Cctv Bernyawa

1016 Kata
'Sebelum gajimu turun, kau wajib pindah dari rumah lalu tinggal di apartemen pilihan saya.' Kata-kata yang William lontarkan tadi siang membuat Sella termenung sepanjang hari. Beberapa pekerjaan Sella sedikit terhambat, tetapi dia tidak perduli. Sejak tadi otaknya terus mencerna semua keinginan bosnya itu. Ini agak aneh, sangat membingungkan. 'Ini kunci unitmu, nanti sore pulang bersama saya agar kau tahu di mana apartemennya.' Lagi, Sella menatap gamang kunci serta salinan kontrak kerja yang berada di tangannya. Sella tidak menyangka kalau dunia kerja yang dia jalani sangat memusingkan seperti ini. Selain itu, Sella juga baru tahu kalau di dalam kontrak memang terdapat syarat soal tinggal di apartemen. Sella seketika merasa bodoh, kenapa sejak awal dia tidak baca? Jika melanggar, Sella akan terkena denda 15000 Dollar. Tidak adanya penjelasan detail, itu yang membuat Sella merasa takut. Mungkin bisa saja Sella menuruti, tapi mana tega dia meninggalkan Ayahnya di rumah? Walaupun ada Daniar, Sella tidak akan percaya. Ayahnya sakit keras yang kapan saja bisa drop seperti kemarin. Sella tidak mau menyesal untuk kedua kalinya. "Kamu ngerasa aneh sama Sella gak, Shan? Semenjak Sella dekat sama Pak William, Sella tuh berubah jadi pendiam. Bukan cuma Sella sih, Pak William juga sering perhatiin Sella." Shania yang ditanya oleh Naura hanya bisa diam. Mereka berdua memang berada di ambang pintu ruangan Sella, mereka melihat sejak tadi wanita itu terus melamun sepulang dari meeting. Sella yang tertutup, membuat mereka semua hanya bisa menerka apa yang terjadi. "Pak William kayaknya suka sama Sella deh, Shan." "Kerja, bukan ghibah!" Tepukan kencang di pundak sontak saja membuat Naura dan juga Shania kaget. Jantung mereka hampir saja lompat ke jurang. Merasa kesal, Naura menarik rambut panjang Keysa sampai wanita itu mengaduh. "Key, nyebelin banget sih! Kirain siapa yang datang!" Keysa memamerkan cengiran tanpa dosanya. Hanya menepuk pundak, apa iya sampai sekaget itu? Keysa yang penasaran ikut melirik ke arah ruangan Sella. Kegaduhan yang baru saja terjadi tidak membuat wanita itu bergeming sedikitpun. "Sella kesambet apa gimana? Kalian juga kenapa ga masuk aja?" "Apa kalian sudah bosan kerja di sini?" Tubuh Shania, Naura, serta Keysa menegang. Suara itu ... itu suara bosnya! Masih dalam kepanikan, ketiga wanita cantik itu membalikan tubuhnya. Benar saja, di depan mereka berdiri William dengan tatapan dinginnya. "Lagi apa kalian? Bukan jam istirahat, belum jam pulang, kenapa berkerumun? Kalau bosan kerja, kirim surat resign kalian ke saya." "M-maaf, Pak, kami permisi dulu." Shanina bergegas pergi disusul Naura dan juga Keysa. Mereka masih mau bekerja, karena masih banyak cicilan yang belum lunas. Setelah memastikan para karyawannya pergi, William menatap Sella di dalam ruangannya. Wanita itu terlihat melamun sembari memegang kunci dan dokumen. William tahu kalau saat ini Sella tengah kebingungan. 'Karna satu per satu duniamu akan hancur, Sella. Kau harus merasakan bagaimana sakitnya hidup seorang diri dengan mental yang berantakan. Entah anak yang kehilangan orangtua, atau orangtua yang kehilangan anak tercintanya,' batin William. *** Layaknya tidak terjadi masalah, Sella berusaha sefrofesional mungkin untuk menghabiskan waktu hari ini. Beberapa kali dia juga ke luar masuk ruangan William untuk mengantarkan berkas perintah bosnya itu. Sella masih belum menjawab perihal kepindahan, dia mau mencari solusi terbaik. Akan tetapi, Sella bingung mau bercerita kepada siapa. Kekasihnya susah dihubungi, sekalinya bisa dia masih mengharapkan pinjaman uang. Perlahan-lahan Sella menutup pintu ruangan William, lalu dia bergegas pergi ke toilet untuk sekedar cuci muka. Selesai dari toilet Sella menuju pantry. Satu cangkir teh hangat menjadi teman Sella untuk sejenak. Ting! Ting! Chat from : Ayah. 