Mereka pulang larut malam. Mobil melaju pelan di tengah kota yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan berkelebat di jendela, menciptakan pola cahaya di wajah Galih yang menyetir tanpa banyak bicara. Sheila duduk di kursi penumpang, menggenggam jemarinya sendiri.
Tidak ada radio. Tidak ada notifikasi ponsel. Tapi tidak ada keheningan yang canggung malam itu. Hanya jeda-jeda sunyi yang menenangkan.
Sesekali, Galih melirik ke arahnya.
“Kamu ngantuk?”
Sheila menggeleng. “Belum. Tapi capek, iya.”
“Kamu hebat tadi malam,” kata Galih. “Aku tahu kamu nggak nyaman. Tapi kamu tetap berdiri di sana, tegar.”
“Aku cuma mikir, jangan sampai kamu harus memilih antara aku dan keluarga. Itu saja.”
Galih menoleh padanya sebentar. “Kalau itu terjadi… aku tetap akan memilih kamu, Sheila.”
Sheila tertawa pelan. “Jangan ngomong gitu sembarangan.”
“Aku nggak sembarangan. Kamu tahu kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena setelah semua yang udah kita lalui, aku sadar satu hal—aku bukan cuma cinta kamu, Sheil. Aku percaya sama kamu. Dan itu jauh lebih penting buat bertahan.”
Sheila memejamkan mata. Kata-kata itu seperti obat penenang. Lembut, tidak memaksa, tapi menyentuh bagian terdalam dari dirinya yang selama ini sering menolak untuk percaya.
Sesampainya di apartemen, Sheila langsung berjalan ke balkon. Ia butuh udara. Butuh mengeluarkan semuanya, bukan lewat kata, tapi lewat diam.
Galih menyusul beberapa menit kemudian dengan dua mug cokelat hangat di tangannya.
“Ngopi malam-malam nanti kita susah tidur,” katanya, menyerahkan salah satunya.
“Terima kasih.”
Galih berdiri di sebelahnya. Angin malam menyibak rambut Sheila, dan ia tak berusaha mengikatnya. Hanya membiarkannya menari bebas.
“Aku sering mimpiin ibuku, Galih,” bisik Sheila tiba-tiba. “Dalam mimpi, dia masih hidup. Tapi bukan jadi ibu yang lembut, atau penyayang. Dia tetap dingin, seperti yang aku ingat. Tapi dalam mimpi itu, dia menatapku, seolah berkata, ‘Jangan lemah.’”
Galih diam, tidak memotong. Ia tahu, beberapa luka hanya bisa dibagikan, bukan disembuhkan.
“Dan kamu tahu apa yang lucu?” Sheila menatap langit gelap. “Dalam mimpi itu, kamu juga ada. Duduk di sudut ruangan, diam, tapi ada. Dan aku bangun dengan rasa campur aduk. Takut, tapi juga lega.”
“Karena kamu tahu, kamu nggak sendirian lagi.”
Sheila menoleh padanya. “Iya.”
Galih memegang tangannya. “Aku juga punya mimpi aneh, tahu nggak? Aku pernah mimpi kamu ninggalin aku. Tapi kamu ninggalin bukan karena marah, atau benci. Tapi karena kamu ngerasa kamu nggak cukup baik.”
Sheila menunduk.
“Aku bangun dan nangis, Sheil. Dan aku nggak nangis sejak mama ninggalin kita waktu aku SMP.”
Air mata mulai berkumpul di mata Sheila. Ia menarik tangan Galih dan menempelkannya ke dadanya.
“Kalau suatu hari aku kelihatan menjauh, tolong tarik aku balik. Karena aku punya kecenderungan buat kabur kalau aku takut.”
“Aku nggak akan biarkan kamu pergi sejauh itu.”
Dan malam itu, tanpa banyak kata, mereka masuk ke dalam dan menutup pintu balkon.
Galih menarik Sheila ke dalam pelukan saat mereka sampai di kamar. Tidak ada desakan. Tidak ada nafsu memburu. Hanya tubuh ke tubuh. Kulit ke kulit. Hati ke hati.
Sheila mencium Galih di d**a, tempat jantungnya berdetak, dan berbisik, “Aku mau bersama kamu, sampai nanti.”
Galih membalas dengan satu ciuman panjang di bibirnya. “Dan aku akan terus memilih kamu, bahkan kalau dunia bilang aku bodoh.”
Mereka berbaring saling memeluk, tak peduli pada jam yang bergulir atau dunia yang terus bergerak di luar sana.
Malam itu, mereka bukan dua orang yang penuh luka lagi.
Mereka adalah dua hati yang memilih untuk saling mempercayai, sekali lagi—dan untuk seterusnya.
Pagi itu langit Jakarta mendung, dan udara sejuk seperti pertanda bahwa sesuatu akan bergeser. Di apartemen, Sheila sedang mengikat rambutnya dengan tergesa sambil menunggu air mendidih untuk tehnya. Galih sudah bersiap dengan setelan kerja, berdiri sambil menyandarkan diri di dinding, memperhatikan istrinya yang masih sibuk di dapur.
“Kamu nggak sarapan?” tanya Sheila sambil menuang teh.
Galih menggeleng pelan. “Nggak kepingin. Kayaknya perutku udah ribut duluan.”
“Kenapa?” Sheila menoleh. “Mau presentasi besar?”
Galih ragu-ragu. Matanya bergerak pelan menatap lantai.
“Sheil… aku dapet panggilan dari Komite Audit internal pagi ini.”
Sheila berhenti menuang. “Tentang apa?”
“Laporan keuangan kuartal dua. Katanya ada angka yang nggak klop di laporan ekspansi India dan Filipina.”
Sheila langsung berjalan mendekat, meletakkan cangkir di meja, lalu menatap Galih lekat-lekat. “Maksud kamu... dicurigai manipulasi?”
Galih mengangguk perlahan. “Katanya ada pengeluaran sebesar lima juta dolar yang belum tercatat secara rinci. Dan karena aku yang approve laporan ekspansi itu waktu itu, ya... aku diseret duluan.”
Sheila terdiam. Detak jarum jam terdengar lebih keras dari biasanya.
“Kamu tahu aku nggak mungkin main-main soal ini, kan?”
Sheila mengangguk. “Tapi... siapa yang punya akses ke sistem keuangan regional?”
“Wakil CFO dan satu tim khusus ekspansi. Haris termasuk di dalamnya.”
Sheila mendongak. “Adik kamu?”
Galih tertawa hambar. “Ironi ya? Dulu dia bikin skandal pribadi, sekarang malah berpotensi menyeret namaku.”
Sheila menggenggam tangan Galih. “Kamu harus tenang. Jangan emosional. Apapun yang terjadi, kamu harus cari tahu siapa yang main belakang. Dan kamu nggak sendirian.”
Galih memandang istrinya lama, lalu mengangguk. “Terima kasih, Sheil.”
Di kantor pusat My Jewelry, suasana lebih sibuk dari biasanya. Rapat-rapat mendadak dilakukan. Beberapa karyawan terlihat saling berbisik. Tatapan mereka berubah ketika Galih lewat.
Galih tahu itu tatapan yang sama seperti dulu—yang pernah dialami Sheila saat dicurigai mengambil alih The Diamonds Palace dengan motif pribadi. Tatapan yang tidak bicara, tapi menghakimi.
Dalam ruang kaca rapat lantai 17, Komite Audit duduk berjajar. Ada tiga orang eksekutif senior dan satu penasihat hukum.
Galih duduk di kursi tengah, menatap lurus ke depan.
“Terima kasih telah hadir, Pak Galih,” kata salah satu dari mereka, Bu Lestari, Kepala Audit.
“Kami menemukan selisih sebesar 5 juta USD dari total biaya ekspansi Asia Tenggara. Persetujuan pengeluaran muncul dari akun Anda. Dan satu dokumen penting—invoice—menghilang dari sistem.”
Galih menyandarkan diri di kursi. “Apakah sudah dicek akses internal dan riwayat login sistem?”
“Sudah. Dan yang paling mencolok—dokumen terakhir diedit dengan kredensial Haris Sukmawan. Tapi karena dia memakai komputer kantor pusat di ruangan bersama, kami perlu pendalaman lebih jauh.”
Galih memejamkan mata sejenak. Rasa kecewa menggumpal di dadanya. Haris. Lagi-lagi Haris.
“Dia tahu kalau aku yang akan bertanggung jawab di mata publik,” ucap Galih lirih. “Dia bisa pakai akun siapa pun—tapi dia pakai akunnya sendiri, karena dia tahu orang tidak akan langsung curiga padanya. Dia percaya aku akan melindungi dia.”
Komite hanya diam.
“Aku minta waktu dua hari. Biarkan aku turun langsung investigasi,” ucap Galih.
Penasihat hukum menatapnya. “Selama itu tidak mengganggu audit independen, kami bisa izinkan.”
Galih mengangguk, lalu berdiri. “Terima kasih. Aku akan membuktikan siapa yang harus bertanggung jawab sebenarnya.”
Malamnya, Sheila sudah menyiapkan sup jagung hangat dan nasi goreng kampung, makanan favorit Galih saat sedang lelah. Tapi Galih pulang dalam diam. Ia langsung masuk kamar dan duduk di tepi ranjang dengan kepala di antara tangannya.
Sheila mendekat pelan, duduk di lantai depan suaminya. Ia menyentuh lutut Galih. “Mereka percaya kamu?”
Galih hanya tertawa kecil. “Mereka percaya sistem. Dan sistem bilang akunku menyetujui dana yang belum jelas arahnya.”
Sheila menatapnya. “Kalau kamu capek, kamu boleh istirahat. Tapi kalau kamu marah, marahlah. Aku di sini.”
Galih mendongak. “Kamu tahu rasanya dikhianati orang yang harusnya kamu jaga? Haris itu—seburuk apapun dia, tetap adikku.”
“Dan kamu tetap kakaknya. Tapi kamu bukan tameng dia untuk selamanya.”
Galih menatap mata Sheila yang tajam, tapi hangat. “Apa yang kamu lakukan kalau kamu di posisiku?”
“Kalau aku? Aku akan lindungi nama baikku. Tapi aku juga akan temui orang itu. Ngomong empat mata. Karena kadang jawaban nggak ada di laporan audit. Tapi di mata orang yang kita pernah percaya.”
Galih menarik napas panjang. “Besok aku akan temui Haris.”
Sheila berdiri dan menarik tangan Galih. “Sebelum itu, makan dulu. Perang selalu butuh tenaga.”
Di rooftop kantor My Jewelry, keesokan paginya, Galih berdiri menunggu Haris. Langit Jakarta biru pucat. Angin kencang menerbangkan beberapa kertas yang ada di tangan Galih.
Haris datang dengan raut wajah bingung. “Ada apa, Kak? Kenapa harus di rooftop?”
“Aku cuma pengen nggak ada orang denger pembicaraan kita,” jawab Galih pelan.
“Kalau soal laporan itu, aku udah jelasin ke tim audit, dan—”
“Kamu edit dokumen pakai akun kamu, Haris.”
Haris terdiam. Ia mengedip beberapa kali, lalu menunduk. “Aku... waktu itu cuma bantu teman.”
“Teman?” suara Galih naik.
“Vendor. Mereka butuh pembayaran cepat. Kalau enggak, operasional di Filipina bakal berhenti. Aku nggak tahu invoice-nya belum fix. Aku pikir nggak apa-apa.”
“Kamu pakai nama aku, kamu masukin approval lewat alur bypass, dan kamu bilang nggak tahu?”
Haris membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Galih menatap adiknya, kecewa. “Kamu bukan anak-anak lagi, Haris.”
“Aku cuma pengen dianggap mampu, Kak,” jawab Haris akhirnya. “Sejak kecil aku selalu bayang-bayang kalian bertiga. Aku cuma pengen... punya tempat.”
Galih mengusap wajahnya. “Dan kamu pikir, menaruh aku di bawah audit publik itu caranya?”
Haris menunduk. “Aku salah.”
Galih diam lama, lalu berkata, “Besok, kamu akan ke komite dan sampaikan sendiri semua ini. Lengkap. Jujur. Karena kalau kamu nggak lakukan itu, aku yang akan buka semuanya.”
Malamnya, Galih pulang ke rumah dengan napas lega.
“Gimana?” tanya Sheila.
“Dia ngaku,” jawab Galih. “Dia akan bersaksi di depan audit tim. Tapi... aku masih sedih, Sheil.”
Sheila menarik tubuh Galih ke dalam pelukannya. “Kamu boleh sedih. Kamu boleh kecewa. Tapi kamu tetap Galih yang benar. Itu yang penting.”
Galih menghela napas panjang, lalu berbisik di telinga Sheila, “Aku akan tetap pegang semua ini. Tapi kali ini… aku nggak akan berdiri sendiri.”
Sheila mencium pelipisnya. “Karena sekarang kamu punya aku.”