Hari Senin yang biasanya sibuk berubah menjadi sunyi ketika Galih memasuki lobi utama kantor My Jewelry. Kantor itu masih sama, masih penuh intrik. Langkahnya masih tegas, namun sorot mata para karyawan yang memandanginya penuh bisik dan ragu. Penih dengan penasaran. Tidak ada senyum, tidak ada ucapan "pagi, Pak", hanya lirikan yang cepat-cepat dibuang ke arah lain saat Galih balas menatap.
Ia menarik napas panjang sebelum melangkah ke lift. Hari ini, bukan hanya tekanan internal yang harus dihadapi. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, penyelidikan dari pihak berwenang akan dimulai. Bukan lagi sekadar audit internal. Kali ini, Otoritas Jasa Keuangan dan Kejaksaan sudah turun tangan.
Dan itu artinya: segalanya bisa berubah dalam satu pernyataan.
Di ruang rapat lantai 21, suasana lebih formal dari biasanya. Ada dua orang bersetelan gelap dari lembaga hukum yang duduk berdampingan, dengan berkas-berkas tebal dan tatapan profesional yang tidak menyisakan ruang untuk basa-basi. Lampu gantung di atas meja memantulkan cahaya putih yang tajam, menciptakan siluet serius di wajah-wajah yang hadir.
Galih duduk di seberang mereka, didampingi penasihat hukum perusahaan dan CFO barunya—orang kepercayaannya sejak lima tahun lalu. Kemeja Galih berwarna abu-abu muda, jasnya rapi tanpa cela, tetapi tatapannya menyimpan ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Di depannya, secangkir kopi hitam masih utuh, uapnya sudah tidak lagi mengepul.
Papan tulis digital di belakang ruangan memunculkan proyeksi dokumen yang akan mereka bahas hari itu—semua berkaitan dengan audit internal dan dugaan ketidaksesuaian yang muncul beberapa minggu terakhir. Ini bukan rapat biasa. Ini adalah awal dari proses investigasi formal yang bisa menentukan arah masa depan perusahaan.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik pertama. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Lalu, salah satu pria bersetelan gelap membuka berkas dan mulai berbicara, suaranya tenang tapi penuh bobot.
“Terima kasih sudah menerima kami, Pak Galih. Kami harap pertemuan hari ini bisa berjalan dengan terbuka dan profesional.”
“Pak Galih, kami mengerti bahwa Anda berada dalam posisi sulit. Kami tidak menyimpulkan kesalahan sejak awal. Tapi kami butuh kerja sama total untuk menyelesaikan penyelidikan ini secepat mungkin,” ucap salah satu petugas.
Galih mengangguk. “Saya bersedia menjawab semua pertanyaan. Dan saya juga sudah siapkan data mentah—termasuk log aktivitas akun saya dalam sistem.”
Petugas mencatat sesuatu. “Kami juga akan melakukan verifikasi aset pribadi dan aliran transaksi yang berhubungan langsung dengan Anda. Hanya formalitas.”
Galih tahu: ini bukan hanya formalitas. Ini adalah ujian. Dan yang dinilai bukan hanya angka, tapi integritasnya sebagai pemimpin.
Sore harinya, Sheila menerima pesan dari Devi. Ia sedang berada di studio pemotretan lini wedding terbaru, namun pesan itu membuatnya terdiam beberapa detik:
“Kamu sudah lihat berita sore ini? Mereka mulai menyebarkan teori bahwa kamu dan Galih bersekongkol.”
Sheila langsung membuka portal berita. Headline berjudul “Galih dan Sheila: Pasangan Ambisius di Balik Skandal Dana?” terpampang jelas di layar. Isinya adalah gabungan narasi lama dan baru—tentang masa lalu Sheila sebagai pemilik saham The Diamonds Palace, kedekatannya dengan vendor ekspansi, dan pertemuannya dengan Reza yang disalahartikan sebagai lobi kekuasaan.
Ia menarik napas pelan. Mengingatkan diri untuk tidak terpancing.
Tapi saat ia pulang dan melihat wajah lelah Galih yang sedang melepaskan jam tangan di sofa, ia tak bisa menahan diri.
“Media mulai seret aku juga,” ujarnya pelan.
Galih mendongak. “Aku tahu. Tim legal udah kirim draf sanggahan. Tapi mereka... licik. Mereka tahu kita pasangan. Jadi logika publik gampang dimanipulasi.”
Sheila duduk di sebelahnya. “Aku nggak takut difitnah. Tapi aku takut... kalau kamu merasa ini semua salahku.”
Galih langsung menoleh. “Sheila. Dengar aku baik-baik. Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan bisa berdiri setegak ini di tengah badai.”
“Tapi... aku tahu kamu juga capek harus ‘melindungi’ aku dari serangan publik. Apalagi kalau itu menyangkut bisnis.”
Galih meraih tangannya. “Aku bukan ‘melindungi’ kamu. Kita pasangan, Sheil. Kita melindungi satu sama lain.”
Sheila menunduk, lalu berbisik, “Kamu nggak perlu pasang wajah kuat tiap waktu, Galih. Kamu boleh lelah. Kamu boleh marah.”
Galih tersenyum tipis. “Aku marah. Tapi bukan sama kamu. Aku marah karena dunia ini selalu lebih cepat menyalahkan daripada mencari tahu.”
Sheila menggenggam jari-jari suaminya. “Kita hadapi sama-sama.”
Keesokan paginya, tekanan meningkat. Media mulai menyergap para karyawan di lobi kantor. Beberapa influencer bisnis mulai membuat video analisis tentang “jatuhnya imperium Sukmawan” dan “bagaimana kekuasaan suami-istri bisa mengaburkan transparansi perusahaan”.
Sheila bahkan harus menunda peluncuran lini terbarunya karena salah satu brand ambassador membatalkan kontrak—takut citranya ikut tercoreng.
Di ruang kerjanya, Sheila menatap selembar surat pembatalan itu lama. Lalu bangkit dan berdiri menghadap jendela tinggi yang memperlihatkan cakrawala Jakarta.
Satu tahun lalu, hidupnya adalah ring tinju. Dan sekarang, dia ada di tengahnya lagi.
Tapi kali ini, dia tidak sendiri.
Sementara itu, Galih diminta hadir dalam pertemuan tertutup dengan para investor besar di sebuah hotel di SCBD. Beberapa dari mereka sudah mengalihkan sahamnya sebagian, dan sebagian lagi mempertanyakan keterlibatan Galih dalam setiap keputusan dana ekspansi.
Seorang investor dari Hong Kong bertanya tajam, “Apa jaminannya kalau Anda tetap memimpin, perusahaan tidak kehilangan kepercayaan pasar?”
Galih berdiri perlahan, suaranya tenang tapi tegas. “Saya tidak akan menjanjikan jalan mulus. Tapi saya jamin satu hal—kejujuran. Dan jika pada akhirnya saya terbukti bersalah, saya akan mundur tanpa drama. Tapi selama proses berjalan, saya minta kalian memberi ruang bagi kebenaran untuk bicara.”
Ruang sunyi sejenak.
Investor utama dari Swiss mengangguk pelan. “Kami akan menunggu hasil penyelidikan. Tapi tolong, jaga komunikasi terbuka.”
Galih membungkuk hormat. “Itu janji saya.”
Malamnya, mereka berdua duduk di ruang tengah. TV menyala tapi tidak ditonton. Hujan turun deras di luar.
“Galih,” ujar Sheila tiba-tiba, “Kalau nanti kamu diminta istirahat sementara dari jabatan, kamu akan... setuju?”
Galih berpikir sejenak, lalu berkata pelan, “Kalau itu satu-satunya jalan agar perusahaan tetap dipercaya, iya.”
Sheila menoleh padanya. “Dan kamu yakin... itu keputusan yang benar?”
Galih menatap istrinya. “Yang benar kadang bukan yang menyenangkan. Tapi aku lebih takut kehilangan prinsip daripada kehilangan jabatan.”
Sheila memeluk lengan suaminya, menyandarkan kepala ke bahunya. “Aku bangga padamu. Apapun hasil akhirnya.”
Dan saat petir membelah langit, mereka berdua tahu—badai belum berlalu. Tapi fondasi di antara mereka semakin kuat.
Karena dalam dunia yang gemar menjatuhkan, cinta yang bertahan dengan kepala tegak adalah bentuk paling langka dari keberanian.