Pagi itu langit tampak cerah, ironis sekali dengan suasana hati Galih yang jauh dari tenang. Di meja makan apartemen, Sheila duduk diam dengan laptop menyala, sementara Galih berdiri di balkon, memandangi jalanan Sudirman yang mulai padat.
“Rapat hari ini... terbuka, ya?” tanya Sheila tanpa menoleh.
Galih mengangguk, masih dengan punggung menghadap ruangan. “Ya. Undangan terbuka untuk media, perwakilan hukum, investor, dan... tim jaksa khusus.”
Sheila menutup laptopnya dan berdiri. “Berarti mereka siap buka semua di ruang publik.”
“Itu yang paling bikin aku deg-degan. Sekalinya kesimpulan salah diumumkan ke publik, akan sangat susah ditarik kembali.”
Galih menoleh. “Dan kalau mereka mulai membentuk opini sebelum fakta selesai diungkap, yang kita pertaruhkan bukan cuma jabatan—tapi kehormatan.”
Sheila berjalan pelan mendekat, memegang lengan suaminya. “Kalau kamu masih memilih berdiri hari ini, aku akan duduk di bangku paling depan.”
Galih memeluknya sebentar. “Aku nggak akan tahan duduk di kursi itu sendirian, Sheil. Jadi... terima kasih.”
Ruang konferensi ballroom lantai 5 hotel ternama di Jakarta penuh sesak. Wartawan duduk rapi dengan ID tergantung di leher. Beberapa kameramen stasiun TV nasional menata tripod dan memeriksa mikrofon. Para investor duduk di bagian depan, wajah mereka tegang namun masih tenang. Jaksa pengawas duduk bersebelahan dengan penasihat hukum perusahaan.
Galih duduk di kursi tengah barisan depan, didampingi dua pengacara senior. Wajahnya tegas, tapi matanya jujur. Ia tidak lagi membawa senjata selain satu: integritas.
Sheila duduk tidak jauh di belakangnya, ditemani oleh Devi dan CFO senior dari The Diamonds Palace. Wajah Sheila diam, tapi matanya tajam memantau segala detail.
Sidang terbuka itu dimulai pukul 10 pagi.
Perwakilan kejaksaan memulai dengan penjelasan singkat bahwa investigasi sedang berlangsung terhadap dugaan penyalahgunaan dana ekspansi My Jewelry ke Asia Tenggara. Mereka menyebut bahwa dokumen yang dipalsukan menyiratkan keterlibatan pihak internal, dengan otorisasi akhir yang tertulis menggunakan akun CEO.
“Namun,” ujar jaksa, “kami belum menetapkan tersangka. Hari ini, kami membuka kesempatan kepada semua pihak yang ingin menyampaikan keterangan tambahan.”
Semua diam.
Lalu, suara seorang wanita terdengar dari sisi kiri ruangan.
“Saya.”
Semua kepala menoleh.
Sheila membeku.
Galih menatap dengan dahi mengernyit.
Wanita yang berdiri itu mengenakan setelan abu-abu, dengan rambut digulung rapi ke belakang. Wajahnya familiar... terlalu familiar.
Devi berbisik pelan, “Itu... mantan asistennya Haris, bukan?”
Sheila mengangguk perlahan. “Nadia.”
Nadia melangkah ke depan dengan langkah tenang, lalu berdiri di podium yang disediakan.
“Saya Nadia, mantan bagian logistik proyek Filipina. Saya datang bukan sebagai terdakwa, tapi sebagai saksi. Saya tahu siapa yang memasukkan data palsu itu.”
Suasana ruangan berubah drastis.
Para wartawan langsung bersiap dengan perekam suara.
“Saya yang disuruh memasukkan invoice palsu ke sistem, atas permintaan Pak Haris Sukmawan,” kata Nadia tenang. “Waktu itu, dia bilang ini hanya transaksi bridging, dan akan diperbaiki setelah audit awal. Tapi... setelah saya tanya dua kali, dia marah dan ancam mutasi saya ke cabang paling kecil.”
Jaksa menatap tajam. “Kapan ini terjadi?”
Nadia menjawab pasti. “Dua minggu sebelum audit berlangsung.”
Sheila menahan napas.
Galih menatap lurus pada saksi itu, tidak berkata apa-apa. Hanya rahangnya yang mengeras.
“Saya punya bukti chat, dan rekaman suara. Termasuk rekaman saat saya dikunci di ruang kerja selama tiga jam dan dipaksa menyelesaikan entri data ke sistem. Semua ini saya serahkan kepada tim hukum.”
