Sudah lewat tengah malam ketika Galih duduk sendirian di ruang kerja apartemennya. Layar laptop menyala redup, menampilkan deretan email belum terbaca dan yang sebagian besar bertuliskan: RE: Urgent – Clarification Needed. Notifikasi masuk dari PR team, hukum, bahkan investor luar negeri berdatangan tanpa jeda sejak tiga jam lalu.
Sheila mendekat pelan, membawa segelas air hangat.
“Kopi ketiga sejak magrib?” tanyanya lembut.
Galih tersenyum kecil, lelah. “Aku kayaknya bisa hidup tanpa tidur minggu ini.”
“Kalau kamu tumbang, siapa yang mau jadi tameng buat semua ini?”
“Bukan tameng. Aku targetnya sekarang.”
Sheila menaruh gelas di meja. Ia duduk di pinggiran kursi kerja Galih, menggenggam lengan suaminya dengan dua tangan.
“Aku di belakang kamu, Galih. Tapi kamu harus kasih ruang buat aku bantu.”
Galih menutup laptopnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menoleh penuh pada Sheila.
“Masalahnya bukan cuma internal, Sheil. Ini udah sampai ke media. Dan salah satu investor utama—Singapura—minta aku mundur dari jabatan CEO selama audit berlangsung.”
Sheila menahan napas. “Apa?”
“Dan kalau aku mundur sementara, kamu tahu apa artinya?”
Sheila mengangguk pelan. “Reputasimu jatuh. Kepercayaan pasar goyah. Dan… kamu jadi kartu mati.”
“Persis.”
Suara hujan mulai terdengar pelan di luar. Petir samar menyambar dari kejauhan, seakan ikut mempertebal gumpalan awan di kepala mereka.
Sheila berdiri dan mulai mondar-mandir pelan. “Oke. Kita pikirkan strateginya. Kamu nggak boleh keluar dari posisimu. Apalagi kalau kamu belum terbukti bersalah. Siapa pihak paling vokal yang dorong kamu mundur?”
Galih menghela napas. “Salah satunya... Reza.”
“Reza?” Sheila berhenti melangkah. “Mantan tunanganku Reza?”
“Yup. Dia datang tadi siang ke rapat dewan. Menyebut bahwa aku mungkin menyalahgunakan wewenang sebagai CEO dan perlu... digantikan sementara demi kestabilan perusahaan.”
Sheila nyaris tertawa—tapi tertawa yang getir. “Tentu saja dia memanfaatkan momen ini.”
Galih berdiri. “Aku nggak takut. Tapi aku muak. Kayak... semua pencapaian kita selama ini bisa dilenyapkan karena satu momen rapuh.”
Sheila melangkah mendekat. “Itu bukan cuma pencapaian kamu. Itu hidup kita. Dan kalau mereka mau main kasar... kita juga bisa main cerdas.”
Keesokan harinya, Sheila datang ke kantor The Diamonds Palace dengan langkah cepat. Devi menatapnya dengan kening berkerut.
“Kamu ada rapat?” tanya Devi, heran karena bosnya datang tanpa make-up lengkap dan rambut masih dikuncir sederhana.
“Lebih penting dari rapat. Aku mau bicara sama Reza.”
Devi langsung berdiri. “Kamu yakin?”
Sheila berhenti di depan cermin kecil di dinding, menarik napas, lalu tersenyum. “Aku tidak akan berteriak. Aku hanya akan mengingatkan dia... bahwa yang dia injak sekarang, adalah hidupku juga.”
Sheila menemui Reza di sebuah lounge hotel tempat ia biasanya menerima klien luar. Pria itu menatapnya santai, seolah pertemuan ini hanyalah reuni biasa antara dua mantan kekasih yang berpisah baik-baik.
“Kamu kelihatan... tangguh,” sapa Reza sambil menyisip kopi.
Sheila duduk perlahan. “Aku memang tangguh. Jadi kamu mungkin bisa berhenti berpura-pura khawatir atas ‘stabilitas perusahaan’ yang kamu bilang waktu rapat kemarin.”
Reza tersenyum miring. “Kamu masih mudah marah rupanya.”
“Aku nggak marah. Aku hanya jijik.”
Reza mengangkat alis. “Karena aku minta suamimu diberhentikan sementara?”
“Karena kamu nggak jujur pada dewan. Kamu tahu masalahnya bukan Galih. Kamu tahu siapa yang terlibat.”
Reza bersandar santai. “Aku hanya menyampaikan kekhawatiran para investor.”
Sheila mencondongkan tubuh ke depan. “Kamu cuma pakai situasi ini buat balas dendam pribadi. Aku tahu kamu masih kesel karena aku yang putuskan pernikahan kita. Tapi menyeret karier Galih—hanya karena kamu nggak bisa melupakan masa lalu? Itu pengecut.”
Reza menatap Sheila tajam. Tapi Sheila tak mengalihkan pandangan.
“Apa yang kamu mau, Sheil?”
“Kamu mundur dari permintaanmu ke dewan. Biarkan proses berjalan. Jangan buat Galih jadi tumbal politik internal.”
Reza menghela napas. “Dan kalau aku nggak mau?”
Sheila menatapnya lekat. “Maka aku akan bawa data seluruh pergerakan sahammu—dan koneksimu dengan vendor-vendor yang dulu kita tolak—ke dewan. Kamu tahu aku punya akses itu.”
Mata Reza menyipit. “Kamu ngancam aku?”
Sheila berdiri. “Aku mempertahankan suamiku. Dan kali ini, aku tidak pakai cara lembut.”
Di ruang rapat keesokan harinya, Reza duduk dengan wajah tenang. Tapi saat rapat dimulai, ia tiba-tiba mengangkat tangan.
“Sebelum kita melanjutkan, saya ingin mengoreksi pernyataan saya sebelumnya tentang saudara Galih Sukmawan. Saya menyadari bahwa investigasi belum final, dan meminta pengunduran dirinya bukan langkah bijak. Saya cabut permintaan saya, dan saya pribadi meminta maaf.”
Semua mata tertuju pada Reza. Beberapa anggota dewan terlihat bingung, yang lain hanya mengangguk kaku. Galih sendiri diam. Hanya memandangnya. Tidak sombong. Tidak sinis. Tapi cukup untuk membuat Reza menunduk sejenak.
Sore itu, Galih pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Ia membawa dua kotak kecil di tangannya—favorit Sheila: roti pandan kukus dan es krim kelapa dari toko kecil di Kemang.
Saat Sheila membuka pintu, Galih hanya tersenyum.
“Penebusan kecil dari CEO sementara yang hampir jatuh.”
Sheila terkekeh. “Kalau jatuh, aku akan tangkap.”
Galih masuk, menaruh kotak di meja. “Kamu ngomong sama Reza?”
Sheila mengangguk.
“Kamu bilang apa?”
Sheila tersenyum, lalu duduk di sofa. “Aku bilang kalau dia harus berhenti menyimpan dendam. Dan kalau dia masih keras kepala, aku akan... hancurkan semua yang dia simpan rapi.”
Galih menatap istrinya, setengah kaget, setengah bangga. “Kamu selalu seganas itu?”
“Kalau yang diserang adalah kamu?” Sheila mendekat. “Lebih.”
Galih memeluknya lama.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, napas Galih terasa ringan.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena di keesokan paginya, media besar merilis berita: “Galih Sukmawan Diduga Menutupi Skandal Dana—Perusahaan Tunggu Langkah Hukum Resmi.”
Dan kali ini, sumber berita bukan dari laporan internal, bukan juga dari spekulasi...
Melainkan dari seseorang yang hanya muncul di rapat terbatas.
Seseorang yang sangat dekat dengan keluarga.
Seseorang yang Galih tahu... tidak akan berhenti sampai semuanya runtuh.