'Nanti pulang kerja antarkan Ayah ke klinik ya, Sel? Ayah gapapa, kamu jangan panik, cuma kurang enak badan sedikit.' Read. Sella menghela napasnya. Masih siang saja Ayahnya minta tolong, pasti wanita menyebalkan itu tidak ada di rumah. Andai menyiram air keras tidak masuk tindakan kriminal, mungkin Sella sudah menyiram Ibu tirinya itu. Otak Sella semakin pening sekarang memikirkan nanti sore. "Sella?" Sella menoleh ke arah belakang. "Thomas?" Pria yang dipanggil Thomas tersenyum lebar. Ternyata Sella masih mengenali namanya, jadi tidak perlu ada kenalan sesi kedua. Tidak menunggu izin atau disuruh, Thomas langsung duduk di samping Sella. "Sendirian aja, Sel? Biasanya ada Naura, ke mana dia?" "Kurang tau, Thom, aku dari ruangan tuan William, terus ke sini buat bikin teh." Thomas mengangguk-anggukan kepalanya. Melihat Sella begitu menikmati teh buatannya, Thomas jadi ikut haus. Sebelum memulai lebih jauh pembicaraan, Thomas membuat teh terlebih dahulu. "Sel, kamu sebelum kerja di sini udah dekat sama Pak William ya? Atau kalian ada hubungan? Kalian kekasih?" Uhuk..uhuk..uhuk! Thomas meringis. "Pelan-pelan minumnya, Sel." "Gimana bisa kamu nyimpulin kayak gitu? Bahkan di sini aku karyawan baru, ga ada apa-apanya juga. Jadi ya mana mungkin?" Sella menoleh ke belakang menatap Thomas yang sedang membuat teh. "Beberapa hari ini aku ga sengaja dengar kalau Pak William selalu sebut nama kamu. Selain itu, dari gosip receh yang ada, kamu itu kuliah jurusan sastra, tapi kenapa bisa jadi sekretaris? Bahkan kamu belum lulus. Ya walaupun jurusan ga menjamin, tapi sepengetahuanku perusahaan ini cukup ketat dalam seleksi karyawan." Thomas kembali duduk di samping Sella setelah membuat teh. Penjelasan panjang lebar yang Thomas katakan membuat otak Sella kembali riuh. Sambil mengaduk-ngaduk teh kepunyaannya Sella kembali melamun. Baru seperti itu saja Thomas dan yang lain sudah heboh, apa lagi mereka tahu soal gaji dan fasilitas apartemen? "Thom?" "Kenapa, Sel? Jangan dimasukin hati yang tadi, aku cuma tanya aja." "Kamu udah kerja di sini berapa lama? Sebelum aku, siapa sekretaris tuan Will? Kenapa resign juga?" Deretan pertanyaan Sella tidak langsung Thomas jawab. Pria itu menjatuhkan punggungnya kesanggahan kursi. "Sekitar tiga tahun. Pak William baru kembali dari Aussie, Sel, dia ga handle perusahaan ini secara langsung. Yang handle itu Pak Edward, Pamannya." "Paman? Orang tuanya?" "Pak William itu anaknya tuan Wil-" "Thomas!" Percakapan Sella dan Thomas terputus, bahkan Thomas belum menyelesaikan kata-katanya. Mendapati Andrew tengah berdiri di ambang pintu, buru-buru mereka menghampiri. Habis sudah riwayat Thomas karena ketahuan mengobrol di jam kerja. "Sedang apa kalian? Apa jam istirahat kalian kurang untuk mengobrol? Lekas kembali, sebelum tuan Will melihat. Dan kau juga Sella, kau dipanggil tuan Will di ruangannya." Thomas mengangguk patuh. Sebelum pergi dia berpamitan kepada Sella. Tidak lama setelah Thomas pergi, Andrew menyusul pria itu tanpa berpamitan kepada Sella. "Cctv bernyawa," guman Sella. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN