"Baiklah, Karina. Karena Tuan Alex ada di ruangannya, saya akan mengantarmu langsung untuk bertemu dengannya," ucap Marissa dengan wajah lugu.
"Dasar bodoh...! Anak culun memang gampang dipengaruhi!" gumam Karina dalam hati, penuh rasa kemenangan.
Di ruangan Alex, setelah mendengar percakapan itu, Alex segera mengganti mode kacanya kembali seperti semula dan duduk dengan tenang di kursinya, bersiap menghadapi tamu tak diundang.
Tok tok tok.
"Permisi, Tuan Alex," sapa Audie dari balik pintu.
"Ya, Nona Marissa. Silakan masuk," jawab Alex, ikut memainkan perannya sebagai bos.
Audie masuk bersama Karina. Karina berjalan dengan lenggak-lenggok mengenakan dress oranye ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Hai, Tuan Alex. Perkenalkan, nama saya Karina," sapa Karina dengan nada menggoda, senyuman manis terpancar di wajahnya.
Namun, Alex tidak menggubris sapaan itu. Sebaliknya, dia menatap Audie dan bertanya, "Ada keperluan apa dia datang ke ruanganku, Nona Marissa?"
"Hmm, begini, Tuan Alex," jawab Audie sambil menjaga ekspresi lugunya. "Nona Karina adalah anak dari Ayah saya. Dia ingin mengundang Tuan Alex ke acara ulang tahunnya yang ke-23."
Alex mendengarkan dengan tenang meski sudah tahu tujuan Karina sebelumnya.
"Betul, Tuan Alex. Saya akan sangat senang apabila Anda meluangkan waktu untuk datang ke pesta saya," ujar Karina, kali ini sudah duduk di depan Alex. Dia menyilangkan kakinya dengan gaya anggun, berharap menarik perhatian Alex.
Audie yang berdiri di samping Karina menatap Alex dengan senyum tertahan, nyaris ingin tertawa melihat tingkah saudara tirinya.
Alex menjawab dengan datar, "Saya akan datang jika Nona Marissa juga hadir di acara tersebut."
"Tentu saja, Tuan Alex. Saudari saya pasti akan datang," sahut Karina cepat. Lalu, dia meraih tangan Audie dan berkata manis, "Benarkan, saudariku, Marissa?"
"Iya, Karina. Saya akan datang," jawab Audie, tetap tersenyum lugu.
"Lihat, Tuan Alex! Marissa akan datang. Saya menunggu kehadiran Anda, Tuan Alex," ucap Karina, lalu berdiri dan mencoba mendekatkan wajahnya ke pipi Alex untuk mengecupnya.
Namun, Alex dengan cepat berdiri, menghindari ciuman itu.
"Baik, Karina. Sampai jumpa di pesta," ucap Alex dingin.
Karina tampak kesal karena Alex menghindar, tapi dia tetap menjaga senyumnya. "Tunggu saja, Alex. Kamu akan bertekuk lutut di hadapanku," gumamnya dalam hati sebelum keluar dari ruangan, meninggalkan Alex dan Audie.
---
Setelah pintu tertutup, Alex menghampiri Audie dengan ekspresi datar, lalu melipat tangan di dadanya.
"Kenapa kamu sangat jahil, Nona Audie?" tanya Alex, menatapnya tajam.
"Hmm?" jawab Audie seolah tak mengerti maksud Alex, memasang wajah polos.
Alex hanya menggelengkan kepala, lalu mengisyaratkan Audie untuk duduk di sofa.
"Sini," ajaknya, sambil ikut duduk di samping Audie.
"Ada apa, Tuan Alex?" tanya Audie santai.
"Audie... jangan memanggilku begitu jika hanya kita berdua," seru Alex tak senang.
"Tapi kita di kantor, dan kamu atasanku," balas Audie.
"Kamu pacarku. Calon istriku," jawab Alex tegas, tatapannya intens.
"Sejak kapan aku menyetujuinya?" seloroh Audie, pipinya mulai memerah.
"Sejak usiamu lima tahun, Nona Audie," bisik Alex lembut di telinga Audie.
Blusshhh. Wajah Audie langsung memerah.
"Ehmm, ehmm... Itu karena kita masih kecil. Jadi tidak terhitung!" jawab Audie, mencari alasan.
Alex tersenyum jahil. "Jadi... tadi siapa yang mengatakan, 'Akulah wanitamu, Tuan Alex!'?"
"Ehm, ehmm..." Audie semakin gugup, memalingkan wajahnya.
Alex mendekatkan wajahnya, membuka kacamata Audie, lalu berbisik, "Dan siapa yang tadi menikmati ciumanku?"
Audie hendak marah dan memalingkan wajah, tapi tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan.
Audie membeku, ingin menarik wajahnya, tapi Alex menahan kepala belakangnya, merapatkan bibir mereka, dan melumat bibir Audie dengan lembut.
Audie terpaku. Darahnya mengalir deras, seolah tubuhnya dipenuhi sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Alex memiringkan kepalanya, memperdalam ciumannya, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Audie.
"Ini terasa sangat aneh," gumam Audie dalam hati, mencoba memahami perasaannya.
Ketika napasnya hampir habis, Audie menepuk bahu Alex. Alex akhirnya melepas ciuman itu, menatap Audie dengan mata lembut.
"Kau tahu... aku sangat merindukanmu," gumam Alex lembut, suaranya penuh emosi.
Audie seperti tersihir, tak bisa berkata apa-apa. Saat dia masih terdiam, Alex kembali menyatukan bibir mereka, kali ini dengan lebih dalam.
"Balas, sayang," ucap Alex di sela ciuman mereka.
Audie dengan patuh membalas ciuman Alex. Perlahan, dia membuka mulutnya, membiarkan Alex menjelajahi dirinya dengan lembut namun penuh gairah.
Setelah ciuman yang terasa begitu panjang dan penuh makna, Alex akhirnya melepaskan bibirnya dari Audie.
"I love you... and thank you, Audie," bisiknya, tepat di atas bibir Audie.
Dia kemudian menarik tubuh Audie ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Namun, Audie masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana harus merespon pernyataan cinta Alex.
Dia tahu bahwa mereka sudah saling mengenal dan bahkan bertunangan sejak kecil. Namun, berpisah selama delapan belas tahun tanpa ingatan sedikit pun tentang Alex membuatnya merasa seperti menghadapi orang asing yang harus dikenalnya kembali.
Satu hal yang terus membingungkannya adalah kenapa ingatannya tentang Alex saat mereka kecil bisa hilang. Sebesar apa trauma yang dia alami hingga melupakan segalanya?
Melihat ekspresi Audie yang dipenuhi kebingungan, Alex perlahan melepaskan pelukannya.
"Audie... apakah kamu benar-benar tidak mengingatku?" tanya Alex, suaranya penuh rasa ingin tahu dan sedikit terluka.
"Maaf, Alex..." hanya itu yang bisa Audie ucapkan.
Alex tersenyum kecil, meski hatinya terasa sedikit berat. Dia mengusap puncak kepala Audie dengan lembut.
"Aku akan membuatmu kembali mencintaiku. Mulai sekarang, aku yang akan terus mendekatimu. Jadi... jangan pernah menolakku, oke?" ucap Alex, nadanya penuh tekad.
Audie hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, mengiyakan.
"Jadi, apa rencanamu di acara Karina?" tanya Alex, mencoba mengalihkan suasana.
"Hmmm... tidak ada," jawab Audie santai.
"Serius?" Alex mengerutkan dahi, tak percaya.
"Iya. Aku hanya mengikuti alur permainan mereka," lanjut Audie tanpa beban.
"Hmm, baiklah. Aku akan ikut permainanmu, sayang. Tapi ingat! Aku tidak mau berada di dekat ulat keket oranye tadi!" seru Alex, terlihat merinding mengingat Karina.
Audie tak bisa menahan tawa. "Hahahaha! Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyentuh pr—"
Audie berhenti bicara sejenak, wajahnya memerah. "Menyentuhmu, Alex," ralatnya dengan canggung.
Alex tersenyum, merasa geli dengan tingkah Audie. "Kenapa kau selalu bertingkah begitu menggemaskan, Audie?" gumamnya dalam hati sambil menatap Audie penuh cinta.
---
🌼🌼🌼🌼
Sementara itu, Karina yang sudah berada di dalam mobil menghubungi Kimberly dengan ekspresi penuh kemenangan.
"Mom, aku berhasil mengundang Tuan Alex!" seru Karina bangga.
"Hahaha, tentu saja, sayang," balas Kimberly dengan nada puas.
"Dia begitu tampan, Mom! Aku pasti akan mendapatkannya. Dia pasti sangat hebat saat di ranjang!" ujar Karina penuh antusias.
"Hahahaha! Oh iya, bagaimana dengan Marissa?" tanya Kimberly, penasaran.
"Oh My Mom! Dia sangat culun dan buruk rupa!" seloroh Karina tanpa ragu.
"Dan satu lagi... dia sangat bodoh! Hahahaha!" lanjutnya sambil tertawa senang, merasa puas karena berhasil memperdaya Marissa.
"Bagus, sayang. Mari kita perkenalkan dia saat pesta ulang tahunmu nanti," usul Kimberly penuh ambisi.
"Nooo, Mom! Dia akan mempermalukan diriku!" protes Karina cepat.
"Hahaha! Justru itu tujuannya, sayang. Bayangkan bagaimana komentar rekan bisnis Daddy-mu dan teman-temanmu saat melihat Marissa. Kau akan terlihat bersinar berada di sampingnya," ujar Kimberly dengan semangat.
"Tapi, Mom!" sela Karina, merasa ragu.
"Ingat, Karina. Kita harus bisa mengambil semuanya dari Marissa," lanjut Kimberly tegas.
"Hmm, baiklah, Mom," ujar Karina akhirnya, meski hatinya masih dipenuhi keraguan. Dia memutuskan untuk mengikuti rencana Kimberly, demi ambisi mereka berdua.