Bab 25

1792 Kata
Sudah dua hari sejak pertengkaran itu. Tidak ada ledakan emosi, tidak juga bentakan atau pintu yang dibanting. Tapi justru keheningan itulah yang membuat segalanya terasa lebih berat. Galih tetap bersikap baik—sopan, menjaga jarak, tapi juga terasa jauh. Jauh dalam diamnya. Sheila tahu, Galih belum benar-benar pulih dari kecewanya. Pagi itu, Galih seperti biasa bangun lebih dulu. Ia membuat kopi, duduk di ruang makan sambil membuka laptop. Saat Sheila muncul dengan rambut diikat dan wajah mengantuk, Galih hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap layarnya. “Pagi,” ucap Sheila pelan. “Pagi,” jawab Galih, masih tanpa menatap. Sheila menarik kursi di sebelahnya, duduk dengan secangkir teh di tangan. “Kamu ada meeting jam berapa?” “Sembilan. Di kantor.” “Aku ke showroom hari ini. Ada kunjungan dari klien luar.” Galih hanya mengangguk, tangannya tetap sibuk mengetik. Tak ada balasan seperti biasanya. Tak ada, “Semangat, ya,” atau candaan kecil yang biasa mengawali hari mereka. Sheila menarik napas dalam, mencoba menahan kecewa. Ia tahu ini bukan waktunya menyudutkan Galih atau memaksa dia bicara. Tapi diam ini membuatnya semakin merasa bersalah. Sepanjang hari, Sheila berusaha fokus. Tapi pikirannya terus kembali pada Galih—pada jarak yang kini terbentuk antara mereka, pada tatapan datar yang menggantikan senyum hangat Galih setiap pagi. Malamnya, Sheila memutuskan untuk menyiapkan sesuatu. Ia menolak ajakan makan malam dari rekan-rekannya dan pulang lebih cepat dari biasanya. Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke pasar swalayan, membeli bahan-bahan makanan segar. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun segalanya: hidangan hangat, suasana tenang, dan sesuatu yang manis tapi menyegarkan untuk Galih. Sesampainya di apartemen, Sheila mulai memasak dengan sepenuh hati. Ia menyetel playlist jazz lembut yang biasa mereka dengarkan bersama. Ia menata meja makan dengan detail kecil yang biasa membuat Galih tersenyum—serbet linen favoritnya, dua lilin kecil, dan satu pot kecil bunga lavender di tengah meja. Dan malam itu, ia meracik mocktail favorit Galih: soda tonic, lemon segar, daun mint, dan sedikit madu. Dingin, menyegarkan, dan bersih—seperti yang selalu Galih sukai. Saat Galih pulang, jam delapan lebih lima belas, ia langsung mencium aroma masakan yang menguar dari dapur. Ia melongok pelan dan menemukan Sheila sedang sibuk mengaduk saus sambil sesekali mencicipi. “Kamu masak?” tanyanya datar. Sheila menoleh, sedikit gugup. “Iya. Buat kamu. Aku tahu kamu belum makan. Aku juga buat mocktail yang kamu suka.” Galih melepas jasnya, menggantung rapi, lalu berganti pakaian sebelum duduk di meja. Sheila menyajikan makanan tanpa banyak bicara. Ia duduk di seberang Galih dan menunggu. “Masih marah ya?” akhirnya Sheila bertanya, suara pelan nyaris seperti bisikan. Galih menghela napas. “Nggak marah. Cuma masih… belum bisa biasa.” “Aku ngerti. Aku juga bakal ngerasa gitu kalau posisiku kebalik. Aku cuma… pengin semuanya baik lagi. Aku kangen kamu. Yang suka ngetawain aku kalau aku terlalu serius. Yang suka bilang aku nyebelin tapi manis. Yang suka nyariin aku tengah malam cuma buat peluk. Aku kangen itu.” Galih menatap Sheila. Tatapan itu lebih lembut dari sebelumnya, meski masih ada sisa luka di sana. “Aku nggak pergi, Sheil. Tapi aku juga bukan robot. Aku butuh waktu.” Sheila mengangguk, air matanya sudah menggenang. “Aku tahu. Aku cuma… nggak mau kita jadi asing. Aku bisa tunggu kamu. Tapi boleh nggak, sambil nunggu, aku peluk kamu?” Galih menatapnya lama, lalu berdiri. Ia menghampiri Sheila, menunduk, dan menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Sheila langsung membenamkan wajah di d**a Galih, menangis pelan. “Maaf, ya…” gumamnya. “Nggak usah minta maaf lagi. Cukup di sini. Di pelukan ini.” Pelukan itu lama. Seperti mereka berdua sama-sama ingin kembali percaya tanpa syarat. Seperti mereka sama-sama sadar bahwa rumah bukan tempat yang sempurna—tapi tempat yang ingin terus mereka pulangin. Setelah makan malam, mereka duduk berdampingan di sofa ruang tengah. Sheila menyalakan TV sekadar untuk mengisi ruang hening. Film yang diputar adalah romcom lama, salah satu favorit Sheila. Galih hanya duduk diam, tangannya bersandar di lengan sofa. Sheila meraih remote, mematikan televisi. “Kamu tahu… waktu pertama kali aku mulai suka kamu, itu karena kamu nggak pernah menuntut aku jadi orang yang sempurna. Kamu cuma minta aku jujur. Aku nyesel karena sempat gagal melakukan itu.” Galih menoleh. “Kita semua bisa salah, Sheil. Aku juga. Aku nggak seharusnya mendiamkan kamu seperti ini. Aku tahu kamu takut, dan kamu mencoba melindungi hubungan kita dengan caramu. Tapi ya, kadang caranya yang nyakitin.” “Aku tahu. Dan aku belajar. Besok-besok, semua yang kamu perlu tahu, aku bakal cerita. Bahkan kalau cuma soal klien rese. Karena kamu berhak tahu segalanya.” Galih tersenyum tipis, untuk pertama kalinya malam itu. “Aku cuma pengin jadi bagian dari semuanya, Sheil. Bukan yang datang belakangan setelah kamu menyaring informasi. Aku pengin jadi orang pertama yang kamu cari kalau kamu bingung.” Sheila meraih tangan Galih, menggenggamnya erat. “Mulai sekarang, kamu orang pertama. Dan terakhir.” Galih membalas genggaman itu. Dan di dalam keheningan yang pelan, mereka menemukan kembali pijakan. Malam itu mereka tidur lebih dekat. Tidak bicara banyak. Tapi tubuh mereka saling menyatu seperti puzzle yang akhirnya kembali ke bentuk semula. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Galih mencium dahi Sheila sebelum tidur. “Selamat tidur, sayang. Aku juga kangen kamu.” Dan Sheila menangis kecil, tapi kali ini karena lega. Karena hatinya tahu, mereka baik-baik saja. Untuk pertama kalinya, benar-benar baik-baik saja. Pagi itu, mentari Jakarta tampak lebih cerah dari biasanya. Langit biru terbentang luas tanpa awan kelabu sedikit pun. Di dalam apartemen, aroma kopi dan roti panggang menyelimuti udara. Galih berdiri di dapur, mengenakan kaus abu dan celana training, tampak sedang menata dua piring berisi sarapan. Sheila keluar dari kamar sambil mengikat rambutnya dengan satu tangan. Mata masih sedikit sayu, tapi bibirnya membentuk senyum kecil saat melihat punggung Galih di dapur. “Wah… pagi-pagi sudah dapet pelayanan bintang lima.” Galih menoleh, tersenyum. “Kamu yang kemarin janji mau masak, tapi aku bangun duluan. Jadi, janji kamu gugur.” Sheila tertawa kecil dan berjalan pelan ke dapur, lalu memeluk Galih dari belakang. “Kalau gitu aku gantinya malam nanti. Bukan masak, tapi pelayanan jenis lain.” Galih tertawa, menoleh sambil mencium pelipis Sheila. “Pelayanan berupa lelucon receh dan pelukan mendadak kayak gini?” “Termasuk,” jawab Sheila sambil terkikik. Mereka makan bersama di meja makan kecil yang biasa mereka pakai untuk sarapan. Obrolan mereka ringan, sesekali diselingi tawa. Untuk pertama kalinya setelah drama Adrian, semua terasa kembali normal. Bahkan lebih dari sekadar normal—mereka seperti pasangan yang baru saja menyadari bahwa cinta mereka bukan hanya bertahan, tapi juga tumbuh. Siang itu, Galih mengajak Sheila keluar tanpa memberitahu tujuan. Ia hanya bilang, “Pakai sesuatu yang santai tapi bisa diajak duduk lama.” Mereka akhirnya tiba di sebuah taman terbuka yang cukup tersembunyi di tengah kota. Bukan taman biasa, tapi semacam amfiteater mini dengan bangku-bangku batu dan pohon besar yang menaungi sebagian area. Di tengah, sebuah layar besar dipasang—sebuah bioskop outdoor komunitas yang biasa menayangkan film-film lama. Sheila terkesiap. “Kamu nemu tempat ini dari mana?” “Dari seseorang yang tahu kamu suka film lama, dan pernah bilang pengen nonton di luar ruangan kayak di film-film barat. Tapi nggak pernah kesampaian.” Sheila menatap Galih, matanya berbinar. “Kamu ingat?” “Hal yang bikin kamu tersenyum itu selalu terekam di otakku,” kata Galih, pelan, nyaris seperti doa. Mereka duduk di atas selimut piknik yang sudah disiapkan Galih, lengkap dengan bantal kecil dan minuman botol. Saat film mulai, Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Galih. Film yang diputar adalah Roman Holiday—salah satu favorit Sheila. Di pertengahan film, saat suasana sudah cukup gelap dan hanya cahaya layar yang menyinari wajah mereka, Sheila menatap Galih dan berbisik, “Kamu tahu nggak, dulu aku selalu takut jatuh cinta terlalu dalam.” “Kenapa?” “Karena aku takut nggak bisa keluar lagi. Takut kalau nanti yang aku percaya pergi, aku nggak tahu cara berdiri lagi.” Galih menggenggam tangannya. “Aku nggak akan pergi. Tapi kalau suatu hari aku harus pergi karena takdir, aku akan ninggalin cukup cinta buat kamu berdiri lagi.” Sheila menghela napas pelan, menunduk. “Kata-katamu kadang lebih manis dari film.” Mereka tidak bicara lama setelah itu, hanya duduk berdua di bawah langit, ditemani suara Audrey Hepburn dan Gregory Peck. Di akhir film, Galih meraih tangan Sheila dan menciumnya perlahan. “Terima kasih,” bisik Sheila. “Untuk?” “Untuk mencintai aku. Untuk tetap tinggal. Untuk sabar saat aku bodoh. Dan untuk hari ini.” Galih hanya menggeleng kecil, menatap Sheila dengan kelembutan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. “Cintaku ke kamu itu bukan pilihan lagi, Sheil. Udah jadi cara hidup.” Malam itu, mereka tidak langsung pulang. Mereka mampir ke kedai kecil pinggir jalan, makan bakso dan es campur, duduk di bangku plastik berdua tanpa malu atau canggung. Di tengah hiruk-pikuk dan suara kendaraan, Sheila berkata, “Aku nggak pernah nyangka hubungan yang awalnya disusun di atas kontrak dan tekanan bisa berubah jadi seserius ini.” Galih tertawa. “Ya, hidup emang suka lucu. Tapi aku nggak pernah nyesel. Justru aku bersyukur.” Sheila menatap Galih dengan serius. “Kalau suatu hari kamu melamar aku, beneran, dengan niat nikah sakral dan bukan karena kesepakatan keluarga… aku akan bilang ya.” Galih terdiam. Lalu tersenyum. “Berarti aku harus nyiapin cincin, ya?” Sheila mengangguk. “Cincin, dan pidato. Panjang.” Mereka tertawa lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Sheila merasa benar-benar yakin bahwa tempatnya memang di samping Galih—bukan karena keterpaksaan, bukan karena drama masa lalu, tapi karena cinta itu sendiri. Malam itu, saat mereka kembali ke apartemen, hujan turun pelan. Bukan hujan deras, tapi gerimis lembut yang seakan memeluk kota. Galih menggandeng tangan Sheila erat saat mereka berjalan dari parkiran. Sesampainya di rumah, Sheila mengganti pakaian, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap foto kecil mereka berdua yang dipajang di meja. “Galih,” panggilnya lirih. “Hm?” “Kalau kamu mau nikah ulang dengan aku… dengan resepsi yang kamu atur, dan tamu yang kita pilih, dan gaun yang aku suka… mau nggak?” Galih berdiri di belakang Sheila, melingkarkan tangannya dari belakang. “Mau. Bahkan tanpa tamu pun, aku akan tetap bilang ya. Asal kamu yang aku nikahi.” Sheila menoleh, mata mereka bertemu. Ciuman mereka malam itu tidak terburu-buru, tidak penuh nafsu. Tapi dalam dan tenang. Ciuman dua orang yang akhirnya tahu: ini bukan pelarian. Ini rumah. Dan malam itu, mereka membuktikannya dalam pelukan yang pelan dan sentuhan yang sederhana, tapi bermakna. Tidak perlu banyak kata. Tidak perlu adegan dramatis. Karena di antara napas yang tersusun dan bisikan “Aku cinta kamu” yang keluar di antara jeda pelukan, cinta mereka bicara sendiri. Dan itu cukup. Lebih dari cukup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN