Tuan Pras menggenggam tinjunya erat, buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, garis-garis tegas terpahat di wajahnya. Namun ia memaksakan diri untuk tetap tenang. Berusaha menyembunyikan badai emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Dengan jemari yang nyaris gemetar, ia membalas pesan singkat itu. [Geledah seluruh kamar mereka! Cari sekecil apa pun yang bisa jadi petunjuk!] “Pras, bagaimana kondisi Laura? Apakah keramnya sering terjadi? Atau justru mual yang berlebihan? Maafkan kami, belum sempat menjenguknya.” Suara Tuan Pratama terdengar ragu, sarat akan kekhawatiran yang tertahan. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibir Tuan Pras. “Oh, tidak apa. Hanya keram sesekali saja. Kalian tidak perlu terlalu khawatir.” Nada suaranya datar, namun matanya menyimpan sesuat

