Regantara memutar bola mata malas. Rahangnya mengeras. Humor Ryan, seperti biasa selalu datang di waktu yang salah. Ryan malah terkekeh puas, menikmati reaksi itu. “Canda, Geng. Yaelah, gitu aja baper. Gue cuma butuh tempat tinggal. Jauh kalau mau LDR. Enakan kita semobil, serumah, sekamar, sekolor—” “Yaaannn…” suara Regantara turun berat, nyaris menggeram. “Serius dikit lah. Ini soal nyawa.” “Oke, sory.” Ryan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Laptop gue di mobil. Kita cabut aja.” Regantara mendecak kesal. “Kenapa nggak lo bawa sekalian masuk?” Ryan menatapnya lebih waspada kali ini. “Kita butuh kamar baru, Regan. Gue yakin Aris nyuruh orang mantau apartemen lo.” Kalimat itu menghantam seperti sentakan. Regantara terhenyak. Dadanya mengencang. Ia baru sadar. Ia hampir me

