Bab 29

1049 Kata
Koran pagi itu tergeletak di depan pintu apartemen, seperti biasa. Koran masih Ia butuhkan untuk melihat berita cetak. Tapi yang tidak biasa adalah warna merah besar di halaman utama: “Galih Sukmawan Diduga Terlibat Manipulasi Dana Ekspansi – Sumber Internal Keluarga Angkat Bicara.” Sheila membeku. Matanya terpaku pada kutipan yang ditulis miring di bawah judul: “Sudah lama dia terlalu dominan. Dia pikir perusahaan keluarga bisa dikendalikan dengan idealismenya. Sekarang saatnya semua terbuka.” – Narasumber: anggota keluarga internal (inisial disamarkan) Sheila meremas surat kabar itu, menahan amarah yang menggelegak. Tak lama, Galih keluar dari kamar dengan kemeja setengah dikancing. Melihat wajah Sheila yang pucat dan rahangnya yang menegang, Galih langsung tahu—ada sesuatu yang buruk. “Apa lagi?” Sheila diam, lalu menyerahkan koran yang sudah kusut itu. Galih membacanya pelan. Semakin ke bawah, ekspresinya membatu. “'Sudah lama dia terlalu dominan…'” Galih membacakan kutipan itu pelan. “Mereka benar-benar mulai buka dapur keluarga sekarang.” “Kamu tahu siapa yang ngomong?” tanya Sheila hati-hati. Galih menghela napas panjang. “Aku tahu.” Sheila duduk. “Siapa?” Galih menatapnya, matanya murung. “Jenny.” “Jenny? Adikmu?” “Adik tiriku. Putri Ibu dari pernikahannya dengan Topan.” Galih menoleh ke jendela. “Dia tinggal di London sekarang. Tapi sejak Papa wariskan saham minoritas padanya tiga tahun lalu, dia punya kursi di pertemuan pemegang saham. Dan... dia selalu tidak suka padaku.” Sheila perlahan mulai mengingat satu-dua obrolan ringan tentang Jenny yang pernah disinggung Galih. Gadis yang dulu manja, disayang ibunya mati-matian, dan punya ambisi besar meski posisinya selalu di luar lingkar utama Sukmawan Group. “Tapi kenapa sekarang?” bisik Sheila. Galih duduk di pinggir meja. “Karena selama ini dia merasa ditinggalkan. Dan... karena dia pikir ini waktunya membuktikan bahwa dia bisa mengendalikan sesuatu juga.” Sheila menelan ludah. “Berarti dia yang kasih data ke media?” “Hanya orang yang hadir di rapat audit kemarin yang tahu rincian laporan internal sebelum rilis publik. Dan cuma Jenny yang nggak ditegur atau dipertanyakan selama rapat. Dia tenang sekali. Terlalu tenang.” Sheila menggenggam tangannya. “Kamu harus bicara sama dia.” Galih menggeleng. “Nggak, aku harus lebih dari bicara. Aku harus pastikan dia nggak pakai namaku buat membangun kekuasaan.” Siang itu, Galih terbang ke Singapura untuk menghadiri pertemuan pemegang saham terbatas, di mana Jenny kini tinggal sementara untuk "menjalankan proyek"—yang menurut Galih, tidak lebih dari manuver mencari panggung. Sheila tidak ikut. Tapi sebelum Galih pergi, ia menyiapkan berkas tambahan dan satu dokumen legal yang selama ini mereka simpan: kontrak restrukturisasi saham yang menyatakan bahwa pemegang minoritas tidak boleh mempengaruhi manajemen tanpa sidang resmi. Di atas pesawat, Galih duduk sendirian dengan headset, menatap ke luar jendela. Semua percakapan di kepalanya berputar. Tentang masa kecil, tentang ibunya yang sering lebih memihak Jenny karena rasa bersalah—karena Jenny tumbuh tanpa ayah kandung yang utuh, dan karena Galih dianggap “terlalu kuat untuk butuh kasih sayang”. Jenny kecil dulu sering memanggil Galih dengan “Mas”—dengan manja dan tawa lepas. Tapi sejak mereka remaja, sesuatu berubah. Jenny jadi pendiam. Jarak mereka terbentuk sejak Galih dikirim ke Australia dan Jenny tinggal di rumah, jadi anak emas yang kesepian tapi dimanjakan. Galih tahu. Bahkan waktu Jenny tidak pernah mengatakan apa-apa, ia tahu: adik tirinya itu menyimpan kemarahan yang dalam. Pertemuan mereka berlangsung di sebuah ruang konferensi kecil di kantor perwakilan perusahaan di Marina Bay. Jenny datang dengan blazer hitam dan sepatu tinggi, make-up tipis tapi tegas. Wajahnya sudah dewasa, tapi ada guratan kepahitan yang tidak berubah. “Jadi kamu datang juga,” kata Jenny, tersenyum tipis sambil duduk. “Kamu bikin berita. Aku nggak bisa diam,” sahut Galih tanpa basa-basi. Jenny menatap Galih. “Berita itu akan keluar, cepat atau lambat. Aku cuma mempercepat.” “Dan kamu sengaja pakai kalimat seperti itu—supaya semua orang tahu kamu bicara tentangku.” Jenny membungkuk ke depan. “Apa kamu pikir aku nggak capek, Galih? Selama ini, kamu duduk di kursi CEO, dipuja semua orang, dibilang jenius. Sementara aku? Diperkenalkan sebagai 'adik sambung Galih.' Hanya bayangan dari prestasimu.” Galih menghela napas. “Aku nggak pernah minta itu.” “Ya, tapi kamu juga nggak pernah berhenti jadi sempurna. Itu masalahnya.” “Jadi sekarang kamu balas dendam? Dengan mengorbankan perusahaan sendiri?” Jenny diam sesaat. “Aku hanya ingin kursi yang setara.” “Setara bukan berarti kamu harus menjatuhkan orang lain.” Jenny berdiri, suaranya sedikit bergetar. “Setara berarti aku diakui. Bukan cuma ‘adik tiri yang manja dan selalu gagal’. Aku juga kerja. Aku juga punya otak. Tapi orang-orang nggak peduli karena selama ini kamu terlalu bersinar.” Galih menatap Jenny lama. “Aku bersinar karena aku berdarah juga, Jen.” Jenny terdiam. “Selama kamu berpikir bahwa aku musuhmu, kamu akan selalu kalah. Karena kamu bukan bersaing melawan aku. Kamu bersaing melawan bayangan di kepalamu sendiri.” Jenny mengalihkan pandangan. “Aku nggak minta diampuni.” “Aku nggak di sini buat maaf-maafan,” ucap Galih. Ia menyerahkan dokumen di atas meja. “Tapi aku ingatkan kamu. Ada batasnya permainan ini. Kamu punya kursi karena papa kasih. Tapi papa juga yang kasih batas. Jangan lewati itu.” Jenny membaca sejenak. Lalu, suaranya berubah. “Kamu pikir ini akan menghentikan aku?” “Aku tahu kamu terlalu cerdas untuk terus memaksa jalur licik. Kalau kamu mau diakui, Jen, berjuanglah di jalur yang bersih. Tunjukkan kamu bisa. Bukan dengan menjatuhkanku. Tapi dengan membuktikan kamu pantas berdiri sendiri.” Jenny tak menjawab. Tapi matanya mulai memerah. Galih mendekat, menatapnya lembut. “Aku tahu kamu kesepian. Tapi kamu bukan sendirian.” Jenny menunduk. Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia tidak menolak tangan yang diletakkan Galih di bahunya. Malam itu, Galih kembali ke Jakarta. Sheila menunggunya di sofa dengan sweater besar dan mata yang sudah nyaris terpejam. Begitu pintu dibuka, ia berdiri, memeluk Galih erat. “Gimana?” Galih memejamkan mata dalam pelukan. “Capek.” “Dia nyerah?” “Belum. Tapi dia berhenti menyerang.” Sheila menarik napas lega. “Berarti… kita bisa bernapas sebentar?” Galih tersenyum. “Mungkin. Tapi kamu tahu hidup kita, kan?” Sheila terkekeh. “Iya. Damai cuma jeda sebelum badai berikutnya.” Dan mereka pun tertawa. Lelah. Tapi bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN