Bab 26

1408 Kata
Hujan kembali turun malam itu, membasahi jendela apartemen dengan irama monoton. Sheila sedang di kamar kerjanya, menatap layar laptop penuh grafik kampanye untuk lini koleksi bridal The Diamonds Palace. Ponselnya tergeletak di samping, notifikasi berulang-ulang masuk dari grup kerja dan… satu dari Adrian. Sheila tidak membalas. Ia tak ingin membuka percakapan yang bisa disalahpahami—terutama oleh seseorang yang sedang berusaha keras ia jaga: Galih. Namun, takdir punya selera humor yang buruk. Saat tengah malam, Galih pulang dari pertemuan makan malam investor dengan wajah letih. Tanpa banyak bicara, ia melepaskan dasi dan jas, lalu duduk di sofa ruang tengah. Di atas meja, ponsel Sheila tergeletak. Muncul pop-up pesan di layar kunci: Adrian: “Senang tadi bisa makan bareng kamu. Rasanya kayak dulu lagi. Kalau ada waktu, aku pengen ngobrol lebih panjang soal campaign baru…” Galih menatap layar beberapa detik, ekspresinya mengeras. Lalu, diam-diam, ia kunci layar ponsel itu dan mengembalikannya ke meja—tanpa mengatakan sepatah kata pun. Keesokan paginya, suasana menjadi dingin. Bukan karena AC, tapi karena Galih nyaris tidak bicara. Ia membuat sarapan tanpa suara, tidak menawari Sheila kopi seperti biasa, dan bahkan tidak mencium keningnya sebelum pergi. Sheila mulai curiga. “Galih?” tanyanya lembut saat pria itu sedang mengenakan jam tangan. “Kamu kenapa?” “Tidak,” jawab Galih singkat. “Nggak ada apa-apa.” Sheila berdiri, menghampiri. “Kamu ngambek?” Galih menoleh. “Harusnya aku yang nanya. Kamu nyaman ya, makan bareng Adrian tanpa bilang-bilang?” Sheila terdiam sejenak. “Kamu lihat chat dia?” “Aku nggak ngintip. Tapi ponselmu kebuka. Aku juga nggak cari alasan. Hanya—ya, aku merasa kayak orang bodoh aja.” “Kami cuma bicara soal proyek,” ujar Sheila. “Dia bantu aku dapat insight buat strategi offline. Dan—aku nggak tahu kamu akan bereaksi segini defensifnya.” Galih mendengus pelan. “Defensif? Aku cuma suamimu, Sheil. Aku kira kita udah sepakat terbuka satu sama lain. Tapi kamu pergi makan dengan mantan yang jelas-jelas pernah bikin kamu nangis dan kamu nggak bilang satu kata pun.” Sheila menghela napas panjang. “Aku takut kamu marah, makanya aku diem.” “Nah, itu justru yang bikin aku marah.” Galih menggeleng. “Bukan kamu makan bareng dia. Tapi kamu milih untuk sembunyiin.” Suasana menjadi semakin tegang. Sheila menatap Galih dalam-dalam. “Aku nggak selingkuh, Galih. Aku nggak naksir dia. Aku milih kamu. Tapi kamu juga harus ngerti bahwa di hidupku, ada bagian yang nggak bisa kamu atur semuanya.” Galih menjawab, datar, “Tapi aku harus tahu kalau kamu masih ngasih akses ke orang yang nyakitin kamu.” Sheila memejamkan mata sejenak, lalu mendekat dan menyentuh dadanya. “Aku salah karena nggak jujur. Tapi jangan pakai itu buat ngusir aku. Jangan tarik diri.” Galih menahan napas. Ia ingin bicara—ingin memaki, ingin memeluk, ingin menghilangkan rasa cemburu yang menyiksa d**a. Tapi semua rasa itu tumpang tindih. Akhirnya, ia hanya berkata, “Aku butuh waktu sebentar.” Sheila menunduk. “Kalau itu yang kamu perlu, ambillah. Tapi jangan pergi terlalu lama.” Selama dua hari, Galih tetap pulang ke apartemen, tapi mereka hampir tak bicara. Semua jadi mekanis—seperti dua orang yang tinggal bersama karena kewajiban, bukan karena cinta. Sheila tak tahan. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, saat rumahnya dingin oleh tatapan ayah yang tak pernah puas, dan ibunya sibuk menyalahkan semua kecanggungan hidup pada Sheila. Jadi, malam ketiga, ia menyiapkan makan malam sederhana. Ia mengenakan kaus putih polos dan celana linen, tanpa makeup. Meja makan ditata, tidak mewah, tapi rapi. Galih baru pulang lewat jam sembilan malam. Ia membuka pintu dan kaget mendapati ruangan diterangi lilin kecil. “Kita bisa ngobrol sebentar?” tanya Sheila, suaranya lembut. Galih mengangguk. Ia melepas jaket dan duduk. Makanan sudah dingin, tapi Sheila tak peduli. “Aku nggak akan berbohong lagi soal hal sekecil apa pun,” kata Sheila pelan. “Aku masih belajar jadi istri yang nggak penuh dinding. Tapi kamu juga harus tahu, kadang aku masih berantakan.” Galih menatapnya. “Kamu bukan berantakan,” katanya akhirnya. “Kamu cuma terluka.” Sheila menggigit bibir. “Dan kamu juga.” Mereka terdiam, lalu tertawa kecil—karena menyadari bahwa keduanya memang sama: dua manusia dewasa dengan luka masa lalu dan ketakutan akan kehilangan. Galih mengulurkan tangan. “Mulai besok, kita jalan pagi bareng. Cerita tentang kerjaan, tentang hal sepele, bahkan tentang Adrian.” Sheila mengangguk, tersenyum kecil. “Oke. Tapi jangan minta aku ceritain isi grup arisan mamaku ya.” Galih tertawa. “Deal.” Dan malam itu, meski tidak semua masalah langsung hilang, setidaknya ada satu yang mulai sembuh: kepercayaan. Suara ketukan garpu dan piring berpadu pelan di ruang makan keluarga besar Sukmawan malam itu. Hidangan disusun rapi di meja panjang yang terbuat dari kayu jati tua—warisan dari generasi terdahulu. Di ujung meja duduk Helmi Sukmawan, ayah Galih, pria yang dulu hanya hadir dalam cerita-cerita luka. Sheila duduk di sisi Galih, dengan senyum formal dan napas pendek. Ini pertama kalinya ia datang ke acara makan malam keluarga suaminya sejak pernikahan. Meski sudah sah menjadi istri Galih, Sheila tahu, dia belum sepenuhnya diterima di lingkaran keluarga ini. Terutama oleh sang patriark, yang sejak dulu memandang perempuan hanya sebagai hiasan—bukan pemegang kendali. “Kamu masak sendiri, Sheil?” tanya Guntur, salah satu kakak ipar Galih, mencoba mencairkan suasana. “Kalau semua orang kerja lembur kayak sekarang, rasanya nggak realistis ya masak tiap hari,” jawab Sheila dengan senyum ramah. “Tapi weekend biasanya aku masak.” Guntur tertawa kecil. “Setidaknya kamu jujur.” Helmi mengangkat gelas anggur. “Tapi kamu tahu kan, anak keluarga ini biasa makan masakan rumah sejak kecil. Ibunya dulu—” “Masak hanya saat tidak sibuk ke spa,” potong Galih tiba-tiba. Suasana kaku sejenak. Guntur menyembunyikan tawa. Harry, saudara lainnya, menatap ke piring. Sheila menunduk pelan. Helmi tak menjawab. Hanya mengangguk pelan. Sheila mencoba menjaga senyumnya tetap utuh. Tapi jantungnya berdebar. Ada luka lama yang ikut menganga malam itu—bukan hanya di hati Galih, tapi juga di hatinya sendiri. Karena meja panjang, makan malam formal, dan pria dominan yang bicara dari ujung meja, mengingatkannya pada masa kecilnya sendiri. Pada makan malam di rumah Rahadian, tempat ibunya selalu memaksanya tersenyum meski dipermalukan, tempat ayahnya mengatur bahkan menu makanannya, dan tempat dia hanya dianggap “putri pewaris,” bukan manusia utuh. Galih menggenggam tangan Sheila di bawah meja. Genggamannya lembut tapi erat. Ia menoleh sekilas, dan Sheila tahu—pria itu menyadari semuanya. “Boleh aku bicara?” tanya Galih kemudian, mengangkat wajahnya ke arah semua yang hadir. Semua menoleh. “Aku tahu nggak semua dari kalian setuju dengan pernikahan kami. Aku juga tahu… kalian mungkin menganggap kami menikah karena kontrak bisnis. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu—aku memilih Sheila. Dan aku akan terus memilihnya, bahkan kalau tidak ada saham dan tidak ada perusahaan.” Sheila menatap suaminya, matanya panas. “Dia wanita yang jujur, cerdas, dan paling tahu caranya menyentuh luka orang—bukan untuk mengorek, tapi untuk menyembuhkan. Jadi, kalau kalian belum siap menerimanya, setidaknya jangan menyakiti orang yang aku cintai.” Sunyi. Helmi menghela napas. “Tidak ada yang menyakiti. Kami hanya ingin memastikan kamu tidak salah pilih.” “Kalaupun salah, itu hak saya,” balas Galih tenang. “Karena saya akan hidup dengannya. Bukan Ayah.” Sheila hampir menahan napas. Kata-kata Galih seperti benteng terakhir yang selama ini ia takuti—tapi sekaligus dambakan. Sebuah pembelaan. Sebuah keberpihakan. Ia menggenggam tangan Galih lebih erat. Setelah makan malam, saat semua mulai bubar, Sheila berdiri sendirian di balkon rumah keluarga besar itu. Ia memandangi lampu-lampu taman yang redup, mencoba bernapas lebih dalam. Suara langkah mendekat. Galih. “Are you okay?” tanyanya lembut. Sheila mengangguk. “Nggak tahu kenapa, aku tadi seperti… jadi Sheila Rahadian umur 15 tahun. Duduk di meja panjang, dijadikan simbol, bukan manusia.” Galih berdiri di sampingnya. “Tapi sekarang kamu bukan sendiri lagi.” Sheila tersenyum kecil. “Terima kasih udah bicara kayak tadi.” “Aku nggak bela kamu karena kamu istriku,” kata Galih pelan. “Aku bela kamu karena kamu perempuan yang kuat, tapi kadang terlalu sering harus kuat sendiri.” Mata Sheila berkaca. “Kamu tahu nggak? Kalimat itu kayak peluk. Dari dalam.” Galih tersenyum, lalu meraih tubuhnya dan memeluk Sheila erat. Dan di malam yang seharusnya membuat mereka merasa asing, justru jadi malam di mana mereka merasa benar-benar jadi rumah satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN