Bab 52. Tiga Ronde?

1246 Kata

Regantara meringis. Ekor matanya melirik ke arah Toni dan dokter yang tampak tersenyum penuh makna ke arahnya. Senyum yang tidak sepenuhnya menggoda, tapi cukup untuk membuat tengkuknya terasa panas. Ada rasa kikuk yang menyusup, bercampur dengan cemas yang belum sepenuhnya luruh sejak ledakan itu. “Raaaa, ini lo maish diinfus loh. Nggak bisa diperk*sa.” Regantara tetap sabar membujuk. “Nanti kalau kita udah ke hotel ya.” Nada suaranya sengaja direndahkan. Bukan karena takut didengar orang lain, melainkan karena ia sedang menahan sesuatu di dadanya. Campuran khawatir, sayang, dan keinginan untuk melindungi. Laura menyipitkan mata. Tatapannya tajam, menelusup, seakan ingin membedah wajah Regantara sampai ke lapisan paling jujur. “Ke hotel? Ngapain? Kan Aris udah mati, kenapa kita

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN