Menyadari sedang berada di mana, juga apa yang dia lakukan sekarang, Moza segera melepaskan dirinya dari pelukan Sakha. Menjauhkan badannya menunduk malu dengan tangan mengusap air mata. "Maafkan saya, Pak. Saya khilaf." "Khilaf kenapa?" "Ya, itu tadi. Membiarkan bapak memeluk saya." Tahu Moza sedang sedih Sakha justru terkekeh hanya karena lucu saja mendengar ucapan istrinya. "Tidak apa. Saya juga tidak keberatan memeluk kamu. Lagipula, saya tahu jika kamu memang sedang membutuhkan sandaran." "Terima kasih dan maaf jika harus ada kejadian memalukan seperti tadi." "Tidak apa. Ayo, kita pulang. Sepertinya kamu membutuhkan istirahat." Moza mengangguk. Kepalanya terasa berat karena menangis. Lebih terkejut lagi ketika Sakha meraih tangannya dan digenggam dengan erat. Perempuan itu menu

