"Pak Sakha ini m***m ternyata," sinis Moza, mengalihkan tatapan ke samping kiri demi menyembunyikan raut merah merona di pipinya. Bisa-bisanya di saat genting begini justru Sakha berani menggodanya. "Saya bicara fakta, Moza. Bukan hanya sekedar ucapan m***m semata." "Sudahlah, Pak. Jangan membahas hal itu. Saya tidak tertarik." "Yakin kamu tidak tertarik dan tak ada keinginan untuk hamil secara alami?" "Seperti yang sudah saya katakan pada bapak. Kehamilan secara alami dengan berhubungan badan, akan menjadi pilihan terakhir jika inseminasi yang kita lakukan gagal." "Segitunya kamu tidak mau menjalin kedekatan yang lebih intim dengan saya?" "Ya. Sama halnya sewaktu bapak menikahi saya dulu. Pak Sakha sendiri juga enggan berdekatan dengan saya, kan?" "Jadi ceritanya kamu mau menghukum

