Satu Syarat

1014 Kata
Pagi ini Sella dibuat kelimpungan karena bosnya belum tiba di kantor. Padahal semalam Sella sudah memberi info kalau jam sembilan ada meeting di luar. Bahkan sebelum berangkat Sella kembali mengingatkan. Memang sih tidak ada balasan, Sella juga bingung kenapa William menjadi acuh padahal masalah pekerjaan. Sella beberap kali mengecek ponsel, di juga mengecek pesan terakhir yang terkirim. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak. Waktu sudah mepet, Sella jadi kesal sendiri. Rasanya Sella ingin menghubungi, namun tidak berani. Mengingat betapa arogannya William, Sella bergidik ngeri. Ting! Satu pesan yang baru masuk membuat Sella meringis. Pesan itu dari sekretaris klien yang akan meeting dengan William. Wanita bernama Shayla memberitahu kalau mereka akan tiba di tempat tujuan sekitar setengah jam lagi. Setengah jam bukan waktu yang lama apalagi pemeran utamanya tidak ada kabar. "Sella kayaknya punya cita-cita pengen jadi setrikaan deh." Sella menoleh ke arah sumber suara. Melihat Naura berdiri di belakangnya Sella tersenyum lebar. Mana ada ingin jadi strikaan, yang ada Sella lelah berdiri terus. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga sedang gelisah karena bosnya tak kunjung datang ke kantor. "Ada apa, Sel? Nunggu siapa?" "Aku itu nunggu tuan William, kok tumben ya belum datang? Biasanya udah ada, apalagi aku udah ingatin meeting," jawab Sella gelisah. Naura melirik Sella sekilas sembari memainkan rambut panjang terurainya. "Emang kamu ga telepon? Coba kamu telepon, konfirmasi, tanya ada di mana. Kamu sekretarisnya, ga mungkin dia marah atau gimana." "Masalahnya udah aku ingatin dari semalam, tadi pagi, tapi ga direspon. Apa lagi sibuk ya? Sesibuk itu?" "Namanya juga bos, Sella." Naura menarik kedua pipi Sella gemas. Naura terkekeh mendengar Sella meringis karena cubitannya. Kedatangan Naura sedikit mengalihkan Sella, namun tetap saja dia panik kembali saat ponselnya berbunyi. Ya Tuhan, rasanya Sella ingin mengubur dirinya di dalam tanah. Bukan hanya William yang belum datang, tetapi kedua asistennya pun tidak kelihatan. Apa mereka lupa arah jalan ke kantor? "Sella?" "Kenapa, Nau?" "Aku balik duluan ya? Kerjaanku belum selesai, yang ada makin numpuk. Kamu daripada pusing coba telepon Pak Zaffan atau Pak Andrew, mereka pasti tau." Setelah mengatakan itu Naura bergegas pergi meninggalkan Sella. Niatnya mau cuci muka, tapi malah keasikan ngobrol. Seperginya Naura, Sella menimang sarannya. Idenya tidak terlalu buruk, tapi yang jadi masalah dia tidak mempunyai nomer keduanya. Sella pasrah, dia memilih untuk kembali ke ruangannya. Semoga saja bosnya itu sedang dijalan menuju ke sini. Baru beberapa langkah Sella berjalan, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang. Refleks tubuh Sella memutar, menatap pelaku yang menarik tangannya. "Maaf kalau saya lancang. Apa kamu ada waktu? Saya mau bicara serius, sebentar saja tidak akan lama." Beberapa saat Sella terdiam menatap pria di depannya. Seperti tidak asing, rasanya pernah melihat, tetapi Sella lupa. "Jangan takut sama saya, saya tidak akan macam-macam. Ada beberapa hal yang ingin say-" "Selamat pagi." Sapaan dari arah belakang membuat Sella dan pria di dekatnya menoleh. Mendapati salah satu asisten bosnya datang tentu Sella bersorak riang di dalam hati. Fokus Sella kini berubah pada pria itu. Karena bagi Sella, urusan pekerjaan jauh lebih penting daripada masalah lain. "Pak Zaffan, apa boleh saya bertanya?" "Ada apa, Nona?" Pembawaan Zaffan yang sedikit kalem membuat Sella jauh lebih nyaman saat bertanya. Sesekali Sella melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Zaffan. "Apa tuan William sudah datang? Saya sudah hubungi, tapi tidak ada respon. Sepuluh menit lagi beliau harus berada di restoran Deluxe, Pak Daniel sedang menuju ke sana." Zaffan melirik pria di samping Sella sekilas, lalu dia mendekat ke arah Sella. "Tuan Will sudah sampai lokasi, dan kau ditunggu untuk mendampingi." Sella menerjapkan matanya. Sudah sampai? Sudah sampai tapi tidak membalas pesan? Menjengkelkan sekali, apa dia tidak tahu kalau kepalanya hampir botak mengkhawatirkan ini semua? "Jangan membatin, urusan tuan Will bukan hanya di kantor." *** "Mana kontrak kerjasama yang sempat saya serahkan? Jangan bilang kau tidak bawa?" Sella membulatkan matanya, buru-buru dia menggeleng sambil mengambil beberapa dokumen bawaannya. Sejak tadi Sella melamun, dia menjadi pendengar ketika dua orang pengusaha besar itu sedang berdiskusi. Meeting kali ini cukup santai, karena kedua perusahaan mereka sudah saling sepakat menjalin kerjasama. "Ini dokumennya, Tuan. Saya sudah cek kembali sesuai perintah kemarin." Sella menyerahkan map berwarna biru kepada William. William dengan senang hati menerima berkas-berkas penting itu. William yang sudah percaya kepada Sella kembali menyerahkan dokumen kerjasama itu kepada partnernya. "Sudah saya tandatangani, silahkan dicek kembali. Selain itu, perusahaan kami sedang berkolaborasi untuk membangun hotel dan apartemen di Aussie. Sudah ada beberapa investor yang ikut kami, dan kami akan mulai merancang mulai minggu depan." Penjelasan William sangat menggiurkan Daniel. Siapa yang tidak kenal William di dunia bisnis? Belum lagi kinerjanya yang sangat baik. Hampir semua orang tidak meragukan saat tahu kalau William adalah penerus Wilson, Ayah kandungnya sendiri. Andai orang hebat itu masih ada, mungkin dia dan William akan menjadi kolaborasi termewah dalam menjalankan bisnis. "Baik, semua saya terima. Saya berharap projek besar kita akan berjalan mulus. Senang menjalin kerjasama dengan anda, Tuan. Kalau begitu saya permisi, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan." "Tidak mau makan siang bersama?" tawar William. Ini sudah masuk jam makan siang, tidak ada salahnya juga makan bareng. "Terima kasih untuk tawarannya, mungkin next time bisa atur jadwal," tolak Daniel dengan halus. William tidak memaksa, dia menerima jabatan tangan Daniel dengan rasa hormat. Setelah memastikan kliennya itu pergi, William kembali duduk sambil menatap Sella. Sekretaris barunya itu sangat kondusif tanpa membuat ulah atau kesalahan kecil sedikitpun. Sedetail itukah dia? "Kenapa Tuan menatap saya seperti itu? Apa saya ada salah?" tanya Sella tanpa basa-basi. Sella cukup risih ditatap lekat oleh orang, apa lagi bos sendiri. "Saya mau bahas soal gaji pertama. Saya yakin di dalam otak kau pasti lagi overthinking kenapa belum ada transferan masuk, bukan begitu? Sella, Sella, Sella." William terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Asal kau tahu, diantara karyawan lain, gajimu paling fantastis. Tapi ada satu syarat yang belum saya katakan sejak awal," lanjutnya. Perasaan damai dan tenang Sella seketika terusik. Melihat wajah, apalagi nada bicara William, Sella merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lebih dari itu, Sella sempat gagal fokus saat mendengar kata 'syarat' yang William lontarkan. "Sebelum gajimu turun, kau wajib pindah dari rumah lalu tinggal di apartemen pilihan saya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN