Malam itu, setelah gala dinner, Sheila dan Galih duduk berdua di balkon apartemen mereka. Angin malam menyentuh lembut wajah mereka, membawa aroma kota yang perlahan kembali sunyi setelah hiruk pikuk siang dan sorotan media. Sheila bersandar di kursi rotan, mengangkat kakinya ke atas dudukan, mengenakan kaus longgar dan celana pendek katun yang membuatnya terlihat seperti versi dirinya yang hanya Galih tahu: lembut, tenang, dan jujur.
Galih, masih dalam setelan jas namun dengan dasi terlepas dan kemeja bagian atas dibuka dua kancing, memandang Sheila yang diam sejak mereka pulang. Matanya tidak khawatir, hanya penuh rasa ingin tahu.
“Kamu kenapa diam banget malam ini? Capek?”
Sheila menoleh pelan, lalu tersenyum kecil. “Nggak, cuma… lagi ngerasa aneh aja.”
“Aneh gimana?”
“Kayak, semuanya terlalu tenang. Setelah semua drama, semua ribut, dan semua tekanan itu… sekarang kayak tiba-tiba dunia diam. Dan aku… nggak tahu harus ngapain.”
Galih menyandarkan tubuhnya ke belakang, mendongak ke langit. “Mungkin ini momen buat kita tarik napas. Nggak semua ketenangan berarti keanehan, Sheil. Kadang, hidup cuma lagi ngasih kita waktu untuk merasa.”
Sheila menatap Galih, lama. Lalu perlahan berkata, “Galih, kamu masih ingat hari pertama kita ketemu? Yang benar-benar resmi ketemu, aku maksudnya.”
“Yang kamu sok dingin dan aku sok sabar itu? Tentu saja ingat,” jawab Galih sambil tertawa pelan.
Sheila ikut tertawa, lalu menunduk. “Saat itu aku bener-bener takut. Takut kamu cuma akan jadi satu lagi dari banyak orang yang pakai aku buat tujuannya sendiri.”
Galih tidak menyela. Ia tahu saat Sheila mulai membuka diri, yang terbaik yang bisa ia lakukan adalah mendengarkan.
“Tapi kamu beda. Bukan karena kamu manis atau pengertian. Tapi karena kamu konsisten. Bahkan waktu aku lagi nggak bisa kasih apa-apa. Waktu aku jatuh, waktu aku marah, waktu aku dingin, kamu tetap di situ. Dan aku…”
Ia berhenti. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku sadar, aku jatuh cinta sama kamu bukan dalam satu hari. Tapi dalam banyak hari. Dalam diam-diam kamu menguatkan aku. Dalam tatapanmu waktu aku nggak bisa jawab apa-apa. Dalam caramu ngasih ruang tanpa harus ditanya.”
Galih menoleh. Tatapannya berubah. Lebih dalam. Lebih terbuka.
“Aku juga jatuh cinta sama kamu pelan-pelan, Sheil. Bukan karena kamu CEO, bukan karena kamu pintar, bukan karena kamu kuat. Tapi justru karena kamu berani kelihatan rapuh. Kamu berani bilang ‘aku nggak tahu’, kamu berani marah, kamu berani jujur meski bisa disalahpahami. Kamu manusia banget. Dan aku butuh manusia seperti itu di hidupku.”
Sheila tersenyum tipis. Lalu pelan-pelan, ia berdiri, berjalan mendekat ke arah Galih, dan duduk di pangkuannya. Kedua tangannya melingkar di leher pria itu, wajahnya menempel di leher Galih.
“Kamu tahu, dulu aku nggak pernah percaya bisa bahagia kayak gini. Aku pikir semua hubungan cuma soal kompromi dan bertahan. Tapi kamu bikin aku percaya bahwa cinta juga bisa jadi rumah. Tempat pulang.”
Galih memeluk pinggang Sheila, mencium ubun-ubunnya dengan pelan. “Kamu rumahku juga, Sheila. Dan aku nggak akan ke mana-mana.”
Diam. Pelukan. Detak jantung yang saling menyentuh. Dunia mereka malam itu tidak besar, tapi cukup.
Setelah beberapa saat, Sheila menarik diri sedikit, menatap Galih dari jarak yang sangat dekat. “Galih, boleh aku nanya sesuatu yang serius?”
“Tentu.”
“Kalau suatu hari nanti aku bikin keputusan besar yang kamu nggak setuju, kamu bakal tetap dukung aku atau pergi?”
Galih tidak langsung menjawab. Ia menatap Sheila lekat-lekat, seolah mencari ruang paling jujur dalam matanya. Lalu ia mengangguk pelan.
“Kalau kamu bikin keputusan itu dengan alasan yang kamu percaya, dan kamu bisa tanggung jawab atas itu, aku mungkin nggak setuju, tapi aku nggak akan pergi. Aku akan ada di situ, sebagai orang yang tetap pegang tanganmu. Tapi juga sebagai orang yang berani bilang, ‘aku nggak setuju, tapi aku tetap di sini.’”
Sheila menutup matanya sebentar, meresapi setiap kata itu. Lalu, seperti refleks, ia mencium bibir Galih dengan penuh perasaan. Bukan sekadar ciuman yang romantis, tapi ciuman yang dalam, tenang, dan penuh terima kasih.
Malam itu, tidak ada rencana besar. Tidak ada kejutan. Tidak ada hadiah. Hanya dua orang yang saling jatuh cinta dengan versi masing-masing yang paling jujur.
Dan bagi Sheila, itu adalah malam yang akan ia ingat seumur hidupnya.
Setelah beberapa minggu yang melelahkan, suasana di sekitar Sheila perlahan mulai tenang. Reputasinya yang sempat diguncang perlahan pulih, dan hubungan profesionalnya kembali stabil. Ia kembali disibukkan dengan rutinitas perusahaan, agenda pertemuan klien, dan evaluasi kuartalan. Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang tak ia duga kembali mengetuk pintu hidupnya: masa lalu.
Hari itu, Sheila menghadiri sebuah seminar industri perhiasan mewah di salah satu hotel bergengsi di Jakarta. Acara itu cukup besar, dihadiri para pelaku industri dari dalam dan luar negeri. Ia mengenakan setelan berwarna navy dengan detail silver lembut, rambut disanggul rapi, dan raut wajahnya memancarkan profesionalisme sekaligus ketenangan.
Acara berjalan lancar sampai sesi istirahat siang. Sheila sedang berbicara santai dengan salah satu mitra bisnis luar negeri ketika seorang pria menghampirinya dari belakang.
“Sheila?”
Suara itu membuat tubuhnya menegang sesaat. Suara yang terlalu familiar. Suara yang dulu pernah mengisi pagi dan malamnya… sebelum semuanya runtuh.
Ia berbalik perlahan. Di depannya berdiri seorang pria tinggi dengan jas abu-abu dan kemeja hitam. Wajah itu masih sama, hanya sedikit lebih matang, rahangnya lebih tegas, dan senyumnya… masih senyum yang sama. Senyum yang pernah membuat Sheila percaya pada cinta pertama kali.
“Adrian,” ucap Sheila pelan. “Aku nggak percaya bisa lihat kamu lagi di sini.”
“Aku juga nggak menyangka. Kamu kelihatan… luar biasa. Lebih dari terakhir kali kita ketemu.”
Sheila menegakkan tubuhnya, mencoba tetap tenang. “Itu… sudah lama sekali.”
“Tujuh tahun. Tapi siapa yang menghitung?” Adrian tertawa kecil.
Mereka mengobrol sebentar. Percakapan mereka sopan, ringan, seperti dua orang asing yang kebetulan pernah akrab. Tapi Sheila bisa merasakan mata Adrian yang sesekali menelusuri wajahnya dengan tatapan penuh kenangan.
Setelah beberapa menit, Sheila menyudahi percakapan itu dengan alasan kembali ke ruangan utama. Tapi pikirannya belum bisa sepenuhnya kembali fokus. Ia merasa pikirannya kacau. Bukan karena perasaan lama kembali—tidak, bukan itu—tapi karena ia merasa kehidupan yang baru saja stabil kembali tiba-tiba diganggu oleh sesuatu yang tak tuntas.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Sheila tidak banyak bicara. Galih yang duduk di sebelahnya menyadari keanehan itu.
“Ada yang ganggu pikiranmu?”
Sheila menoleh, menatap Galih sebentar, lalu mengangguk. “Aku ketemu seseorang tadi. Adrian.”
Galih diam sejenak. Ia tahu nama itu. Ia tahu bahwa nama itu punya tempat khusus dalam catatan hidup Sheila, walau Sheila jarang bercerita.
“Dia cuma peserta seminar. Tapi aku nggak nyangka dia akan muncul begitu saja. Dan anehnya, aku… bukan kaget karena perasaanku padanya, tapi karena aku ngerasa belum benar-benar selesai.”
“Belum selesai gimana?” suara Galih tetap tenang.
“Waktu itu aku pergi begitu aja. Tanpa penjelasan, tanpa pamit yang layak. Karena aku takut. Takut dia nggak bisa nerima trauma dan latar belakang keluargaku. Jadi aku pergi sebelum dia bisa nolak aku. Dan hari ini, pas lihat dia… aku sadar bahwa aku nggak pernah menutup pintu itu dengan benar.”
Galih tidak langsung menjawab. Ia menatap jalanan yang mulai dipenuhi lampu kendaraan.
“Kalau kamu merasa perlu bicara sama dia, lakukanlah. Aku nggak akan larang. Tapi aku harap kamu tahu, aku di sini. Nggak kemana-mana. Dan aku percaya kamu.”
Sheila merasa hatinya tersentuh. Ia menggenggam tangan Galih yang ada di pangkuannya. “Terima kasih, Galih. Kamu selalu jadi rumah buat aku. Bukan pelarian, tapi rumah. Dan aku nggak mau ngerusak itu, hanya karena masa lalu yang belum rapi.”
Galih tersenyum kecil. “Kalau kamu perlu rapiin sesuatu, rapikan. Tapi ingat, rumah ini masih nunggu kamu pulang.”
Malam itu, Sheila duduk di balkon apartemen mereka, menatap kota yang tidak pernah tidur. Ia membuka galeri ponsel lamanya—foto-foto yang dulu sudah ia arsipkan. Foto bersama Adrian di kafe kecil, saat hujan pertama mereka, saat perpisahan tanpa kata.
Ia menghapus semuanya malam itu.
Bukan karena marah.
Bukan karena benci.
Tapi karena ia sudah memilih masa depannya.
Dan masa depan itu bernama Galih