“Hiks… hiks… Mom…” tangis Audie sambil memeluk Vivian.
Hari ini, Vivian dan James harus pergi ke bandara pukul enam pagi. Karena itu, Audie tidak bisa mengantar mereka karena harus bekerja.
“Hey, jangan nangis, sayang,” ucap Vivian sambil mengusap lembut pipi putri kecilnya.
Akhirnya, tangisan Audie mulai reda.
“Kalau begitu, Mommy dan Uncle berangkat dulu, ya. Bye, sayang,” seru Vivian sambil tersenyum.
“Uncle pergi dulu antar Mommy kamu, oke?” tambah James.
“Oke, Uncle. Take care, Mom.”
“Maria, titip Audie, ya,” ujar Vivian sebelum melangkah keluar dari kamar.
“Baik, Nyonya,” jawab Maria sambil sedikit membungkuk.
Audie pun masuk ke kamar dan bersiap-siap untuk ke kantor.
---
Sementara itu, di kantor, pikiran Alex tak tenang. Dia gelisah setelah mengetahui bahwa cinta pertamanya kini berada di Berlin.
“Di mana kamu, Ica…!” gumam Alex sambil menarik kasar rambutnya.
Yang Alex tahu, nama kecil Marissa adalah Ica.
---
Flashback On
Di kediaman Ferdinand, Sydney dan putri kecilnya datang untuk membahas masalah yang berkaitan dengan David.
“Ica, kamu main aja dulu di taman. Di sana banyak bunga dan kelinci,” ujar Sydney kepada putri kecilnya.
“Oke, Mam!” jawab Marissa ceria, lalu berlari-lari di taman bunga yang indah itu.
Seketika, matanya tertuju pada sosok anak laki-laki yang lebih tua darinya. Dengan semangat, Marissa menghampirinya.
“Halo, nama Kakak siapa?” sapanya riang.
Namun, Alex, yang memang sejak kecil bersikap cuek, tidak mengindahkan pertanyaan itu.
“Apa sih ini bocah… ganggu aja!” gumam Alex kesal.
Marissa kecil tidak menyerah. Dia terus berceloteh dengan ceria.
“Kak, kenalin, nama aku Ica. Hehehe…” ucap Marissa lagi.
Alex tetap tak menggubris dan memilih pergi meninggalkannya.
Namun, karena hampir setiap hari Marissa dan Sydney datang ke rumahnya, Alex mulai terbiasa dengan celoteh dan banyolan Marissa.
Suatu hari, seorang anak laki-laki seusia Alex menghampiri mereka. Anak itu cepat akrab dengan Marissa. Mereka bermain bersama hingga Alex merasa tersisihkan. Dengan kesal, Alex masuk ke dalam rumah sambil menggerutu.
“Mom! Dad!” teriak Alex mencari kedua orang tuanya.
“Iya, sayang. Mommy dan Daddy di ruang kerja,” sahut Lily.
Alex segera melangkah cepat. Ketika membuka pintu ruang kerja, dia mendapati Aunty Sydney dan Uncle James juga berada di sana.
“Hmmm, ada apa, Alex?” tanya Lily melihat wajah muram putranya.
Alex sempat ragu, namun akhirnya memberanikan diri berkata, “Mom, Dad! Alex mau Ica jadi istri Alex!” serunya lantang.
Sontak, keempat orang dewasa itu terkejut mendengar pernyataan Alex. Bagaimana tidak? Usia Alex baru sembilan tahun, sedangkan Marissa baru lima tahun.
“Sini, sayang…” panggil Lily, meminta Alex duduk di sampingnya.
“Alex tahu apa itu istri?” tanyanya lembut.
“Ya, Alex tahu. Seorang wanita yang hanya jadi milik Alex dan hidup bersama Alex dengan penuh kasih sayang!” jawab Alex mantap.
Keempat orang dewasa itu tak kuasa menahan reaksi mereka. James dan Ferdinand tertawa terbahak-bahak, sementara Lily dan Sydney hanya tersenyum.
“Jadi, bagaimana, Syd? Apa kita harus menjodohkan anak-anak kita?” canda Ferdinand di sela tawanya.
“Uhm… Alex, bisakah kamu panggil Ica? Kita perlu tanya langsung ke Ica,” ujar Sydney.
“Baik, Aunty.” Alex segera keluar untuk memanggil Marissa.
“Ya, Mam?” seru Marissa ketika sudah berada di dalam ruangan.
