"Elaine, apa kamu sudah siap?" tanya Devan sedikit berteriak. Lelaki itu berdiri di depan pintu kamar, sambil mengetuknya perlahan. "Tunggu sebentar," jawab Elaine dari dalam. Wanita itu melihat penampilannya lagi di depan cermin. Menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Merasa semuanya siap, barulah dia membuka pintu kamar. "Kenapa dikunci, sih?" tanya Devan mengerutkan dahi. "Aku sedang ganti baju, Devan. Kalau kamu nekat masuk, yang ada bisa sampai nanti siang aku baru selesai," jawab Elaine dengan mata yang memicing. Devan yang mendengar itu terkekeh, dia menunduk agar Elaine tak melihat senyum puasnya. "Jangan tertawa!" protes Elaine. "Baiklah, terserah kamu saja," kata Devan. Dia mengacak-acak rambut Elaine dengan gemas. "Ayo!" ajaknya lalu mengulurkan tangan. Elain

