Bab 18

1199 Kata
Alex langsung berbalik mendengar kata-kata Audie. Tanpa ragu, dia meraih tengkuk Audie dengan cepat dan mengecup bibirnya. Audie membulatkan matanya, terkejut. Tubuhnya terpaku, tak mampu berbuat apa-apa atas ciuman tiba-tiba itu. Ingin menolak, tetapi tubuhnya berkata lain. Perasaan hangat yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata mulai merasuki dirinya. Alex, yang sama sekali tak menerima penolakan, memperdalam ciumannya. Bibirnya dengan lembut menyentuh, menyesap, dan menyatu dengan bibir Audie. Kini tangan kanan Alex meraih pinggang Audie, menariknya lebih dekat. Setelah beberapa saat, Alex perlahan melepas ciuman itu, menyandarkan keningnya pada kening Audie. Hembusan napas mereka saling beradu, menciptakan kehangatan di antara keduanya. "Terima kasih sudah kembali padaku," bisik Alex, suaranya rendah dan penuh emosi. "Sama-sama, Alex. Aku juga bersyukur kamu begitu menjaga cintamu padaku," jawab Audie dengan tulus. "Selalu dan selamanya, cintaku hanya untuk wanitaku," balas Alex sambil mengecup lembut kening Audie, lalu memeluknya erat. Audie membalas pelukan itu, tangannya mengusap-usap punggung Alex dengan lembut, mencoba menenangkan detak jantung keduanya yang masih berdetak kencang. --- Ceklekkk. Tiba-tiba, pintu ruangan Alex terbuka. "Oppps, sorry...!!" seru Tommy, yang langsung merasa bersalah setelah melihat dua insan tengah tenggelam dalam momen romantis mereka. "It's okay, Tom. Tolong batalkan semua meeting hari ini," ujar Alex santai, tanpa mengendurkan senyumnya. "Okay... Eh, Audie...??" Tommy mendadak terkejut melihat Audie di ruangan itu, apalagi dia mengenakan pakaian yang sama dengan Marissa. "Hussshhhhhh!!!" seru Audie sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Tommy diam. "Masuk, Tom," ujar Alex. "Dan kunci pintu," tambah Alex tegas, saat Tommy sudah menutup pintu. Tommy menuruti perintah bos besarnya itu, meski rasa penasarannya semakin membuncah. "Ada apa ini?" tanya Tommy akhirnya, matanya bergantian menatap Alex dan Audie dengan ekspresi bingung. "Jangan tanya aku," jawab Alex santai. "Aku sendiri juga belum mendapatkan penjelasan apa-apa dari Audie." Alex menatap Audie dengan lembut. "Jadi, Audie... bisa kau jelaskan sekarang?" tanyanya, suaranya terdengar sabar namun menuntut jawaban. "Whattt?! Seorang Tuan Muda Alex bisa bertutur kata selembut itu?!" gumam Tommy dalam hati, hampir tak percaya. "Oke, aku akan menceritakan semuanya dari awal. Tapi aku akan mencoba mempersingkat kisah yang sudah berlalu delapan belas tahun lalu," ujar Audie, menghela napas sebelum mulai bicara. "Hmm, aku akan mencoba mengerti dengan baik. Ceritalah perlahan-lahan," jawab Alex, tetap sabar. Tommy, yang dari tadi memerhatikan, hanya bisa bengong. "Apakah dia Alexavier yang aku kenal?!" gumamnya lagi, tersenyum kecil karena merasa tak percaya dengan perubahan bosnya. Namun Audie tampak ragu sejenak. "Hmm... Tapi apa tidak masalah kalau Tommy tahu?" tanyanya hati-hati, takut menyinggung perasaan Tommy. "It's okay, sayang. Tommy adalah orang kepercayaanku," ujar Alex sambil tersenyum lembut ke arah Audie, membuat Tommy otomatis tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. "Hmm, baiklah," jawab Audie. "Sebelumnya, aku akan memanggil seseorang terlebih dahulu," tambahnya, lalu mengambil ponselnya untuk mengirim pesan singkat ke Maria. --- Tak sampai lima menit, terdengar ketukan di pintu. Tok tok tok. Audie berdiri dan membuka pintu. Masuklah seorang wanita paruh baya dengan wajah yang terlihat sedikit keriput, mengenakan seragam cleaning service. Ekspresi Alex dan Tommy langsung berubah menjadi bingung. Maria, yang menyadari tatapan aneh dari keduanya, membalikkan tubuhnya, membelakangi mereka. Dengan cepat, dia melepas lapisan wax yang menutupi wajahnya. "Selamat siang, Tuan Alex," sapa Maria dengan sopan. "Mariiiiaaaa?!" seru Tommy, terkejut bukan main. Alex pun sama terkejutnya, matanya melebar tak percaya. "Perkenalkan, ini Kak Maria. Asisten sekaligus pengawal pribadiku," ujar Audie memperkenalkan Maria secara resmi. Maria hanya mengangguk kecil, tersenyum simpul melihat ekspresi kedua pria di ruangan itu. Ia membungkukkan tubuh sedikit untuk memberi hormat kepada Alex. "Terima kasih, Maria, karena sudah menjaga Audie selama ini," ujar Alex tulus dengan nada bicara yang tegas namun hangat. "Sudah menjadi tugas saya, Tuan Alex," jawab Maria sopan. "Duduklah," perintah Alex kepada Maria, lalu menoleh ke Audie dengan senyum lembut. "Kamu juga duduk, sayang." "Sayang...? Sejak kapan mereka jadi lovey-dovey begini?!" gumam Maria dalam hati, mencoba menahan senyum. "Heemmm," jawab Audie malu-malu, belum terbiasa dengan panggilan baru itu. Dia pun duduk di sebelah Alex. "So...?" ujar Alex dengan nada rendah, matanya memandang Audie penuh perhatian. "Ehmm... ehmm..." Audie berdehem pelan sebelum memulai. "Aku pindah ke Rotherham sejak usia lima tahun bersama Mommy Vivian dan Uncle James. Itu setelah... Mommy Sidney meninggal." Ucapan terakhirnya terdengar berat. "Mommy Sidney meninggal?" Alex terkejut, baru mengetahui kabar itu. "Iya, Alex. Mommy Sidney sudah meninggal," lanjut Audie dengan suara yang mulai bergetar. Tak terasa, bulir air mata mengalir di pipinya. "I'm sorry, Audie," ujar Alex lembut, menarik tubuh Audie ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan hatinya. "Heemm, it's okay, Alex," jawab Audie, mencoba tersenyum kecil, lalu melepaskan pelukan itu. "Jadi, ketika usiaku menginjak delapan belas tahun, aku diberikan surat dari Mommy Sidney yang selama ini disimpan oleh Mommy Vivian. Dari situ aku tahu semua konflik dan tragedi yang terjadi delapan belas tahun lalu," lanjut Audie. Alex mengangguk pelan, memberi isyarat agar Audie melanjutkan ceritanya. "Uncle James sudah mengatur semuanya bersama Uncle Ferdinand untuk membalas dendam atas kematian Mommy Sidney." Audie mengepalkan tangannya, matanya penuh amarah. "Dari situlah aku harus mengembalikan identitas Marissa yang selama ini dicari oleh pembunuh Mommy Sidney... dan yang sekarang mengincarku." Alex tersentak, ekspresinya berubah. "Audie, maksudmu pembunuh? Kamu sedang dalam situasi berbahaya?" tanyanya dengan nada cemas. "Iya, tapi tenang saja, Alex. Tidak semudah itu mereka bisa menaklukkan seorang Marissa," jawab Audie santai, memberikan senyum penuh percaya diri. "Tetap saja!" suara Alex menggema, memantul di seluruh ruangan. "Aku tidak mau kamu terlibat dalam situasi berbahaya seperti ini!" lanjutnya, penuh emosi. "Heii, tenanglah, Alex!" seru Audie sambil menggenggam tangan Alex, mencoba menenangkannya. "Tuan Alex, Nona Audie selalu berada dalam pengawasan bawahanku," sela Maria, memberikan rasa aman pada Alex. "Hmmm, baiklah." Alex menarik napas panjang, mulai menguasai dirinya. "Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?" tanyanya lebih tenang. "Menurut Uncle James dan Uncle Ferdinand, kita akan mengikuti permainan mereka... dan sesekali melemparkan umpan agar mereka memakannya," jawab Audie, nadanya dingin namun penuh strategi. "Tunggu, maksudmu mereka? Mereka ini siapa?" Alex mengerutkan kening, mencoba memahami situasinya. "David Zaque, suami dari Mama Sidney dan ayah kandungku," jawab Audie tegas. Alex terperangah. "Ayah kandungmu?" "Dan dia bekerja sama dengan istrinya, Kimberly," lanjut Audie tanpa ragu. Audie mengepalkan tangan lagi, emosinya mulai terlihat. "Mereka berdua menjebak Mommy Sidney, mengambil alih perusahaan, dan menghancurkan hidupnya. Tapi mereka tidak tahu bahwa Mommy Sidney sudah memindahkan semua aset perusahaan atas namaku sebelum semuanya terjadi." "Itu sebabnya sekarang mereka mengincarmu?" tanya Alex, berusaha memastikan. "Betul sekali," jawab Audie sambil tersenyum tipis. Alex menatap Audie gemas. "Kenapa kamu bisa sesantai ini?! Mereka mengincarmu, Audie!" serunya dengan nada frustrasi. Audie tersenyum sinis, matanya menyipit. "Karena ini adalah momen kehancuran mereka." "Woww... woww!" sela Tommy, yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh keterkejutan. "Apakah itu mengejutkanmu, Tuan Tommy?" tanya Maria dengan nada sarkastik. "Tidak, Maria! Tentu saja tidak! Ini luar biasa menarik!" seru Tommy, merasa sudah terjerat dalam drama ini. Alex menggenggam tangan Audie lebih erat. "Baiklah... Beritahu aku apa pun itu. Aku akan menjagamu. Oke?" "Hmm, baiklah," jawab Audie sambil tersenyum lembut. --- "Nona Audie, Karina sedang menuju ke sini saat ini," sela Maria, memecah suasana. "Untuk apa dia ke sini?" tanya Audie, mengerutkan kening. "Belum ada informasi, Nona. Namun, sepertinya Karina bergerak sendiri tanpa sepengetahuan ayahnya," jelas Maria. "Hmm, baiklah," ujar Audie sambil berpikir sejenak. "Siapa Karina?" tanya Alex penasaran. "Uhmm, dia anak pertama dari Ayahku, David Zaque, dan istrinya, Kimberly," jawab Audie santai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN