Riki tetap melongo menatap layar laptopnya, seolah cahaya dingin dari sana telah membekukan wajahnya. Matanya tak berkedip. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan di d**a. “Sekarang kamu tahu siapa lawanmu? Yang gila itu bukan Aris, tapi dia. Aris itu cuma alat baginya. Dia dalang di balik semua kejahatan yang dilakukan Aris,” tanya Nyonya Ma. Ia mulai buka suara setelah sekian lama berdiam diri. Kalimat itu jatuh pelan, namun bobotnya menghantam lebih keras daripada teriakan. Riki menoleh cepat. “Maksud Mama apa? Kenapa baru ngomong sekarang?” Sorot matanya menajam. Bukan sekadar bertanya, tapi menuntut. “Karena kamu nggak pernah ngasih waktu ke Mama. Kamu selalu bertindak semaumu,” sahut Nyonya Ma, datar. Nada itu tidak meninggi, justru terlalu tenang. Seperti permukaan air y