Ruangan langsung ramai.
Galih memejamkan mata. Rahangnya mengeras, menahan luapan emosi yang hampir tak terbendung. Sheila menunduk, jemarinya meremas kuat rok panjang berwarna gading yang sejak pagi terasa terlalu hangat menempel di kulit. Tapi kali ini, bukan karena gugup, bukan karena malu—melainkan karena keteguhan yang selama ini ia pertahankan dalam diam mulai terasa berarti.
Dan tiba-tiba, pertarungan yang semula berat sebelah mulai menemukan titik keseimbangan. Kata-kata Sheila yang tadi terdengar di ruang sidang—dengan suara tenang, meski sedikit bergetar—berhasil memecah narasi sepihak yang selama ini membungkus kasus itu. Ia tidak membela Galih secara membabi buta, tapi ia juga tidak menyerah pada tekanan opini publik. Ia hanya berkata jujur, dan kejujuran itu menggema jauh lebih kuat daripada suara siapa pun yang mencoba menenggelamkannya.
Setelah sesi terbuka berakhir, Galih berjalan keluar ruangan dengan langkah mantap. Di sampingnya, Sheila berjalan sejajar, tanpa saling menyentuh tapi terasa seirama. Ada semacam perisai tak terlihat di antara mereka, seolah dunia luar tak bisa menembusnya.
Wartawan mencoba mendekat, mikrofon dan kamera saling berlomba menembus kerumunan, meneriakkan nama Galih dan Sheila. Tapi pengamanan hotel yang siaga sejak pagi sudah membentuk barikade, melindungi keduanya dari serangan pertanyaan yang tak diundang. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Galih merasa ia tidak sendirian menghadapi semuanya.
Di koridor belakang, Galih berhenti dan menunduk.
Sheila menyentuh bahunya. “Kamu nggak perlu malu.”
“Aku marah,” kata Galih pelan. “Marah karena harus sampai segininya dulu... sebelum kebenaran mau didengar.”
“Kamu juga boleh lega,” kata Sheila, menatapnya. “Karena akhirnya... kebenaran itu muncul. Bukan karena kamu memburu, tapi karena orang yang menyaksikan memilih bicara.”
Galih tersenyum miris. “Aku harus minta maaf sama Nadia nanti.”
Sheila menggenggam tangannya. “Dan kamu harus mulai memulihkan apa yang rusak di publik. Ini belum selesai, Galih. Tapi kamu sudah menyelamatkan pondasinya.”
Sore itu, media online berubah nada. Judul-judul yang semula menjatuhkan mulai menggunakan diksi “saksi kunci”, “fakta baru”, dan “data terverifikasi”.
Komentar di media sosial mulai terbagi. Meski sebagian masih skeptis, banyak yang menulis:
“Kalau benar Galih tidak bersalah, ini bisa jadi pelajaran soal betapa berbahayanya menilai seseorang dari potongan kabar.”
“Kita terlalu cepat melabeli. Salut buat CEO yang tetap tenang.”
Dan di tengah komentar-komentar itu, ada satu yang membuat Sheila meneteskan air mata:
“Terima kasih buat Sheila yang tetap berdiri di belakang suaminya. Bukan karena buta. Tapi karena percaya.”
Malam itu, mereka duduk berdua di ruang tengah. Musik pelan dari speaker menyelimuti ruangan. Lampu dimatikan, hanya nyala lampu dapur yang memantulkan siluet tubuh mereka di dinding.
Galih menatap Sheila. “Aku sering bertanya-tanya… kenapa kita dijatuhkan dengan cara yang paling menyakitkan. Tapi sekarang aku tahu jawabannya.”
“Apa?”
“Supaya kita bisa berdiri... bukan dengan nama, bukan dengan jabatan, tapi dengan nilai-nilai yang nggak bisa dicuri siapa pun.”
Sheila memejamkan mata sejenak, lalu menatap Galih. “Kamu sadar nggak? Dulu kita saling pilih karena marah. Karena ingin membuktikan sesuatu.”
Galih mengangguk pelan.
“Tapi sekarang... aku memilih kamu karena kamu rumah.”
Galih menarik tubuh Sheila ke pelukannya.
Di luar, kota tetap riuh. Lampu-lampu kendaraan berpendar di jalanan yang tak pernah tidur, hiruk pikuk dunia tak mengenal jeda. Tapi di dalam sana, dua manusia bertahan melewati fitnah, penghakiman, dan badai hukum—tanpa kehilangan cinta. Bahkan dalam senyap, mereka saling menggenggam tanpa perlu bicara.