh. Ngerti?” Riki mengangguk tegas. “Siap, Bang.” Tubuh Nyonya Wina tampak bergetar. Sedikit saja, tapi cukup terlihat bagi Letta. “Regan… kali ini Tante setuju sama kamu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan.” Regantara menoleh, menatap wanita itu dengan sorot yang jauh lebih lembut daripada suaranya barusan. “Maaf aku nggak sempat nyapa. Dan maaf kalau Tante harus lihat sisi galak aku hari ini.” Nyonya Wina mematung. Regantara… mengedipkan sebelah mata. Sebuah isyarat. Sederhana, tapi membuat jantung wanita

