Bab 19

1164 Kata
"Uhmm, anak pertama dari Ayahku dan istrinya," ujar Audie sambil merapikan penampilannya. Dia mengepang rambutnya dengan rapi, lalu mengenakan kacamata hitam, mengubah auranya kembali menjadi profesional dan anggun. "Woowww!" sela Tommy lagi, membuat Alex, Audie, dan Maria serentak menatapnya tajam. "Maaf... ini sungguh luar biasa. Aku merasa seperti sedang berada di film mata-mata!" lanjut Tommy, mencoba membela diri. "Kamu mau kembali ke ruang kerjamu?" tanya Alex kepada Audie, yang kini sudah berdiri di sampingnya. "Ya, dia akan segera sampai," jawab Audie sambil menatap Alex. "Hmm, baiklah. Hati-hati," ucap Alex lembut, lalu tanpa berpikir, mengecup kening Audie. "Alex!" tegur Audie, merasa malu karena di ruangan itu masih ada Maria dan Tommy. "Ehhemm, ehhemm," Tommy sengaja berdehem, menahan tawa melihat interaksi mereka. Maria hanya tersenyum kecil. Namun Alex tidak peduli dengan teguran Audie. Sebaliknya, dia malah menarik Audie ke dalam pelukan erat, seolah takut kehilangan. "Alex!" tegur Audie lagi sambil berusaha melepaskan diri. Alex akhirnya menyerah, perlahan melepaskan pelukannya. "Ehemm... Kak Maria, kembali ke posisi," seru Audie tegas, mencoba mengalihkan suasana. Dia lalu keluar dari ruangan bersama Maria. --- Setelah Audie dan Maria pergi, Alex duduk kembali di kursinya yang besar, wajahnya berubah serius. "Alex, aku rasa ini sangat berbahaya. David Zaque yang kita kenal memiliki akses ke dunia mafia," ucap Tommy dengan nada khawatir. "Ya, aku tahu, Tom. Ini memang sangat berbahaya. Apakah Uncle James tidak menemukan informasi soal ini?" jawab Alex sambil memijat pelipisnya. "Aku akan mencari informasi lebih lanjut. Kalau memang Audie terkait langsung dengan David, kita harus jauh lebih berhati-hati," nasehat Tommy tegas. "Terima kasih, Tom. Aku mengandalkanmu," balas Alex tulus. "Sama-sama, Alex," ucap Tommy sebelum keluar dari ruangan. --- Di lobi resepsionis, Karina Zaque baru saja tiba. "Permisi, saya ingin bertemu dengan Marissa," ucapnya dengan nada angkuh. "Maaf, Nona. Apakah Anda sudah membuat janji dengan Nona Marissa?" tanya resepsionis sopan. "Beritahu dia bahwa saudara perempuannya ingin bertemu dengannya!" seru Karina, suaranya terdengar tidak sabar. "Maaf, Nona. Saya akan menghubungi Nona Marissa terlebih dahulu," jawab resepsionis tenang. "Hmm, cepatlah!" "Nona Marissa, ada tamu yang ingin bertemu Anda," sapaan dari Nina, resepsionis, terdengar di telepon Audie. "Hmm, dari mana, Nina?" tanya Audie, mencoba mengulur waktu. "Maaf, siapa nama Anda, Nona?" tanya Nina kepada Karina. "Katakan saja KARINA ZAQUE ingin bertemu," jawab Karina dengan nada sombong. "Atas nama Karina Zaque. Jadi bagaimana, Nona Marissa?" tanya Nina kembali kepada Audie. "Hmm, suruh saja dia ke ruanganku," jawab Audie santai, memainkan peran Marissa yang tenang. "Baik, Nona," sahut Nina. "Terima kasih, Nina," ujar Audie sebelum menutup telepon. Setelah itu, Nina mempersilakan Karina naik ke lantai 18. Audie sudah bersiap menyambut tamu tak diundang itu, sambil memastikan dirinya tetap memerankan Marissa yang lugu. Sementara itu, Alex dari ruangan sebelah memperhatikan Audie melalui kaca ajaibnya. Tiba-tiba Alex mengetok kacanya, membuat Audie terkejut. "Oh My... Kau mengejutkanku, Alex!" seru Audie dengan ekspresi kaget, meskipun suara itu tak terdengar oleh Alex. Alex hanya tersenyum menggoda, lalu meraih ponselnya dan menelpon Audie. "Ya?" jawab Audie setelah mengangkat telepon. "Aku ingin mendengar percakapanmu dengan tamumu," ujar Alex tanpa basa-basi. "Tapi..." Audie mencoba menolak. "Tidak apa-apa. Simpan saja ponselmu di meja," seru Alex sambil menunjuk meja kerja Audie melalui kaca. Audie akhirnya menyerah dan mengikuti permintaan Alex. Tok tok tok. Suara ketukan terdengar dari pintu ruangan Audie. Alex segera mengganti kaca ajaibnya kembali ke mode normal. "Masuk," jawab Audie dengan tenang. Karina masuk dengan langkah anggun, lalu duduk di sofa di depan meja Audie. "Hai, Marissa. Aku adalah saudara tirimu, Karina Zaque," ucap Karina penuh percaya diri, senyumnya penuh kesombongan. "Iya. Ada perlu apa kamu ke sini? Undangan pesta ulang tahunmu sudah disampaikan oleh Tuan Verrel," balas Audie dengan nada rendah, tetap memerankan Marissa yang lugu dan polos. "Hemmm...!" gumam Karina, terlihat seperti sedang menyusun kata-kata. #flashback On# "Karina... Karinaa... Karinaaa!" Teriak Kimberly mencari Karina di seisi rumah. Karina yang sedang asik bercinta dengan pacarnya tak mendengar teriakan Kimberly. Kimberly yang baru saja mendapatkan informasi kalau Marissa menjadi sekretaris pribadi Alexavier ingin memanfaatkan keadaan. Cekleekkk.. Pintu kamar Karina terbuka. Kimberly melihat tubuh polos Karina yang sedang ditindih oleh pria yang tidak dia kenal. "Karinaaa!!" Teriak Kimberly. "Haiii Mom... aku akan menyusulmu Mom.. ini akan cepat!!" seru Karina cuek ke Kimberly. "Cepatlah!" Seru Kimberly dan menutup kembali pintu kamar Karina. Kimberly bukan hanya sekali mendapati anaknya sedang bercinta di kamarnya. Jadi melihat Karina seperti itu sudah sangat biasa baginya. Kimberly tidak mau ambil pusing dengan pergaulan putrinya. Dia sangat memanjakan Karina. Baginya wajar saja semua pria tergila-gila dengan keseksian tubuh Karina. Dan itu membuatnya berbangga diri. "Heiii cepatlah selesaikan..!" Seru Karina yang kini sudah berada di atas pacarnya. Karina mulai menggoyangkan tubuhnya dan akhirnya mereka menyelesaikan aktivitas panas mereka. Karina meninggalkan pacarnya dan bergegas menemui Kimberly. Setelah mengenakan pakaian yang rapi, dia duduk di samping ibunya. "Ada apa, Mom?" sapa Karina santai, sambil meraih segelas jus di meja. "Siapa pria itu?" tanya Kimberly, melirik ke arah kamar Karina. "Hmm, dia anak bungsu Tuan Steven Connie. Aku bertemu dengannya di klub tadi malam," jawab Karina penuh antusias. "Hmm..." Kimberly mengangguk kecil. Nama Steven Connie adalah salah satu konglomerat terkenal di Berlin, jadi dia tak terlalu peduli dengan hubungan Karina. "Tapi tunggu, ada yang lebih penting!" ujar Kimberly tiba-tiba, memotong pembicaraan. "Apa, Mom?" Karina menatap ibunya dengan penasaran. "Kau tahu kalau Marissa, anak Daddy-mu, sudah ada di Berlin? Kau harus mendekatinya dan membujuknya untuk membawa Tuan Alexavier ke pesta ulang tahunmu!" ujar Kimberly dengan semangat. "Tuan Alex? Maksud Mommy, Alexavier Ferdinand, Tuan Muda nomor satu di Berlin?" tanya Karina, matanya berbinar penuh semangat. "Ya, sayang. Kamu harus bisa menggaet Tuan Alex dan membawanya ke ranjangmu!" balas Kimberly, wajahnya penuh ambisi. "Oh, Mom! Selama dia melihat tubuhku, dia pasti tergoda," jawab Karina dengan percaya diri #Flashback Off# Kembali ke masa kini, Karina duduk dengan santai di sofa ruang kerja Marissa. "Marisa, saudaraku... bisakah kau memberikan undangan ini kepada Tuan Alexavier?" tanya Karina dengan nada manja, senyum kecil menghiasi wajahnya. "What?! Apa wanita ini sudah gila? Kita bahkan belum pernah bertemu, tapi dia sok akrab begini!" gumam Audie dalam hati, menahan kesal. "Uhmm, sepertinya saya tidak pantas untuk menyerahkan undangan itu kepada Tuan Alex," tolak Audie dengan nada sopan, tetap memerankan Marissa yang rendah hati. "Ayolah, Marissa. Bantu saudaramu ini. Kamu pasti akan sangat bangga jika orang-orang tahu saudaramu berhasil mengencani Tuan Alex," desak Karina tanpa rasa malu sedikit pun. "Dasar ulat keket!" gumam Audie, menggerutu dalam hati. "Ternyata dia memang memiliki niat buruk." "Uhmm, pasti, Karina," pancing Audie, memasang senyum tipis untuk melihat reaksi Karina. "Makanya, bantulah saudaramu ini. Tuan Alex pasti akan bertekuk lutut di hadapanku!" lanjut Karina penuh percaya diri. Audie ingin sekali tertawa, tetapi ia menahan diri. Dia tahu, Alex sedang mendengar seluruh percakapan mereka dari balik kaca ajaibnya. "Hmmm, kayaknya aku harus langsung mengerjai dua orang sekaligus," pikir Audie, senyumnya berubah licik. "Baiklah, Karina. Karena Tuan Alex ada di ruangannya, saya akan langsung mengantar Anda untuk bertemu dengannya," ujar Marissa dengan ekspresi polos, mempertegas akting lugunya. "Dasar bodoh! Anak culun memang gampang dipengaruhi," gumam Karina dalam hati penuh kemenangan, senyum sinisnya makin terlihat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN