Marissa baru saja kembali ke ruangannya. Dia memutuskan untuk mengunci pintu, ingin istirahat sejenak.
"Fiuhhhh... kenapa menghadapi Alex lebih memusingkan daripada balas dendam ke Ayah?!" gumam Marissa.
"Karena ini istirahat siang, pasti kantor kosong. Lebih baik aku beristirahat."
Marissa melepas kacamatanya dan menguraikan rambutnya.
"Ahhh, lebih baik begini," gumamnya, menikmati sedikit kenyamanan.
Namun tanpa sepengetahuannya, Alex sedang mengamati semuanya dari ruangannya melalui kaca ajaib.
Bola mata Alex membulat sempurna, melotot lebar melihat perubahan yang terjadi pada sosok Marissa. Wanita itu kini tampak seperti seseorang yang selama ini mencuri hatinya.
"Marissa is Audie? Apa yang sebenarnya terjadi?! Apakah dia sengaja menyamar untuk mengerjaiku?!" seru Alex dalam hati, diliputi kebingungan sekaligus kekesalan.
"Aku tak bisa menahannya lagi! Stop bermain-main!" kesal Alex, lalu mengganti mode kacanya menjadi transparan, membuat Marissa bisa melihat dirinya dari ruangan itu.
Marissa terkejut bukan main.
"Ahhhhh!!!" teriaknya dalam hati, dengan wajah yang mulai memerah.
"Matiiii! Ketahuan aku! Ah, sudahlah...!" gumamnya pasrah.
Pandangan mereka akhirnya bertemu, menciptakan keheningan yang penuh arti.
Alex menekan tombol interkom ruangan Marissa.
Beeep beeep.
Bunyi itu terus terdengar di ruangan Marissa, tetapi dia enggan mengangkatnya.
Alex memberi kode tegas—menunjuk ke arahnya seolah berkata—Angkat, atau aku yang ke sana.
Dengan berat hati, Marissa menyerah dan mengangkat interkomnya.
"Masuk ke ruangan saya," titah Alex, suaranya dingin tapi tegas.
"Hmmm, baiklah," jawab Marissa santai. Tak ada lagi alasan menjaga nada bicaranya karena sudah ketahuan, meski dia tetap merapikan penampilannya agar kembali seperti "Marissa".
---
Tok tok tok.
Marissa membuka pintu sedikit dan hanya memasukkan kepalanya.
"Ada—" Belum selesai dia bicara, Alex menariknya masuk hingga tubuh Marissa terhimpit dalam pelukan Alex. Dengan sigap, Alex menutup pintu ruangannya.
"Lepas, Alex!" sergah Marissa, mencoba melepaskan diri.
"Audie atau Marissa?" sarkas Alex, mengangkat alis dengan ekspresi tajam.
Dengan cepat, Marissa menutup mulut Alex dengan tangannya.
"Husshhh! Nanti ada yang dengar!" bisik Marissa panik.
Alex menyingkirkan tangan Marissa perlahan. "Tenang saja. Ruangan ini kedap suara."
"Fiuhhh, syukurlah," gumam Marissa lega.
Alex menarik tangan Marissa dan membawanya duduk di sofa.
Dia meraih ponselnya dan menelpon Tommy.
"Tom, kosongkan jadwalku hari ini... dan hentikan penyelidikan," perintah Alex tegas, lalu langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Dasaaar bos nggak ada akhlak!" gerutu Tommy di seberang sana.
Alex kembali duduk di samping Marissa, menatapnya dengan serius.
"Bisa kau jelaskan sekarang?" tanyanya dengan nada yang lebih lembut.
"Mulai dari mana dulu?" Marissa malah balik bertanya, tersenyum tipis.
"Audie atau Marissa?" tanya Alex penasaran.
"Hmm, dua-duanya namaku," jawab Marissa santai.
"Tunggu!" cegah Marissa cepat, sebelum Alex sempat bicara lagi.
"Marissa memang nama asliku, Alex. Tapi karena sebuah kejadian, Uncle James dan Mommy Vivian mengubah semua identitasku. Jadi, sekarang aku dikenal sebagai Audie Ethelyn."
Alex menatapnya, mencoba mencerna informasi itu. "Lalu, kenapa kamu bingung saat aku menanyakan tentang Ica?" tanyanya lagi, kali ini lebih dalam.
"Hmm, aku baru tahu semalam dari Mommy Vivian kalau Ica itu aku juga. Itu nama kecilku sebelum semuanya berubah... ck!" jawab Marissa sambil menghela napas.
"Jadi, aku harus memanggilmu dengan nama...?" Alex tampak kebingungan.
"Hmm, panggil aku Audie. Tapi kalau kita sedang di luar, dan aku berdandan seperti ini, tetap panggil aku Marissa," jelas Marissa, mencoba memberi batasan.
"Hmm, baiklah," Alex mengangguk, meskipun masih merasa bingung.
"Tapi kenapa kamu harus menyamar di depanku? Aku merasa seperti orang bodoh selama ini," seru Alex, frustrasi.
Marissa hanya menggumam pelan, "Hhuh, hu... umm."
Tatapan Alex berubah sinis. Dia menatap Marissa dengan tajam, menunggu penjelasan yang memuaskan.
"Jangan salahkan aku juga, Lex! Aku juga tidak tahu apa-apa... Aku pikir menutupi jati diriku darimu adalah bagian dari rencana Uncle James! Aku saja baru melihat profilmu saat di pesawat!" bela Audie dengan nada kesal.
"Jadi... saat di klub kamu sudah mengenali wajahku?" Alex terkejut, nyaris tak percaya.
"Hmm..." balas Audie singkat, tidak ingin memperkeruh suasana.
"Berarti kamu mengerjaiku habis-habisan, Audie!" seru Alex, frustrasi.
"Ehmm, ehmm... masih dalam mode misi. Jadi aku harus pura-pura tidak mengenalmu!" balas Audie, ikut kesal.
Tanpa pikir panjang, Alex langsung menggenggam tangan Audie.
"Dari tadi kamu terus bilang tentang misi, penyamaran, dan sebagainya... Apa semua itu, Audie?! Jelaskan sekarang!" tuntut Alex, matanya tajam menatap Audie.
Audie menatap balik, ragu sejenak sebelum menjawab, "Hmmm... Haruskah kamu tahu?"
"HARUS! Aku tidak mau kehilanganmu lagi! Jadi katakan semuanya sekarang!" titah Alex penuh emosi.
Blushhh... Wajah Audie memerah mendengar pernyataan Alex yang begitu tegas dan emosional.
"WAIIITTT! Tolong diperjelas... Kata-kata tadi ditujukan untuk siapa? Ica atau Audie?" sarkas Audie sambil melirik tajam ke arah Alex. Anehnya, entah kenapa ia merasa cemburu hanya karena mendengar nama Ica, padahal itu juga dirinya.
"Audie... please... apa itu penting?" keluh Alex, frustrasi menghadapi sikap Audie.
"Hmm, sangat penting," jawab Audie, melipat kedua tangannya di depan d**a, mencoba tetap terlihat tegas.
"Oh my... Audie!" gumam Alex, mendesah panjang. Dia berdiri dari duduknya, lalu berpindah ke depan Audie. Kali ini, Alex berlutut di lantai, menumpukan kedua tangannya di sofa di mana Audie duduk.
Kini jarak mereka begitu dekat, membuat Audie salah tingkah, meski berusaha tetap terlihat stay cool.
"Audie..." panggil Alex lembut, suaranya nyaris seperti bisikan.
"Hmmm..." jawab Audie sambil mengalihkan pandangan, masih ngambek.
"Kau benar-benar membuatku gila...!" gumam Alex, suaranya penuh emosi.
"Yah, aku tahu," jawab Audie santai, meski bibirnya mulai melengkung ke atas.
"Terserah itu Ica, Marissa, ataupun Audie. Aku tidak peduli. Karena itu hanya nama. Tapi yang aku tahu, selama hidupku, hanya ada satu wanita yang membuatku tergila-gila... Hanya dia yang bisa membuatku tertawa, membuatku tersenyum, membuatku kesal, dan membuatku jatuh cinta berkali-kali! Kaulah wanita itu, Audie. Jadi jangan pernah ragu dengan perasaanku," ucap Alex, matanya menatap dalam ke bola mata Audie.
Audie terdiam, jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. "Hmm... benarkah?" tanyanya, hampir berbisik.
"Hmm, benar. Apa kau ingat kalau kita sudah bertunangan?" tanya Alex lembut.
"Iyah, Uncle James baru saja mengirimkan video dan foto-fotonya," jawab Audie malu-malu, pipinya mulai memerah.
"Hmm... Aku mengikatmu sejak kecil agar tak ada yang bisa mengambilmu! Aku hanya ingin seorang gadis kecil cerewet yang selalu menggangguku. Hanya dia yang mengganggu hidupku... karena aku suka diganggu olehmu," ucap Alex sambil tersenyum tipis.
"Dasar posesif!" gumam Audie pelan.
Alex mengabaikan komentar itu dan mengambil kedua tangan Audie.
"Mulai sekarang, hidupmu adalah hidupku," serunya dengan nada penuh tekad.
"Hmmm... kenapa?" tanya Audie polos, masih menahan senyumnya.
"Karena kau adalah milikku! Aku akan bicara dengan Daddy untuk segera melangsungkan pernikahan kita," ucap Alex tegas.
"Whattt?! Nanti dulu, Alex! Kau bahkan tidak menanyakan bagaimana perasaanku kepadamu. Kenapa kau begitu percaya diri aku akan menikahimu?" balas Audie, mencoba menggoda Alex. Padahal, dalam hatinya, ia sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu di klub.
Mendengar itu, Alex mengerutkan kening, tetapi sudut bibirnya tersenyum licik.
"Tidak ada alasan. Karena yang aku tahu, wanita di depanku ini juga hanya mencintaiku," jawab Alex menggoda, membuat Audie salah tingkah.
"Ehmm, ehmmm..." gumam Audie, wajahnya semakin memerah, sementara ia tak mampu membalas tatapan Alex.
Alex hanya tersenyum melihat wajah Audie yang terlihat menggemaskan saat salah tingkah.
"Berbaliklah," perintah Audie tiba-tiba.
Alex mengangkat alis, bingung, tapi tetap menurut. Dia membalikkan tubuhnya, memberikan punggungnya kepada Audie.
Audie segera bergerak cepat, mengganti penampilannya. Kacamata tipis tetap dia kenakan, tetapi dress putih sederhana yang sebelumnya dia pakai diubah menjadi lebih modis—memancarkan kepercayaan diri dan kesan berkelas.
Setelah memastikan semuanya sempurna, Audie tersenyum puas.
"Tuan Alex... akulah wanitamu!" serunya, dengan nada nakal dan penuh percaya diri.
Alex otomatis berbalik mendengar kata-kata itu. Matanya membesar, dan senyumnya melebar begitu melihat perubahan Audie. Tanpa banyak berpikir, dia segera meraih tengkuk Audie dengan lembut tapi pasti, mendekatkan wajah mereka hingga akhirnya bibir Alex mendarat di bibir Audie.