Di gedung pencakar langit, tepatnya di sebuah ruangan kerja seorang Presdir Jaya Grup. Tampak seorang pria bermata tajam terlihat tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya dipenuhi tentang Ana dan Ana. Lagi-lagi, bayangan perempuan itu selalu muncul di dalam pikirannya. Ya … akhir-akhir ini, Ana bagaikan hantu yang terus menghantui Reihan di mana pun pria itu berada. Di saat dia ingin mengenyahkan bayangan perempuan itu dengan memejamkan matanya rapat-rapat bayangan itu bukannya menghilang, tapi malah seakan-akan melekat tak mau lepas dari pelupuk matanya. “Dia sedang apa, ya?” tanya Reihan di dalam hati. Lelaki itu teringat percakapan yang baru pertama terjadi di antara mereka. Istrinya yang meminta ijin untuk pergi belanja kebutuhan dapur dan keperluan rumah sekalian barang pribadinya.