“Ica, sayang… Mommy mau tanya. Apa Ica mau tinggal bersama Alex sampai tua nanti?” tanya Lily dengan bahasa sederhana.
“Tentu saja, Mom! Ica sayang sama Alex!” jawab Marissa polos, membuat semua orang tertawa. Wajah Alex pun memerah mendengar celoteh itu.
“Hahaha… hari ini benar-benar hari yang bahagia,” ujar Ferdinand, disambut anggukan setuju dari Lily, Sydney, dan James.
Saat itu juga, mereka mulai merencanakan pertunangan Alex dan Marissa.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Hanya dua bulan kemudian, Marissa tak lagi datang ke rumah Alex. Setelah satu minggu berlalu tanpa kabar, Alex hanya bisa menunggu dengan gelisah.
Ketika dua minggu berlalu, Alex akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Lily.
“Mom… kenapa Ica tidak pernah datang?” tanya Alex dengan wajah sedih.
Lily terdiam, bingung harus menjawab apa. Pasalnya, Marissa sudah tidak ada di Berlin. Semenjak Sydney meninggal satu minggu yang lalu, keadaan benar-benar tak terkendali. Untuk menjaga keselamatan Marissa, James harus membawa Cathlyn dan Marissa keluar dari Berlin serta mengganti identitas mereka berdua.
“Ica harus pergi, Nak. Aunty Sydney memiliki perusahaan yang harus diurus, dan Ica harus ikut,” ujar Ferdinand, mencoba berbohong.
Deg.
“Jadi Ica sudah tidak ada di sini lagi?” seru Alex dengan mata berkaca-kaca. Dia berusaha menahan air mata yang siap tumpah.
Ferdinand dan Lily hanya mengangguk perlahan, mengiyakan pertanyaan Alex.
Flashback Off
Alex menekan tombol interkom untuk memanggil Tommy.
“Tom… kemarilah.”
“Oke.”
Tak lama kemudian, Tommy masuk ke ruangan Alex.
“Ada apa, Lex?” tanya Tommy.
“Kamu ingat yang pernah kamu selidiki? Wanita bernama Ica,” ujar Alex.
“Ya, tapi kita tidak mendapatkan informasi apa pun,” jawab Tommy sambil mengingat usahanya mencari seseorang bernama Ica di seluruh Berlin.
“Yah… aku baru saja mendapatkan info dari Uncle James kalau Ica sekarang ada di Berlin dan bekerja di sebuah perusahaan,” jelas Alex.
“Hmmm… lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Tommy.
“Cari Ica kembali. Temukan dia. Namanya Marissa Ethelyn,” ucap Alex tegas. Ia hanya tahu nama kecil Ica adalah Marissa dan menyimpulkan nama belakangnya dari nama Vivian dan Audie.
“Oke, Alex!” seru Tommy.
“Kamu tahu, Tom? Semalam aku bertemu Audie. Ternyata Audie adalah anak Aunty Vivian,” lanjut Alex.
“Hah? Serius? Jadi Marissa dan Audie sepupu satu kali?” Tommy terkejut. Selama beberapa hari terakhir, ia memang sibuk mencari informasi tentang Audie.
“Hmmm, serius. Dan ya, Audie adalah sepupu Ica,” jawab Alex sambil tersenyum.
“Kalau begitu, kenapa kamu tetap mencari Marissa?” tanya Tommy penasaran.
“Aku hanya ingin memastikan kalau dia hidup baik-baik saja,” jawab Alex mantap, membuat Tommy mengangguk kecil.
“Baiklah, aku akan mencari informasi tentang Marissa Ethelyn secepatnya,” ujar Tommy.
“Thank you, Tom!”
“Hmmm…”
Tommy pun keluar dari ruangan. Alex mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Audie.
“Hai, Audie…” – Alex
...
Sepuluh menit berlalu. Audie yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya melihat notifikasi pesan masuk di ponselnya.
“Hmm… Alex?” gumam Audie sambil membuka pesan tersebut.
“Hai, Audie…” – Alex
“Ya, Alex…?” – Audie
“Hmm… kamu ada waktu malam ini?” – Alex
“Hmm??” – Audie
“Can I have dinner with you?” – Alex
“Hmm, baiklah…” – Audie
“Thank you… kirimkan alamatmu, aku akan menjemputmu.” – Alex
“Kirimkan saja alamat restorannya. See you there.” – Audie
“Hmm, baiklah. Aku akan mengirimkan lokasinya.” – Alex