Galih bukan tipe pria yang mudah menunjukkan kecemburuan. Selama ini, ia terbiasa menghadapi segala sesuatu dengan kepala dingin, logika, dan perhitungan. Tapi ada sesuatu yang berbeda sore itu.
Sepulang dari kantor, Galih tidak langsung pulang ke apartemen. Ia memutuskan mampir ke salah satu restoran yang biasa dikunjungi Sheila jika ada pertemuan informal. Perasaannya tidak tenang sejak pagi, entah kenapa. Ia hanya ingin memastikan segalanya baik-baik saja.
Tapi yang ia lihat membuat langkahnya terhenti.
Sheila duduk di sudut restoran. Di depannya, Adrian. Mereka tidak duduk terlalu dekat, tapi juga tidak berjauhan. Ada tawa kecil dari Sheila yang terdengar pelan saat Adrian menyebutkan sesuatu. Mata mereka bertemu, ada sisa-sisa kedekatan yang membuat d**a Galih sesak.
Ia tidak masuk. Tidak juga pulang. Ia hanya berdiri sejenak, lalu mundur pelan dan keluar kembali ke parkiran. Ia tidak tahu harus marah atau diam. Yang ia tahu, ada sesuatu yang menyesak di dadanya dan membuatnya ingin pergi sejauh mungkin.
Sheila pulang satu jam kemudian dan menemukan Galih duduk di ruang tengah, menatap layar TV yang bahkan tidak menyala.
“Kamu udah pulang?” tanyanya sambil membuka blazer.
“Udah. Dari tadi,” jawab Galih singkat, nadanya tidak seperti biasanya.
Sheila mengernyit. “Kamu kenapa? Lelah banget kelihatannya.”
Galih menoleh, menatap istrinya. Matanya dingin. “Kamu makan siang enak ya hari ini?”
Sheila terdiam. Ia tahu Galih tahu. Dan Galih tidak sedang menginginkan penjelasan, ia sedang marah.
“Aku bertemu Adrian, iya. Tapi bukan kencan, Galih. Bukan juga sesuatu yang aku sembunyikan. Aku hanya butuh menyelesaikan yang dulu belum selesai. Aku mau bicara baik-baik. Aku nggak ingin ada yang menggantung.”
“Lucu, kamu bilang nggak sembunyi, tapi kamu nggak cerita. Kamu bahkan nggak bilang mau ketemu dia.”
Sheila mendekat, duduk di sampingnya. “Karena aku tahu kamu pasti cemburu. Dan aku nggak mau kamu salah paham.”
“Dan justru itu yang membuat aku makin marah. Kamu tahu aku bakal cemburu, tapi kamu tetap pergi. Diam-diam. Seolah aku ini bukan bagian dari hidupmu yang pantas tahu.”
Sheila menggenggam tangan Galih, tapi Galih menariknya pelan. Gerakan itu lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Kamu pikir aku nggak pernah cemburu ngelihat kamu dengan Gempita dulu? Tapi aku tetap percaya kamu. Kenapa kamu nggak bisa percaya aku juga nggak akan marah?”
Sheila menunduk. “Karena aku takut kehilangan kamu. Dan aku pikir, semakin sedikit yang kamu tahu tentang hal yang nggak penting, semakin aman kita. Tapi ternyata aku salah.”
Galih menghela napas panjang. Ada diam yang panjang di antara mereka sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Sheila, aku bukan lelaki sempurna. Tapi aku ingin jadi laki-laki yang kamu anggap cukup aman untuk diberi tahu semuanya. Bahkan hal yang kamu pikir nggak penting.”
“Maaf, Galih. Aku benar-benar minta maaf. Nggak ada apa-apa lagi antara aku dan Adrian. Nggak akan pernah ada. Kamu satu-satunya.”
Galih menatap Sheila lama. Mata itu masih mata yang ia cintai. Penuh keyakinan, tapi juga ketakutan. Ia tahu Sheila tidak berbohong.
Ia akhirnya menarik napas dan meraih tangan Sheila. “Lain kali, jangan buat aku menerka-nerka. Aku bukan lelaki yang baik dalam menebak. Aku lebih nyaman kalau kamu bilang semuanya. Biar aku nggak bikin skenario di kepala sendiri.”
Sheila mengangguk, air matanya turun perlahan. “Aku janji. Nggak akan ada rahasia. Nggak akan ada yang nggak kamu tahu.”
Galih mencium tangan istrinya, lama, dan berkata dengan suara serak, “Aku cuma takut kamu balik lagi ke tempat yang pernah bikin kamu nyaman. Dan lupa aku.”
“Nggak akan, Galih. Tempat ternyaman aku sekarang, ya kamu.”
Sudah dua hari sejak pertengkaran itu. Tidak ada ledakan emosi, tidak juga bentakan atau pintu yang dibanting. Tapi justru keheningan itulah yang membuat segalanya terasa lebih berat. Galih tetap bersikap baik—sopan, menjaga jarak, tapi juga terasa jauh. Jauh dalam diamnya.
Sheila tahu, Galih belum benar-benar pulih dari kecewanya.
Pagi itu, Galih seperti biasa bangun lebih dulu. Ia membuat kopi, duduk di ruang makan sambil membuka laptop. Saat Sheila muncul dengan rambut diikat dan wajah mengantuk, Galih hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap layarnya.
“Pagi,” ucap Sheila pelan.
“Pagi,” jawab Galih, masih tanpa menatap.
Sheila menarik kursi di sebelahnya, duduk dengan secangkir teh di tangan. “Kamu ada meeting jam berapa?”
“Sembilan. Di kantor.”
“Aku ke showroom hari ini. Ada kunjungan dari klien luar.”
Galih hanya mengangguk, tangannya tetap sibuk mengetik. Tak ada balasan seperti biasanya. Tak ada, “Semangat, ya,” atau candaan kecil yang biasa mengawali hari mereka.
Sheila menarik napas dalam, mencoba menahan kecewa. Ia tahu ini bukan waktunya menyudutkan Galih atau memaksa dia bicara. Tapi diam ini membuatnya semakin merasa bersalah.
Sepanjang hari, Sheila berusaha fokus. Tapi pikirannya terus kembali pada Galih—pada jarak yang kini terbentuk antara mereka, pada tatapan datar yang menggantikan senyum hangat Galih setiap pagi.
Malamnya, Sheila memutuskan untuk menyiapkan sesuatu. Ia menolak ajakan makan malam dari rekan-rekannya dan pulang lebih cepat dari biasanya. Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke pasar swalayan, membeli bahan-bahan makanan segar. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun segalanya: hidangan hangat, suasana tenang, dan sesuatu yang manis tapi menyegarkan untuk Galih.
Sesampainya di apartemen, Sheila mulai memasak dengan sepenuh hati. Ia menyetel playlist jazz lembut yang biasa mereka dengarkan bersama. Ia menata meja makan dengan detail kecil yang biasa membuat Galih tersenyum—serbet linen favoritnya, dua lilin kecil, dan satu pot kecil bunga lavender di tengah meja. Dan malam itu, ia meracik mocktail favorit Galih: soda tonic, lemon segar, daun mint, dan sedikit madu. Dingin, menyegarkan, dan bersih—seperti yang selalu Galih sukai.
Saat Galih pulang, jam delapan lebih lima belas, ia langsung mencium aroma masakan yang menguar dari dapur. Ia melongok pelan dan menemukan Sheila sedang sibuk mengaduk saus sambil sesekali mencicipi.
“Kamu masak?” tanyanya datar.
Sheila menoleh, sedikit gugup. “Iya. Buat kamu. Aku tahu kamu belum makan. Aku juga buat mocktail yang kamu suka.”
Galih melepas jasnya, menggantung rapi, lalu berganti pakaian sebelum duduk di meja. Sheila menyajikan makanan tanpa banyak bicara. Ia duduk di seberang Galih dan menunggu.
“Masih marah ya?” akhirnya Sheila bertanya, suara pelan nyaris seperti bisikan.
Galih menghela napas. “Nggak marah. Cuma masih… belum bisa biasa.”
“Aku ngerti. Aku juga bakal ngerasa gitu kalau posisiku kebalik. Aku cuma… pengin semuanya baik lagi. Aku kangen kamu. Yang suka ngetawain aku kalau aku terlalu serius. Yang suka bilang aku nyebelin tapi manis. Yang suka nyariin aku tengah malam cuma buat peluk. Aku kangen itu.”
Galih menatap Sheila. Tatapan itu lebih lembut dari sebelumnya, meski masih ada sisa luka di sana.
“Aku nggak pergi, Sheil. Tapi aku juga bukan robot. Aku butuh waktu.”
Sheila mengangguk, air matanya sudah menggenang. “Aku tahu. Aku cuma… nggak mau kita jadi asing. Aku bisa tunggu kamu. Tapi boleh nggak, sambil nunggu, aku peluk kamu?”
Galih menatapnya lama, lalu berdiri. Ia menghampiri Sheila, menunduk, dan menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Sheila langsung membenamkan wajah di d**a Galih, menangis pelan.
“Maaf, ya…” gumamnya.
“Nggak usah minta maaf lagi. Cukup di sini. Di pelukan ini.”
Pelukan itu lama. Seperti mereka berdua sama-sama ingin kembali percaya tanpa syarat. Seperti mereka sama-sama sadar bahwa rumah bukan tempat yang sempurna—tapi tempat yang ingin terus mereka pulangin.
Setelah makan malam, mereka duduk berdampingan di sofa ruang tengah. Sheila menyalakan TV sekadar untuk mengisi ruang hening. Film yang diputar adalah romcom lama, salah satu favorit Sheila. Galih hanya duduk diam, tangannya bersandar di lengan sofa.
Sheila meraih remote, mematikan televisi. “Kamu tahu… waktu pertama kali aku mulai suka kamu, itu karena kamu nggak pernah menuntut aku jadi orang yang sempurna. Kamu cuma minta aku jujur. Aku nyesel karena sempat gagal melakukan itu.”
Galih menoleh. “Kita semua bisa salah, Sheil. Aku juga. Aku nggak seharusnya mendiamkan kamu seperti ini. Aku tahu kamu takut, dan kamu mencoba melindungi hubungan kita dengan caramu. Tapi ya, kadang caranya yang nyakitin.”
“Aku tahu. Dan aku belajar. Besok-besok, semua yang kamu perlu tahu, aku bakal cerita. Bahkan kalau cuma soal klien rese. Karena kamu berhak tahu segalanya.”
Galih tersenyum tipis, untuk pertama kalinya malam itu. “Aku cuma pengin jadi bagian dari semuanya, Sheil. Bukan yang datang belakangan setelah kamu menyaring informasi. Aku pengin jadi orang pertama yang kamu cari kalau kamu bingung.”
Sheila meraih tangan Galih, menggenggamnya erat. “Mulai sekarang, kamu orang pertama. Dan terakhir.”
Galih membalas genggaman itu. Dan di dalam keheningan yang pelan, mereka menemukan kembali pijakan.
Malam itu mereka tidur lebih dekat. Tidak bicara banyak. Tapi tubuh mereka saling menyatu seperti puzzle yang akhirnya kembali ke bentuk semula.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Galih mencium dahi Sheila sebelum tidur.
“Selamat tidur, sayang. Aku juga kangen kamu.”
Dan Sheila menangis kecil, tapi kali ini karena lega. Karena hatinya tahu, mereka baik-baik saja.
Untuk pertama kalinya, benar-benar baik-baik saja.